generated by sloganizer.net
Showing posts with label Uneg-uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg-uneg. Show all posts

Wednesday, January 28, 2009

Batam dan Common Sense

Senin kemarin liburan Imlek kami ke Batam.
sekedar refreshing sekalian kalibrasi lidah hehehe..

Entah kenapa aku selalu kesal kalau lihat pulau satu ini..
kesal karena rasanya sayang melihat potensinya yg gak tergarap maksimal..
kesal dengan tidak adanya perubahan apa2 yg berarti, yg ke arah perbaikan tiap2 tahun kami berkunjung ke sana..

Pertama berangkat dari Harbourfront, Singapura. Perasaan tergesa-gesa sudah muncul, tapi paling tidak ini bisa diatasi dengan lengkap dan selalu di-update nya info terkini buat kami para penumpang.

Kami tahu berapa menit lagi kapal kami berangkat, kami tahu di pintu mana kami harus bersiap, kami tahu dan yakin bahwa kami pasti akan dapat tempat duduk tanpa harus berebutan.

Tiba di Batam..

Turun dari perahu, semua orang berlari berlomba menuju ke Imigrasi.
Bukan.. bukan karena hujan gerimis atau karena bangunan dermaganya yg sudah reyot lapuk dibandingkan Harbourfront yg mentereng.. tapi karena tidak adanya jalur antrian di Imigrasi!

Tidak ada juga pengumuman bagi mereka yg butuh Visa on Arrival, tidak ada petugas yg sigap mengatur barisan, ditambah lagi loket yg dibuka cuma 3... alamakjang..
Macam gk ada otaknya aja orang2 ini.. sudah tahu ada 3 kapal merapat di jam itu, loket yg dibuka cuma tiga!!

betul-betul dah..

Soal masang jalur antrian, apalah susahnya masang tali kalo memang anggaran buat beli pembatas yg mahal gak ada. Tali rafia pun jadi!! yg penting orang gak tetumpuk2, berebut2..
Terus yg gampang2 ajalah.. jangan pula orang ngantri itu disuruh baris berbanjar macam mau upacara bendera, bikinlah dia meliuk-liuk spt ular! cukup dengan 1 jalur keluar saja!

Sudah tahu itu kantor imigrasi besarnya gak lebih besar dari Musholla di Nagoya Hill, eh malah antriannya dibikin memanjang sampai2 ujungnya ada di dermaga!

Lepas dari situ, kekecewaan kedua kami selalu soal transportasi..
Batam ini tempat wisata yg termasuk favourit orang2 Singapur dan Malaysia, en karakteristik orang2 di dua negara ini sama.. 'Gak mau susah!'

Kenapa sih gak sekalian Batam nyediain segala sesuatunya yg bikin mudah wisatawan?
Taksi misalnya, wajibin pake argo. Trus kudu terdaftar. tangkep2in dah tuh taksi2 gelap yg jalan. Yang penting buat wisatawan itu gak ada kekhawatiran karena harus tawar menawar, takut ditodong karena taksinya gk ketauan resmi apa enggak.

Terus itu jalan2nya kota Batam kenapaaaaaaa gak dibuat bagus sekalian, dikasih lampu penerangan kek dari pelabuhan ke arah kota, dilebarin atau minimal dicantikin deh kanan-kirinya..

Hal-hal yg kecil2 aja buat bikin wisatawan betah ke Batam.

Kalo sekarang ini kok rasanya serba tanggung, Batam ini mau jadi kota industri enggak juga.. mau dibilang pelabuhan.. kok ya masih jauh... mau dibilang tujuan wisata.. kok orang dateng gak disambut semestinya..

serba nanggung, seolah-olah gak ada pemerintahan yg ngejalanin kotanya. Gak ada tanda-tanda planning yg berjalan.
Kalo pemerintahan yg mungut pajak sih ada, cuma kalo soal ngejalanin kota sehari2 diserahin ke preman-premannya masing2 kali.. hehehe

Beberapa kali kami ke Batam selalu gagal menemukan moda angkutan umum selain Taksi. Entah kenapa kok di batam gk ada bus kota yg beroperasi (apa gw aja yg belum nemuin?), padahal dengan ukuran pulau yg gak terlalu besar sementara banyak obyek yg bisa dikunjungi di seluruh penjuru kota, kalau ada Bus kota yg beroperasi pasti jauh lebih menyenangkan buat wisatawan.

Well... singkat cerita, kamipun kembali ada di pelabuhan Batam Center. Bersiap mau menyeberang kembali.

Acak adul nampak mulai dari pemeriksaan barang bawaan, mesin scannernya ternyata belepotan kopi (entah siapa mahluknya yg numpahin kopi disitu) tepat di landasan keluarnya tas-tas.. So, para penumpang pun terpaksa menahan tasnya biar gk meluncur turun en ini bikin tas-tas lain 'stuck' gk bisa bergerak...

Yang bikin kagum adalahhh.... di sebelah si mesin itu ada petugas kebersihan yg lagi ngepel!! en mas-mas itu dengan bangganya memakai sebuah lap putih bersih di pinggangnya.. buset dah..
there's no way he didnt see what happened at the machine, yet he chose to ignore and walk away with his mopping!

dah.. turun ke bawah tempat nunggu Ferry..
di layar TV (yg tulisannya kuecil banget cing!), tertera ada 4 kapal yg akan berangkat...
- Waterfront 1 21.00
- Batamfast 21.00
- Penguin 21.00
- Penguin 21.10

cuma ada 2 pintu....
gak ada pengumuman, penumpang buat kapal mana yg kudu siap2 di depan pintu....
gak ada jalur antrian... (sekali lagi kalo emang beli pembatas mahal, pake tali rafia!!!! peduli amat sama gengsi en estetika!!!!)

akhirnya semua calon penumpang berjubel2 menuhin pintu...
si petugasnya macam gak ada dosa, satupun tak nampang batang hidungnya..
minimal ngomong kek pake mikropon... "Cuma penumpang Waterfront yg bersiap. Yang lain tetap duduk!", misalnya.

Dan.. sodara2... 15 menit sebelum jam 21.00 pintu dibuka!!
eng.. ing.. eng... semua merangsek maju (pintu dijaga 2 pria berseragam dengan jaket kulit, kumis melintang, berkacamata, sabar, telaten, humoris :P)

semua penumpang berebut ke depan.. maju selangkah demi selangkah...
mendorong kanan-kiri... sikut yg depan.. tendang yg belakang...

anak-anak kecil kejepit.. orang-orang tua jadi kebelet pipis..
pemuda-pemuda pada ambil kesempatan.. pemudi-pemudi pada saling berpelukan...

akhirrnyyaaa.... setelah mereka sampai di depan 2 pria berseragam itu..
tiket diperiksa.. dan siap2 kecewa ternyata "cuma batamfast ya!! cuma batamfast!!! yg lain duduk kembali!!!!" dalam BAHASA INDONESIA...

sementara dari wajah2 calon penumpang terlihat... rambut kriting kulit gelap sambil kepala terus menerus menggeleng2... wangi2nya wangi biryani.... ada lagi yg rambut lurus kulit kuning mata agak sipit... sambil terus menerus celingukan... wangi2nya wangi bawang putih... ada pula kulit sawo matang campur kuning langsat.. tapi logatnya bletukan... pilipino...

wakakakak.. kebayang kan gimana kacau balaunya itu antrian?
disatu sisii arus bergerak ke pintu, disisi lain ada arus balik dari orang2 yg ternyata bukan pemegang tiket kapal Batamfast mau balik lagi ke dalam!

Petugas yg ada ngapain aja? (selain 2 petugas tiket, ada kurang lebih 8 orang petugas lain dengan seragam sekuriti dan imigrasi yg cuma bediri2 aja bengong2 mejeng2 mlintir2 kumis gak ngapa2in selain teriak 'antri ya..!! antri bu!! hey hey itu antri itu!!')

Tai burung.

Ini semua kan bisa dihindari.
apa susahnya si petugas pegang megaphone atau pake mikropon ato bediri diatas meja teriak kasih tahu "Hanya Batamfast. Only Batamfast. Yang lain duduk! The rest remain seated!!"

apa susahnya sih?? kenapa hal-hal kecil seperti ini selalu luput dari mata petugas2 kita!
gak di pelabuhan batam, gak di merak, gak di sukarno hatta, gak stasiun kereta semua sama!!

SDM yg kualitas rendah? prek! this is just a simple common sense!!
Atau gak pede buat komunikasi dengan penumpang berbahasa asing? lah? ini kan cuma simple aja. 'You batamfast, Go in. No batamfast, Go seat.'
halah.. tarzan2 yg penting orang ngerti kok!

apa kudu lulusan tinggi buat ngerti hal2 kayak beginian? apa perlu Sarjana biar bisa mikir masang tali rafia buat jalur antrian kalo emang perlu?

Bener2 deh..
Kapaaaannn orang2 kita mau belajar untuk mulai dari hal-hal yg kecil yg gak butuh banyak energi buat memulainya...

huh.. Cape Deeehh!

Monday, May 19, 2008

Shit, I've become one of them

Last trip to Batam, an island in my homecountry.
We all went together by ferry and had our Batam colleague arrange for a nice hotel in front of Nagoya Hill.

Strangely, I felt increasingly worry to bring my family to Batam. Afraid of Taxi drivers' cheating on us, afraid of being bullied when bargaining things, afraid of being harassed whenever failed to buy after a row of price dispute, afraid of not able to protect my family when things bad happened there. In short I felt like going to travel to a No-mans-land where law ceased to exist.

This is exactly what every of my Singaporean friends expressed each time I suggested them to go visit my homecountry. Shit. How can I got this feeling too?

When the boat arrived at Batam, we're all rushing up to the immigration checkpoint including me.
I can bet there were more Singaporeans than others alighting from the ship and flocking the Batam imigration check. But albeit being famous for orderly queuing for everything, these people rushed in, cut queue, some even walk to the front creating bottleneck just in front of the immigration desk.

What the immigration officer did? Nothing. Pretending not seeing, pretending they're the most important person--too important to handle such small matter as "keeping the queue in order".
Bloody Indonesian Bureaucrats! So typical! huh

No specific separation for Indonesian passports. Unlike in other countries, Homecoming greetings are everywhere in Immigration checks, special desks allocated for Home Passport holders giving them the comfort and warm feeling of going home.

Here in Indonesia?? Yeah, go back to sleep and dream again! Unless you're a high Govt Official, dont crave for such luxury!

After joining in the act of hypocrisy with other passengers (yeah hypocrisy, remembering how we'd just obediently queued to board the ship at Singapore's Harbourfront!), I finally reached outside.

Taxi time.
No orderly turn for passengers pickup, No certainty on the tariff, No Officials in charge ensuring the convenience of passangers, in fact No Specific Marks on some vehicles to know that they are TAXIS!!

WTF. I got into the taxi, telling the driver of our destination in Bahasa, he came up with a price, I bargained 2/3 and got the deal.

I brought my family around after checking in and a short nap in the hotel. We had no choice but using the taxis, most of them are illegal ones.

My wife and I're all in alert and unease during the journey, so many news of passengers being robbed or kidnapped in Taxis that we heard. Shit, this supposed to be my homecountry giving me a safe feeling of being home yet I was terrified to death?

Even when we had an evening walk and passed by a group of people doing nothing but chatting on the corner of the street that insecure feeling risen up. It's easy to get harassed and ended up with fight when passing by a group of youngsters in Indonesian streets.
Something we never encountered in Singapore.

After sometime, we managed to get used to the chaotic rhythm of Batam. Til came time to go back.

Fiscal booth at Batam Center. I forgot to prepare the copy of passport to apply free fiscal for us. The officer said he needed one and then pointed to a copy booth just 1.5 m in front of Fiscal office. "You go there to make the photocopy first", he said.

Ok. I thought this is part of the procedure.
Judging from the small size of that fiscal office, thus disabling them to put THEIR copy machine inside, that copying booth must have been theirs. I suspected... wrongly.

After a very nice conversation by the keeper, I was asked to pay a ridiculous price of 5000 rupiahs for every piece of copy I made. WTF?! How can copying expensive?? Moreover passports have 2 pages, each can be copied into only 1 (one) piece of A4 size paper. Yet after the A4 result cut into 2 i have to pay for 2 pages?? Not to mention the ridiculous price of 5000 rupiahs per piece???

This is a fuckin' common things done by many Indonesians entrepreneurs. Cheating!
No information on the price anywhere in that booth, making their "prospective targets" thought price would be a normal 500 rupiahs per page. Sweet talk done by the keeper in the beginning, so that the 'target' forgot to ask any details and straight away handed over the docs for copying.

Once the docs in the hand of the keeper, expect nothing but being his cash-cow!!

Half-heartedly and cursing hard, I paid the cost as he fixed.
Back to the fuckin' fiscal office with a black mood, I look at the Fiscal guy in the eye and said "Did you know their practice?". Yes, he said.

"Then why in the first place did you recommend them?!"
"Well, I was just informing you there's a copying service there. But yes, it's better not to use them due to their unreasonable pricing. Sorry didnt tell you earlier. Just dont use them next time!", He said.

WTF! Only now that you said that!
feel like wanting to punch his face!

Finally reached Harbourfront. A cool and comfortably-airconned immigration checkpoint, with an orderly mannered-queuing procedures (with some passengers whose faces looked familiar, yup they're the queue jumpers in Batam Center when we arrived at Batam!), efficient and responsive--when the queue was long, a senior officer directly assigned 3 more desks to be opened.

Outside, there was a minicab waiting in the taxi stand. We almost got in when the driver politely told that he'll go by a fix price that's higher than normal taxi. If we're okay with then he'll proceed. Upon hearing my refusal, he politely pointed another taxi queue while telling that we can get into regular cab in there. That's very kind of him.

My mind flew by to our experience with Batam taxi.. where we're cheated for a short distance with a very expensive price..

Darn.. Why somehow I felt relieved and at home when we arrived back in Singapore.

Shit... sounds like I've become one of them!
:(

Sunday, February 10, 2008

Rapor Idola Cilik Seleb RCTI

Sore ini sambil menemani Mufasa main, kami nonton acara TV di RCTI. Namanya Rapor Idola Cilik Seleb.

Another worthless show giving Indonesian youths shortcut way to become rich and famous, without having to work or study hard. Just make yourself a celebs the rest will come to you.

Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya sore tadi.

Yang menarik adalah saat bintang tamu yg mengisi acara ini, Matta Band, tampil.

Penampilan pertama diisi dengan lagu andalan mereka, "Ketahuan"; yang langsung disambut dan turut dinyanyikan dengan antusias oleh anak2 kecil peserta dan penonton acara ini.


Iya memang ini acara buat anak kecil yg kerabatnya selebriti buat tampil memperebutkan tabungan pendidikan -- aneh? bukannya banyak yg lebih butuh tabungan pendidikan daripada anak2nya seleb?-- penontonnya pun adalah anak2 kecil biasa yg ortu2nya nantinya bakal terbuai untuk beli produk sponsor supaya anaknya bisa kayak seleb dan turut pula berkhayal supaya anaknya gak perlu tinggi2 sekolah yg penting jago nyanyi dan bisa akting nangis bin marah2 buat modal jadi selebriti sinetron!


Nah ceritanya si Matta ini kayaknya agak nggak enak hati juga pas bawain "Ketahuan" dan disambut dengan gegap gempita sambil anak2 kecil yg masih ingusan ini turut menyanyikan... karena syair lagu itu sebetulnya lebih pas untuk anak2 yg minimal sudah remaja (teenager).

"Wo'o... kamu ketahuan... pacaran lagi...
dengan dirinya... Teman baikku... Wo'o..."


Jadilah di penampilan kedua Matta membuat kejutan dengan menyanyikan lagu... "Pada Hari Minggu Kuturut Ayah ke Kota.." dan "Abang Becak"...

en you know what the tragic thing is....?

Anak2 kecil yg tadinya begitu antusias menyanyikan "Ketahuan", mendadak diam.... gak ada yg ngerti lagunya!

Ironis.

Saya agak bisa (menduga) mengerti kenapa Matta pilih bawakan lagu anak2 ini di penampilan keduanya setelah rehat. Pastilah mereka 'sadar' akan penontonnya dan sadar juga pilihan lagu mereka yg pertama tidak tepat untuk usia anak2 ini..
Tapi apa mau dikata.. anak2 ini lebih hapal lagu 'dewasa' mereka itu ketimbang lagu anak2!

Sedih.

Sudahlah di TV isinya tayangan karbit tak mendidik seperti ini (kecuali mendidik buat mentingin penampilan, beken, kaya mendadak tanpa kerja keras), sinetron pun cuma mengajari menghina orang yg lebih rendah, pergi ke toko buku komik berisi bokep dan komik anak2 dicampur bersebelahan, mau jadi apa lagi anak-anak bangsa ini...


Kalau ada yg bilang "Kalau memang gak suka ya gak usah nonton! Ganti channel aja gitu kok repot"

Boleh dijawab? "Ada orang kentut depan hidung kamu. Kamu lagi makan. Kalau memang gak suka ya gak usah dihirup. Tutup idung aja atau pindah duduk. Gitu aja kok repot!"


That's not the fuckin' point.
The point is, we need rules and regulations for Television, Books and even Advertisings.

Tayangan2 yg berpotensi mengkarbit anak2 sebelum waktunya boleh ditayangkan tapi selepas pukul 10 malam, di saat anak2 sudah tidur.

Iklan2 yg berisikan kekerasan atau horor hanya boleh tayang juga di waktu yg sama.


Komik pun perlu rating.

Sebegitu bodohnya kah pejabat pemerintah kita hingga sampai saat ini masih tidak tahu kalau komik jepang itu ada yang namanya Hentai?
Alias komik Bokep? Gak tau?? Kemana aja sih lu.. di STPDN diajarin apaan aja sihh???

Masa sampai sekarang masih menganggap komik itu bacaan untuk anak kecil dan semuanya sama isinya! Huh!


Harus ada klasifikasi, rating. Dan ini harus dijalankan oleh lembaga yg punya kuasa pemaksa dan menghukum.

Jangan tunggu sampai generasi bangsa ini rusak barulah kita merasa kecolongan dan perlu untuk bertindak.

Sunday, February 03, 2008

Selamat Jalan, Jenderal Besar.. Selamat Menghadap Tuhan.

Bayangkan anda diangkat jadi seorang pemimpin perusahaan, kas perusahaan kosong dan minus, karyawan terpecah belah, banyak kubu senior manajemen yg saling berseteru, share holders berteriak2 pada saudara menuntut hak mereka. Ditambah lagi bayang2 sang CEO lama yg masih sangat berpengaruh.


Apa yg bakal anda lakukan?

Sekarang ganti posisi itu dengan presiden RI di tahun 1966.
Kurang lebih itulah yg dihadapi pak Harto. Puyeng? pasti.

Tahun 1980-an masa keemasan RI, ekonomi tumbuh dengan laju yg fantantis serupa dengan yg sekarang dinikmati cina. Harga stabil, laju inflasi terkendali, kebutuhan dasar terpenuhi, pendidikan masih terjangkau, kesehatan relatif merata, pertumbuhan infrastruktur terus meningkat.

Pendeknya Indonesia telah menjelma menjadi macan Asia dengan prospek yg sangat cerah di masa depan.

Kurang lebih begitulah pendapat rekan2 di kantor di negara-pulau ini. Bagi mereka apa yg Pak Harto lakukan untuk Indonesia begitu fantastis serupa dengan apa yg LKY telah lakukan bagi singapura hingga seperti sekarang.

Rekan2 ini tak habis pikir kenapa di saat2 terakhirnya Pak Harto tidak mendapat perlakuan yg selayaknya. Malah dikejar2 bak seorang kriminal.

Kami2 para TKI hanya bisa tersenyum saja mendengar tuduhan 'tidak tahu terimakasih' dari mereka.

Mungkin memang wajar kalau mereka tidak perlu hirau untuk mencari tahu bagaimana bedanya bumi dengan langit perlakuan terhadap Pak Harto dan perlakuan terhadap Bung Karno di saat2 terakhirnya.

Tapi yg bikin tergelitik adalah banyak orang Indonesia sendiri yg seakan menyayangkan bergantinya pemerintah dan menyalahkan semua keterpurukan Indonesia saat ini sebagai akibat dari digantinya Pak Harto.

Wah..wah.. Pak Harto memang berhasil membuat kita berswasembada pangan, tapi beliau juga menyebabkan ribuan petani cengkeh mati merana. Pak Harto berhasil menekan harga kebutuhan pokok, tapi beliau juga menyebabkan setiap anak bayi yg terlahir dari bumi Indonesia ini menanggung beban hutang luar negeri.

Lantas apa hebatnya? LKY meniru gaya yg sama dalam membangun singapura, tapi beliau tidak meninggalkan beban hutang! Mahattir juga berproyek untuk kebanggaan malaysia dengan petronas dan proton-nya, tapi ia tidak membuat perusahaan2 yg jago kandang dan korup!

Kesalahan terbesar Pak Harto bagi bangsa Indonesia menurut saya adalah dengan mengadopsi budaya feodalisme ke dalam pemerintahan dan menyuntikkannya ke nadi bangsa.

Rakyat bangsa ini jadi penakut untuk bicara, jadi terbiasa menunduk menyembah2 atasannya walaupun salah, rakyat bangsa ini jadi orang yg kerdil ketika berhadapan dengan orang asing. Budaya feodalisme ala Raja Jawa inilah yg menarik Indonesia mundur sekian puluh tahun ke belakang walaupun bangunan fisiknya maju menjulang.

Tak kurang Prof Selo Soemardjan dan Bapak Soedarpo Sastrosatomo pun menyatakan hal yg sama. Bahwa dosa terbesar Suharto bagi bangsa ini adalah mengadopsi budaya feodalisme Jawa ke dalam pemerintahan.

Menumpulkan pemikiran kritis dan berbeda pendapat (yang sudah ada sejak jaman Bung Karno-Hatta) dan melahirkan pribadi2 penurut yg tidak punya daya saing selain menunggu apa mau atasan.

Penyakit warisan ini yg bikin bangsa ini tak lepas2 dari krisis hingga sekarang.

Kalau sudah begini apa perlu bagi kita untuk 'tau berterimakasih' pada pemimpin yang menyebabkan ini semua?


Mohon maaf, masa2 Orde Baru adalah masa yg indah. Pendidikan terjangkau. Harga stabil. Tapi apalah artinya kalau itu semua semu?
Semuanya dibangun dari hutang. Hutang yg tak dipersiapkan untuk dibayar dengan baik.
Hutang yg sebagian besarnya mengalir ke kantong para pemimpin rakyat.

Sementara rakyatnya dibuai dengan pendidikan terjangkau, laju ekonomi yg tinggi, harga yg stabil, pekerjaan melimpah.

Ibarat orang yg berkaca dan melihat dirinya berwajah mulus ditata salon, berpakaian mewah dan enak dilihat, wangi lagi harum.. tapi semuanya itu dibeli dengan kartu kredit.

Seorang necis, rapi, tampan gagah tapi penuh hutang.

Apalah artinya?

Thursday, December 20, 2007

If I wasnt Muslim

by DAMIR NIKSIC



If I wasnt Muslim

Added: July 28, 2007

If I wasnt Muslim
Ya ba dibi dibi dibi dibi dibi dum.
If I wasnt born Mohammedan
Life for me would have been fun.

I could live and prosper
On my land and I could even build a bigger house.
I wouldnt have to, every now and then,
Run and hide like a mouse.

If I wasn't Muslim
Ya ... dum.
My neighbours wouldnt set my home on fire
And surround me with barbed wire.

I wouldnt live in terror
Ya .... dum.
Books wouldnt teach you that I was an error
In European history.

I would not have to prove that I am not stupid
A backward and primitive villain,
An alien threat to your way of life
to be hunted down.

I wouldnt be so ashamed of
The names of my relatives and mine
Of the Semitic language I speak to my God
That no one here understands.

My tradition wouldnt insult
My Christian neighbours and friends
My diet, my cap, the Ramadan fast
The crescent and the star.

Bayram, I know, will never be famous
like Christmas or Easter Sunday..
So modern and cool, so western,
And- oh so "secular".

If I wasnt Muslim
If I had an ordinary Slavic Christian name
If I wasnt circumcised
If I could eat my eggs with ham

I would be accepted
Ya .... dum.
Id blend in to Europe and enjoy
I wouldnt be its whipping boy.

Oh boy..
If I were a Christian
I wouldnt have to prove that I am human too.
Cos when youre Christian youre always civilized,
No matter what you wear or do.

But when you are a Muslim
It is really hard to find some sympathy for you.
No one really likes you, no one really cares
No one wants to know your point of view.

If I wasnt Muslim
Ya .... dum.
If I was a part of Christendom
Europe would be my sweet home.

I wouldnt have to worry
Ya .... dum.
What will happen in a year or two?
Will I have to leave or stay and die?
Drop my pants to be identified and put aside
Just cos Im a Musulman?!


Ied Mubarak to all my muslim friends.

Tuesday, September 25, 2007

Foto-foto Adek Mufasa 2

My Sister Keiya Aleysha came visiting.. She looks very happy.. :)

Then Comes Daddy.. We took picture together.. The three of us.

Daddy, Kakak Keiya, and Me..

In Daddy's arm... Warm..


Feel like to open my eyes..

Paappppiiiiipppp......! (Oww.. so this is how world looks like.. Hmm..)

I think.. I better go back to sleep.

With Mommy.. :)
And this is my proud Daddy.
Selebihnya bisa dilihat di www.keiyafiles.multiply.com yah..

Friday, August 31, 2007

Indonesia dan Tetangga-tetangganya


Belakangan hubungan antar dua negara bertetangga ini kembali 'memanas'.
Berulangkali Indonesia (sebagai bangsa, bukan sebagai pemerintah) merasa kecolongan oleh ulah Malaysia.
Dimulai dari hilangnya Sipadan dan Ligitan, diusirnya pendatang tanpa izin Indonesia dari Malaysia, ditembakinya nelayan-nelayan kita di perairan nasional Indonesia di Sumatra (oleh Tentara Diraja Malaysia), sengketa Ambalat, sampai disiksa dan matinya TKI-TKI kita.
Kasus terakhir yg kembali menyentak adalah dipukulinya wasit Karate Indonesia oleh 4 orang polisi Malaysia. Wasit yang merupakan tamu undangan Malaysia untuk Turnamen Karate Internasional ini pulang ke tanah air duduk di kursi roda, terancam kehilangan pendengaran, terganggu penglihatan dan pendarahan di kemaluannya.
Hal ini terasa mengganggu bagi saya.
Dari satu sisi Indonesia memang tidak sepenuhnya bersih dari kesalahan. Utamanya di kasus banyaknya pendatang liar kita yang merusak dan mengacau di negeri orang. Ini dikarenakan lemahnya sistem informasi kependudukan dan imigrasi kita.
Tapi di sisi lain adalah betapa lemahnya posisi tawar kita dalam setiap kasus ini.
Kasus Sipadan Ligitan contohnya. Indonesia kalah dikarenakan Malaysia sudah terlebih dahulu membangun resort di pulau-pulau itu. Ditambah lagi TDM Laut sudah lebih dulu melakukan patroli rutin disana. Mereka lakukan itu semua dengan tenang tanpa takut akan 'gangguan' dari pihak berwenang Indonesia.
Kasus TKI, seolah-olah bangsa kitalah yang butuh setengah mati untuk bekerja di sana (sepertinya pernyataan ini benar dan bukan seolah-olah) sehingga segera semua yang datang liar dipulangkan untuk dilengkapi dokumennya lantas dikirim balik. Lagi-lagi walaupun hal ini sempat melumpuhkan industri konstruksi Malaysia, mereka tetap lakukan hal ini dengan tenang tanpa melirik sebelah matapun pada Indonesia.
TDM Laut Malaysia menembaki dan melukai ABK kapal nelayan di perairan Sumatra Utara dengan tanpa rasa bersalah. Ketika mereka semua naik ke atas kapal, nelayan kita bertanya apa salah mereka? Mereka ada di perairan Indonesia. Tanpa minta maaf atau berkata apa-apa, TDM Laut itu hanya melirik sekilas ke semua ABK yang tergeletak diterjang peluru dan kembali ke kapal mereka. Melanjutkan 'patroli'.
TNI AL dengan kapal 'antik'-nya tak bisa berbuat apa-apa ketika menerima laporan. Bahkan mengidentifikasikan TDM Laut bermata gelap itupun tak bisa dilakukan.
Ini menyakitkan.
Ini membuka mata betapa bangsa kita sudah tertinggal dibanding tetangga satu ini.
Bidang ekonomi tak usahlah dibahas, semua tahu betapa sedang sempitnya terasa bernapas di kubangan lumpur ekonomi Indonesia.
Tapi di bidang militer yang seharusnya jadi efek penangkal pun kita kalah jauh!
Hemat saya, militer kita haruslah kuat dan mempunyai kemampuan ofensif.
Karena hanya dengan begitulah maka efek tangkal akan dirasakan oleh negara-negara sekitar.
Yang jadi masalah sekarang lagi-lagi masalah dana. Modernisasi peralatan perang kita makan banyak uang, yang sialnya tidak banyak tersedia. Ditambah lagi strategi pertahanan kita yang lalu yang lebih berat ke Angkatan Darat.
Sebagai negara kepulauan (terbesar di dunia), seharusnya Angkatan Laut dan Udara kitalah yang lebih kuat dan mumpuni. Kebutuhan ini sudah tidak bisa ditawar-tawar. Minimal untuk menjaga kedaulatan dan tapal batas, Angkatan Laut kita harus dibenahi.
Caranya apakah beli dari luar lagi? Untuk peralatan-peralatan strategis seperti ini kalaupun belum bisa dibuat sempurna, sebaiknya Indonesia sudah mulai membikin sendiri. Dephan haruslah mendorong industri strategis kita untuk berkembang dengan cara menjadi pembeli pertamanya.
Toh penyempurnaan pasti akan dilakukan seiring dengan terujinya produk di lapangan.
PT PAL haruslah diberdayakan. PAL harus bisa membuat minimal sekelas Fregat atau Kapal Perusak untuk kebutuhan Angkatan Laut kita. Kalau kelas patroli pantai rasanya sudah bisa buat.
Kalau PAL kebagian membuat platformnya, maka LAPAN bisa bantu dengan peluru kendali, Pindad menyumbang senjata berat konvensional, sementara PT DI menyumbang helikopter dan sistem navigasi pertahanannya. Saya kok yakin sebenarnya kita bisa.
Setelah Angkatan Laut, rasanya minimal Sistem radar kita dibenahi. Daerah Timur Indonesia sangatlah banyak yang bolong. Di masa pergolakan Tim-Tim lepas dari Indonesia di saat yang sama pula banyak pesawat dan helikopter Australia terbang wara-wiri Tim-Tim - Maluku. Saat itu di Maluku sedang marak pula gerakan separatis RMS yang mendompleng perang agama antar saudara.
Sistem radar kita lemah.
Sambil membenahi sistem radar ini mungkin dapat pula dimulai pembuatan pesawat jet tempur nasional, awalnya mungkin dari lisensi atau bahkan kalau mau ekstrim seperti China. Beli pesawat dari Amerika/Rusia, lalu dipreteli. Dipelajari disainnya dan ditiru mentah-mentah.
Hasilnya sekarang China sudah bisa buat pesawat tempur sendiri.
Kalau memang dirasa berat juga, paling tidak PINDAD yang sudah berhasil membuat peluru kendali jarak menengah dapat dikaryakan untuk membuatnya dalam jumlah massal. Peluru-peluru kendali inilah yang harus disebar di penjuru negeri menggantikan peran pesawat tempur bila ada penyusup (wah.. hehehe.. peluru kendalinya Pindad sudah secanggih ini belum yah?)
Kalau sudah begini, Tentara bisa mandiri dari ketergantungan senjata pada pihak luar paling tidak negara-negara tetangga mikir berkali-kali buat macam-macam.
Sukur-sukur para koruptor keparat perampok uang rakyat itu bisa mulai dihukum mati.
Hal lain yang tak kalah pentingnya (malah bisa jadi jauh lebih penting) adalah membenahi sistem pendidikan kita. Supaya bangsa kita tidak harus pergi menjadi kacung di negeri orang hanya untuk menghidupi sanak keluarganya.
Kalaupun harus pergi ke negeri orang, paling tidak tak mesti jadi pembersih pantat anak majikan lah. Tapi kalau memang masih mau juga.. Pemerintah harus beri perhatian lebih pada kemampuan komunikasi. Aspek bahasa, utamanya Bahasa Asing.
Karena dengan mengerti bahasa setempat, Pekerja-pekerja Migran kita bisa membaca sendiri peraturan di negara orang dan bisa mengerti haknya.
Jangan ada lagi kasus pekerja kita ditipu tak dibayar upahnya atau bahkan dituduh macam-macam hanya karena secara legal dia menandatangani peraturan yang membacanya pun sudah bikin matanya keriting.
Ah.. jadi kemana-mana, cuma gara-gara hati geram membaca tingkah polah negara tetangga.
Tapi mungkin mental orang kita harus seperti itu. Kesandung dulu baru belajar. Dipukuli dulu baru cari guru beladiri. Hilang dulu Sipadan Ligitan, baru mau beli Kapal Laut. Dipandang sebelah mata dulu oleh Singapur, baru cari kreditan beli pesawat tempur dan kapal selam..
Mudah-mudahan sejak kasus ini semua jadi mau belajar.
(Temasek, 31 Aug 07)

Malingsia?

Waktu kemarin kalian aku batik sebagai hakmu,
kami diam.
Biarlah.. toh kalian masih saudara.

Waktu kalian aku sate sebagai hakmu,
kami masih diam.
Biarlah.. kalian dan kami satu nenek moyang.

Lalu berturut-turut rendang, tempe, angklung...
kami masih tersenyum walaupun dongkol di hati.

Tapi ketika lagi-lagi kalian berulah!

Terhadap saudari-saudari kami
yang pergi jauh demi anak mereka,
Terhadap saudara-saudara kami nun di pulau pencil sana,

Terhadap hutan-hutan kami di Kalimantan,
Terhadap nelayan-nelayan kami di laut kami sendiri,
Terhadap harga diri bangsa kami!

Kami tak bisa terima!!

Cukup!!

Kalian siksa saudari-saudari kami!
Kalian ambil tanah dan pulau kami!
Kalian tembaki nelayan kami di laut kami sendiri!
Kalian undang saudara kami hanya untuk dipukuli!
Cukup sudah!!

Hey, Pak Cik!
Apa mau kalian?


INI DADAKU, MANA DADAMU?!


(untuk saudara-saudara serumpun setetangga yang tak paham tampaknya tata krama)

Thursday, August 16, 2007

Emangnye Gua Pikirin...!

Kalimat ini muncul kembali di benak ketika terbaca di salah satu milis yg saya ikuti. Kalimat brengsek satu ini!
Saya sudah tidak suka dengan kalimat ini di saat pertama kemunculannya (kalau tak salah diucapkan oleh Indro di salah satu film Warkop DKI). Tidak mendidik!
Kalimat ini menumpulkan kepedulian.
Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau tiap kali ada perbedaan pendapat yg tidak bisa kita jawab dengan otak lantas dengan entengnya diucapkan kalimat seperti itu.
"Emangnya gua pikirin..!", "Cuek aja...", "Sebodo amat..!", "So wot geto loch..!"
Kalimat-kalimat seperti ini awalnya mungkin cuma untuk asyik2an aja.. funky2an bumbu pergaulan.. tapi sebagaimana pertumbuhan pergaulan di remaja.. yg awalnya hanya terucap lantas dirasa tak lagi cukup. lalu ternyatakanlah lewat perbuatan..
Yang awalnya cuma bilang... Udah cuek aja... takut amat sih... (tapi tetep gak berani ngelanggar), akhirnya setelah sekian lama... "Lu cuak cuek cuak cuek tapi lu sendiri gak berani. Ayo kalo emang cuek, ayo lakuin!"
Coba bagaimana saudara mau membela diri depan polisi ketika dituduh melakukan pelanggaran yg tidak saudara lakukan kalau si polisi dengan cueknya bilang "emangnya gua pikirin..."
atau coba bagaimana saudara bisa menambah wawasan lewat diskusi bila tiap ada beda pendapat yg bertentangan dengan pendapat saudara dan saudara tak bisa jawab pakai otak; lantas gampang aja.. "so wot geto loch.." "gak penting banget deh!"
*Kalo gak penting ngapain dari awal diskusi????
Saya berani taruhan kalimat brengsek dan segala rekan2 sebangsanya ini menyumbang andil besar pada tulinya wakil rakyat kita, pada tidak pedulinya aparat hukum kita, pada bejatnya sumbangan tayangan hiburan kita...
Bukannya apa-apa kalau tulisan ini sarat nada kekesalan, karena buat saya sikap yg seperti inilah yg menghambat kemajuan kita sebagai bangsa.
Ketika salah seorang aparat pajak ditanya tentang kenapa kok amburadul proses pemunduhan pemasukan dari pajak di negeri kita? kenapa banyak wajib pajak yg sudah bersedia membayar malah dijadikan sapi perah oleh petugasnya dan itu dibiarkan saja? kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu yg intinya mengajukan usul, mengajak dialog mencari solusi demi kemajuan... eh... jawaban yg diterima malah....
"Lu pusing mikirin pajak di negeri ini?? Ngapain lu pusingin?? Gua aja gak pusing. Kagak peduli gua... Emangnya gua pikirin mau pajak beres kek kagak kek! yang penting hepi!!"
*Yg jawab ini adalah orang dari dirjen pajak.
Entah sampai kapan bangsa ini sadar akan ketinggalannya.
Huh!

Tuesday, February 07, 2006

Kesal.

Sudah hampir sebulan kehebohan yang ditimbulkan sekumpulan karikatur yang melukiskan secara satir tentang Nabi Muhammad SAW melanda negara-negara dunia. Karikatur yang diterbitkan 30 September 2005 oleh Jyllend-Posten Denmark ini awalnya dimaksudkan untuk menyindir kekangan atas kebebasan berbicara karena syahdan mendengar dari seorang pengarang Denmark, Kare Bluitgen, bahwa ia tidak bisa menemukan seorangpun yang mau menggambar Nabi Muhammad untuk buku karangannya. Tidak ada yang mau menggambar karena takut akan reaksi dari kaum muslimin. (bahasa asli dari wikipedia: Mereka tidak berani menggambar Muhammad karena takut akan terancam oleh serangan dari ekstremis Muslim).

Menurut saya, seseorang tidak perlu jadi ekstrimis kalau sekedar untuk membela keyakinannya.

Atas alasan tersebutlah koran Denmark itu menerbitkan karikatur yang bukan hanya melukiskan tetapi juga memperolok Nabi Muhammad. "Untuk menunjukkan bahwa kebebasan berbicara berlaku bagi siapapun, Muslim maupun Non Muslim." Begitu katanya.

Kebebasan berbicara yang diusung oleh pers barat selama ini sungguh aneh rasanya. Mau menulis apa saja soal apa saja, Tuhan, gereja, Yesus, Muhammad, Islam, Kristen boleh. Asal tidak mempertanyakan soal dosa masa lalu Eropa, asal tidak mempertanyakan kenapa kebijakan Barat yang merugikan orang lain tidak disebut penjajahan hak.

Ketika presiden Iran mengungkapkan pendapatnya tentang holocaust, semua kutukan kecaman, ancaman, boikot bahkan ungkapan akan perlunya Iran "diduduki" muncul dari semua pihak (di barat). Seolah-olah haram untuk sekedar mempertanyakan tentang holocaust sekalipun.

Lah, sekarang kenapa penggunaan yang sama terhadap Muhammad sebuah figur yang jelas-jelas disucikan oleh umat Islam, jelas-jelas dinyatakan tidak untuk digambar apalagi diperolokkan; kemudian menuai reaksi yang sama (kecaman, boikot, ancaman dst) kenapa tidak boleh??
Kenapa umat yang mempertahankan kehormatannya malah dicap bodoh, kolot, ekstrimis, tradisional, tidak mengerti hak-hak kebebasan???

Saya jadi mikir.. apa iya yang namanya kebebasan itu berarti kita bisa memaksakan suatu yang kita yakini sehingga menyinggung keyakinan orang lain?

Bebas-bebas saja menghina meludahi tulisan nama/foto ibu seseorang di depan yang bersangkutan, misalnya. (Wong yang namanya nama itu universal kok, wong foto itu diambil pake kamera si penghina kok. Kebetulan aja sama persis sama nama dan muka ibu kamu.)

Apa iya seperti itu?

Bahwasannya minoritas atau mayoritas semua gak boleh marah/tersinggung/kecewa kalo ada pihak yang melecehkan keyakinannya. Wong hak berpendapat kok. Bebas aja.

Apa emang gitu ya?

Trus kemana yang namanya pikiran untuk berempati, kemana yang namanya menghargai hak orang lain untuk tidak diusik atau dihina??

Kalau mau adil, pertanyaan ini layak pula direnungkan di komunitas dimana umat islam mayoritas.

Terusterang ada hal yang bikin saya lebih kecewa lagi, sebagian rekan yang selama ini saya kagumi pendapat-pendapatnya; yang seringkali mengkritisi sebagian umat Islam yang memang terkadang lebih memakai bahasa kekerasan, rekan-rekan yang selama ini menyatakan mendukung hak-hak minoritas yang begitu cepatnya menulis di blog mereka seketika ada seujung kuku peristiwa sekalipun, kini diam. DIAM bungkam seribu bahasa.

Mungkin lupa, minoritaslah yang menjadi korban di Denmark, Norwegia, Prancis, Spanyol ini. Minoritaslah yang sekarang sedang dirampas haknya untuk mempertahankan keyakinan. Minoritaslah yang kini sedang dihina dan diperolokkan.

Kemana ya rekan-rekan saya itu? kok tumben tidak ada tulisan apa-apa..

Mungkin sedang berpikir menyiapkan tulisannya kali yah. Supaya imbang dan tidak berat sebelah. Mudah-mudahan lah..

Sungguh susah rasanya sekedar hidup menjadi seorang Muslim sekarang ini.


"Karena kami melakukannya dengan perahu-perahu kecil, sedang kalian dengan kapal-kapal besar; maka kamilah bajak laut dan kalianlah penguasa?"
-seorang kepala suku Galia pada Julius Caesar

-----------------------------------------------------------

Mohon maaf kiranya kalau tulisan ini tidak membawa faedah apa-apa. Hanya seorang awam mencoba mengungkapkan pendapatnya.

Thursday, November 24, 2005

A Nation of Koolie and Koolie among Nations

Sebuah bangsa
Dimana pemimpin-pemimpinnya tuli
Orang-orang kayanya rakus
Orang-orang miskinnya menjual diri
Kaum agamanya munafik

Sebuah bangsa
Dimana orang-orang tuanya bicara tak lagi dengan teladan
Orang-orang mudanya tak peduli masa depan
pintar-cerdas-bebas tanpa aturan

Sebuah bangsa yang berhutang hanya untuk dibelanjakan
oleh orang-orang kayanya, dicuri oleh pemimpin-pemimpinnya
untuk kemudian orang-orang miskinnya dijual tenaga dan harga
dirinya pada bangsa lain

Anehnya mereka semua bangga dengan hal ini
Kasihan sungguh kasihan...


Menyerap suasana sekitar di tengah2 tenaga kerja bangsaku di
Es Teler 77 - City Plaza Minggu sore
(20 November 2005, 16:46)

Friday, August 12, 2005

Bikin SIM

Seumur hidup baru dua kali saya mengurus surat ijin mengemudi (SIM).
Sekali tahun 1995 waktu baru lulus SMA, yang kedua kali 2005 kemarin setelah saya kerja.

1995 - baru lulus SMA

Penuh semangat idealisme yg tinggi khas mahasiswa baru, saya memutuskan untuk meluangkan satu hari penuh untuk bikin SIM. Pagi2 jam 7.30 saya sudah nongkrong di depan loket formulir SIM (belum ada orang). Okelah.. tak tinggal nyari sarapan dulu.

Balik-balik jam 8.30 lewat dikit loket sudah dibuka, baru ada beberapa orang yg ambil formulir. Saya ikutan. Isi formulir-motokopi ktp-bla..bla..bla..selesai. kembalikan formulir dan tunggu dipanggil untuk tes.

Lagi asik2 nunggu, seorang polisi berwajah ramah menawarkan "jasa".
Sempat mengiyakan tapi gak sampai lima menit saya batalkan ke polisi itu.
Agak2 berwajah murung, dia masuk ke petugas bagian formulir membisikkan sesuatu.

Dipanggil tes tulis.
Soalnya sedikit dan gampang sekali. Wong semalem sudah ngapalin buku rambu2 dan peraturan kok. Tapi tau gak? dari 20 soal saya cuma benar TIGA!!!!
Whatta f**k?

ngotot2 saya minta diliatin lembar jawaban saya berikut kunci jawaban, itu polisi berkumis tebal melotot. "Kamu gak percaya saya!?!"
weish jancuk. ini bukan masalah percaya gak percaya, Pak.. (dlm hati)
"Udah kalau mau lulus bayar sinih 10ribu"
(wanjrit. duit segitu jaman 1995 masih besar nilainya.)

Pasrah.. saya (tak) relakan duit ceban melayang.

ok trus selanjutnya tes kesehatan. Dan saudara2.. saya dinyatakan SEHAT.
Tapi tetep bayar sepuluh ribu.. "nebus surat keterangannya", gitu kata si petugas.
:D edhian..

Selanjutnya nunggu dipanggil...
.............. 11.00 WIB
.............. 12.00 WIB
.............. 14.00 WIB
.............. saya mulai gelisah.. mosok antri dari pagi tapi gak dipanggil2 sementara ada congor2 baru yg dateng siangan sambil dianter polisi2 berseragam mendadak masuk, dipoto, trus keluar dengan berseri2.

.............. 16.50 WIB "Eky Kurniawan!"

(yang ada di seantero kantor itu tinggal saya dan seorang polisi bagian pemotretan bernama Made something.)
17.00 WIB selesai sudah semua.
Bayangkan saya orang ketiga yang datang dan ambil formulir, tetapi menjadi orang TERAKHIR yang selesai.

Diaaaaaaaaanccuuuuuukkkkkk!!!

penuh kekesalan satu2nya motor polisi yg diparkir di halaman belakang Polres Cirebon saya kempeskan dan buang spuyer karburatornya.

(mohon maaf. memang anarkis, tapi apa polisi aja yg boleh anarkis?)


2005 - Bikin SIM 2 sesudah kerja

Poltabes Lampung. Mengingat pengalaman buruk yg dulu saat bikin SIM pertama (agak2 trauma sehingga saya tidak pernah lagi bikin SIM dan memutuskan untuk kucing2an/akal2an setiap ada operasi) , saya pasrah aja wkt ditawari seorang calo-polisi untuk "dibantu".

Ternyata sama saja. Saat menunggu giliran foto yg terjadi adalah kuat2an Calo. Siapa yg calonya perwira akan dipanggil lebih dulu. wasoe.. calo gue kl gak salah cuma tamtama... :(

Semua orang jadi calo, petugas jaga di pos depan "melindungi-melayani" itu, petugas pemeriksa kesehatan, polwan bagian sim, petugas formul sim, polisi bagian pemotretan sim, kanitlantasnya -- namanya mirip The King of Rock and Roll, polisi sabhara yg baru lulus pendidikan masih culun2, dan bahkan tukang potokopi!

Semua dengan tanpa malu2 mondar-mandir sambil mengawal orang yg dicaloinya melewati antrian orang banyak yg sudah menunggu dari pagi. Si orang yg dicaloi ini lantas didudukkan di barisan paling depan antrian untuk kemudian tanpa malu2 si petugas berkata lantang,
"Yang namanya saya panggil silakan maju untuk difoto. Panggilan sesuai urutan antrian!"

"XYZ..!!" (orang yg tadi didudukkan paling depan maju.)

Asoe. Urutan antrian my ass.... gue udah gk kenal lagi tampang orang2 yg ada. semua wajah baru. udah beda sama orang2 yg bareng2 gua dari pagi2 jam 10 tadi.

Seorang gadis -mahasiswi sepertinya-- yang saya perhatikan mengurus sendiri semuanya tanpa calo dan satu2nya wajah familiar yg bareng2 saya dari pagi akhirnya tak tahan lagi. Dia nanya ke petugas administrasi yg duduk di depan. Kenapa kok gk dipanggil2 dari pagi?
"Ya memang lama.. kan semua ada prosedurnya. antri" bla..bla..bla..

ANTRI??!! teriak si gadis tak tahan lagi. "saya sudah duduk disini dari pagi, mas! ini orang semua datang2 langsung masuk foto itu gimana??!! saya harus antri gimana lagi??!!!"

Kesal. si gadis pergi sambil menahan geram. Si petugas cuma senyam-senyum sambil noleh ke antrian, "Biasa.. perempuan.." (WHATTA FUCK!! isnt your mother also a woman????!!)

Akhirnya setelah lama menunggu, sukses2 saya dipanggil jam 3 sore!!!!!
itupun setelah saya marah2 di depan semua orang yg antri en polwan penjaga yg awalnya sok wibawa akhirnya memutuskan untuk "mencari" berkas saya di tumpukan paling bawah!

Diangkrik. SIM baru bisa diambil setelah satu bulan karena ketiadaan material pembuatan.
Loh??? tau gini kan mending gua urus sendiri dari tadi.... :((


-----------

Kesimpulan:
1. Buatlah SIM melalui calo. Kecuali anda siap mental, waktu, fisik dan materi untuk membikin sendiri.
2. Ketika memilih calo, lihat-lihat dulu pangkatnya dan jabatannya. Akan lebih cepat bila calo anda seorang perwira dan sukur2 perwira bagian SIM.
3. Pakailah pakaian yg jelek, pinjam HP teman/sodara yg butut, dan simpan uang pas (sesuai "jasa" calo) di dompet. Insya Allah anda akan selamat dari pemerasan babak lanjut.
4. Siapkan uang sepuluh ribuan, limaribuan dan duapuluh ribuan yg banyak buat "salam tempel".
5. Banyak2 berdoa pada Tuhan.

Oh ya.. Jangan percaya pada tulisan gede2 di tiap kantor polisi "JANGAN MENGURUS SIM MELALUI CALO". Tulisan itu bohong.

Percayalah, polisi kita sangat ringan tangan dan baik hati membantu. Selama kita juga "ringan tangan" dan "baik hati" membantu mereka.

Melindungi dan Melayani (Dompet sendiri)

Ada yang aneh dengan sistem pelayanan hukum di negara kita.
Orang kehilangan barang-- katakanlah, dompet-- trus melapor ke polisi; berharap sukur2 bisa ditemukan.

Tapi sampai di kantor polisi, setelah dicatat dan dapat surat keterangan kehilangan.
Kita disuruh.... bayar. :D nah loh!
Kebayang gak sih kalo ini orang bener2 kehilangan duit tinggal pakaian lekat di badan, trus bingung gimana mau pulang. Berharap ada titik terang dengan melapor ke polisi, dan malah ketiban sial disuruh... b.a.y.a.r....!

Aneh..

Si polisi tanpa ekspresi apa2... gak ada turut simpati, ngerasa malu (karena gak bisa numbuhin rasa aman bagi si korban), atau apa kek gitu yg humanis. eh malah dengan wajah dingin, tanpa senyum bilang, "Bayar sepuluh ribu untuk suratnya".

Sepuluh ribu kalo orang bener2 kecopetan gak punya duit trus bakal dateng darimana?
turun dari langit?????

Aneh..

Bingung gue... itu polisi2 apa gak ada otaknya atau gimana yah? kok mereka gak kepikiran sih untuk empati?

(kalo ada pembaca yg polisi membaca tulisan ini pasti bilang "ah itu kan cuma oknum... ah, saya belum dapat laporan tuh. dimana itu kejadiannya coba sebutkan nama beserta pangkat supaya saya tindak... bla...bla...bla...." bener2 nunjukin kosongnya isi kepala. huh.)

Kasihan Polisi

Kilap lencana penuh wibawa.
Semu.
Lagak jalan penuh kuasa.
Narsis.

O' kasihan sekali kau polisi-polisiku.
Sangkamu sapa ramah dan anggukan hormat
dari orang-orang kecil benar-benar karena mereka
mencintaimu??
Never!

Kami sapa karena terpaksa.
Kami hormat karena kami turut pada aturan yang kalian buat
dan kalian langgar sendiri!

Kalau boleh kami memilih
seribu cacimaki terlontar ke mukamu
Kalau boleh kami memilih tak perlulah berurusan denganmu
bahkan sekedar melihat warna coklat seragam kalian sekalipun.
Sungguh.

Kalau boleh kami memilih tak perlu kalian pernah ada di muka bumi ini!

Tapi sayang, kami tak punya pilihan.
Kami hanya rakyat kecil tak punya hak apa-apa di negara hutan rimba ini.
Jadi terpaksa-- ya, terpaksa-- kami lontarkan senyum dan ramahtamah palsu itu.

Walau ingin rasanya kalian tahu.
Sampai matipun tak pernah akan kalian dapatkan hormat dan cinta itu!

Terkutuklah dan kasihan kalian polisi-polisiku.


(Satlantas Mapoltabes Lampung, 8 Agustus 2005)

*Didedikasikan bagi para warga yang berniat baik untuk memiliki SIM dan menjadi bahan permainan sapi perah bagi polisi-polisi (maaf saya TIDAK pakai kata 'oknum') brengsek di negeri ini.