Thursday, December 20, 2007

If I wasnt Muslim

by DAMIR NIKSIC



If I wasnt Muslim

Added: July 28, 2007

If I wasnt Muslim
Ya ba dibi dibi dibi dibi dibi dum.
If I wasnt born Mohammedan
Life for me would have been fun.

I could live and prosper
On my land and I could even build a bigger house.
I wouldnt have to, every now and then,
Run and hide like a mouse.

If I wasn't Muslim
Ya ... dum.
My neighbours wouldnt set my home on fire
And surround me with barbed wire.

I wouldnt live in terror
Ya .... dum.
Books wouldnt teach you that I was an error
In European history.

I would not have to prove that I am not stupid
A backward and primitive villain,
An alien threat to your way of life
to be hunted down.

I wouldnt be so ashamed of
The names of my relatives and mine
Of the Semitic language I speak to my God
That no one here understands.

My tradition wouldnt insult
My Christian neighbours and friends
My diet, my cap, the Ramadan fast
The crescent and the star.

Bayram, I know, will never be famous
like Christmas or Easter Sunday..
So modern and cool, so western,
And- oh so "secular".

If I wasnt Muslim
If I had an ordinary Slavic Christian name
If I wasnt circumcised
If I could eat my eggs with ham

I would be accepted
Ya .... dum.
Id blend in to Europe and enjoy
I wouldnt be its whipping boy.

Oh boy..
If I were a Christian
I wouldnt have to prove that I am human too.
Cos when youre Christian youre always civilized,
No matter what you wear or do.

But when you are a Muslim
It is really hard to find some sympathy for you.
No one really likes you, no one really cares
No one wants to know your point of view.

If I wasnt Muslim
Ya .... dum.
If I was a part of Christendom
Europe would be my sweet home.

I wouldnt have to worry
Ya .... dum.
What will happen in a year or two?
Will I have to leave or stay and die?
Drop my pants to be identified and put aside
Just cos Im a Musulman?!


Ied Mubarak to all my muslim friends.

Sunday, November 18, 2007

Legenda Musik Dunia - Indo Rock


The T-4

Tielman Brothers
, beken dengan musiknya yg disebut sebagai 'Indo-Rock' di seantero Eropa pada masa 40-an hingga akhir 80an.

Musiknya sendiri sangatlah Rock n Roll jauh sebelum Beatles, sementara Andy Tielman sang lead vocal sendiri memainkan gitarnya bak Jimi Hendrix jauh sebelum Jimi sendiri beken.

Sayang, seperti hasil2 budaya anak negeri lainnya tak satupun berita soal ini dipromosikan oleh Indonesia.

Mungkin nanti, tunggu tetangge ngakuin kalo Indo-Rock itu musik mereka barulah kita mau ngakuin dan kebakaran jenggot.

Berikut saya cantumkan artikel tentang IndoRock yg juga bisa dibaca disini, sini maupun sini.

----- The Tielman Brothers: The Beatles pun Nonton Band Rock Indonesia -----

Siapa bilang musisi indonesia tak bisa menjadi pelopor dalam dunia musik tingkat internasional? The Tielman Brothers adalah jawabannya. band rock lawas asal Maluku yang kini mulai terlupakan itu, ternyata mempunyai segudang prestasi dan berpengaruh pada kehidupan musik di Eropa terutama di Belanda. siapa bakal menjadi The Tielman Brothers berikutnya?

Para rockmania Indonesia saat ini tentunya sedang membicarakan tentang kesuksesan band luar negeri dan terpesona olehnya. Sebut saja Metallica, Slipknot, Dragon Force, Korn dan lain sebagainya. Siapa yang tak kenal mereka akan dianggap kurang mengerti atau kurang gaul dalam informasi musik saat ini. Dan kalau berbicara tentang siapa bintang dan band rock tertua di dunia, dalam benak kita pasti membayangkan The Beatles, The Rolling Stones atau Elvis, Fats Domino, Bill Haley, dan lain-lain.

Namun, sebenarnya ada satu band rock lawas yang terlewatkan. The Tielman Brothers namanya. Sebuah band rock yang terdiri dari 4 anak muda asal Maluku. Band yang semula bernama TheTimor Rhytm Brothers lalu berubah menjadi The Four Tielman Brothers, dengan personil empat bersaudara Tielman: Andy(lead guitar, vocal), Reggie (rhytm guitar, vocal), Phonton (double bass, vocal), dan Loulou (drums, vocal). Mereka memulai kariernya di Surabaya sejak 1945.

Beruntung perjalanan karier keempat anak muda ini terbilang mulus sebab kedua orangtuanya, Herman Tielman dan Flora Lorine Hess tak cuma mendukung, tapi ikut bermain dan menjadi manager.

Ditonton The Beatles

Di tahun 1956 TheTielman Brothers hijrah ke Breda, Belanda dan memulai karier rekaman di negeri kincir angin itu. Dari sanalah pada akhirnya The Tielman Brothers mulai menjajah musik rock di luar negeri dan memberikan pengaruh yang cukup dasyat di blantika musik rock pada saat itu. Penampilan mereka juga cukup memukau publik di Belanda khususnya dan Eropa pada umumnya. Bisa dibilang mereka lah yang pertama kali memulai atraksi panggung yang liar dan atraktif, seperti bermain gitar dan juga double bass sambil melompat atau berguling-gulingan, serta tentunya demo drums.

Kepindahan mereka ke negeri Belanda dengan membawa budaya tropis dan kecintaan kepada gitar ini ternyata melahirkan "Indo-Rock" yang terkenal itu. Ciri kuat Indo-Rock adalah dominasi gitar, instrumen yang dikenalkan orang-orang Portugis saat datang ke Hindia-Belanda sekitar abad ke-14. Permainan gitar ala Portugis yang akhirnya dikenal sebagai musik keroncong ini dipadukan oleh anak-anak Maluku itu dengan musik Hawaii, country, dan rock'n'roll yang mereka dengar dari radio-radio Amerika Serikat yang dipancarluaskan dari Filipina atau Australia.

Ada beberapa fakta yang sangat mengejutkan dari band ini. Jauh sebelum publik rock terpesona dan berdecak kagum dengan permainan gila gitaris Jimi Hendrix pada tahun 1967, salah satu personil TheTielman Brothers, Andy Tielman, sang frontman telah memulai teknik tersebut pada tahun 1956 atau 11 tahun sebelum Jimi Hendrix bereksperimen dengan gitarnya. Gaya Andy dan teknik gitarnya sangat memukau. Gitar yang dipetik menggunakan gigi, kaki, jauh mendahului Jimi Hendrix.

Konon, Paul McCartney ternyata mengagumi band ini dan terinspirasi The Tielman Brothers sebelum The Beatles terkenal pada awal 1960-an. Maklumlah, The Tielman Brothers telah membawakan lagu-lagu rock n roll jauh sebelum The Beatles muncul. Saat The Beatles manggung pertama kali di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat penampilan The Tielmans Brothers yang manggung menggunakan Hofner Violin bass. Dan saat itulah untuk yang pertamakalinya Paul melihat Bass Violin Hofner. Andy Tielmans sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Fender sengaja mengirim representative-nya ke Jerman saat itu untuk merancang gitar buat Andy Tielmans.

Di tahun 1958 TheTielmans Brothers punya 3 album yang jadi hits di seluruh dunia dan memiliki banyak Gibson Les Paul keluaran pertama yang baru di impor ke Belanda saat itu.

Dalam perjalanan sebuah band, tentunya ada kisah yang tidak menyenangkan pula, seperti halnya pergantian dan keluar masuknya personil band. Bagi The Tielman Brothers, hal itu bukanlah masalah sehingga bisa membuat band ini harus berhenti di tengah jalan. Yang ada malah prestasi yang luar biasa, dimana mereka bisa tetap eksis dan tampil di beberapa Negara di Eropa selain Belanda seperti Belgia dan Jerman.

Sayangnya, di tahun 1976 band ini dikabarkan bubar karena boleh dikatakan permainan musik mereka terkesan mandek dan tidak ada perkembangan alias kurang eksploratif. Mereka bermain musik di tataran yang itu-itu saja, dan itulah yang akhirnya membuat publik menjadi bosan. Begitupun, karya mereka sampai sekarang masih sangat digemari di luar negeri, terutama di Belanda.

Kini tinggal Andy Tielman saja yang masih eksis bermain musik dan tinggal di Belanda. Di usianya yang sudah semakin senja, Andy Tielman kini lebih banyak rekaman untuk lagu-lagu rohani dan sesekali tampil di publik Belanda dengan gitarnya. Tentu penampilannya tak bisa seliar dulu lagi. Namun pengaruh Indo-Rock dan histeria "Beatlemania" tak urung meletuskan pula revolusi musik rock Belanda pada tahun 1960-an, yang ditandai dengan kelahiran band-band Belanda yang bernyanyi dengan bahasa Inggris. Band-band yang ngetop yang ikut meramaikan persaingan di Eropa maupun dunia antara lain Golden Earring, Shocking Blue, The Outsiders, Cuby+ Blizzards, atau Focus.

Selebihnya di link aslinya yah..



The Tielmans - Rolling Rock






The Tielmans - Black Eyes (Panon Hideung?)







The Tielmans - Rock It Up!





The Tielmans - Whole lotsa Shakin'






Andy Tielman - Rayuan Pulau Kelapa





touchy...

Mudah2an posting ini bisa bikin bangsa kita bangkit percaya dirinya, dan mudah2an juga dibaca oleh Tetangga supaya bisa kreatif dan gak maling mulu.. nyadar dong.. tuh disitu ada Rasa Sayange tuh... :D


Maling di Singapura

HP-ku dicolong orang..
Ya. Dicolong orang di stasiun MRT. Di Singapura.

Kejadiannya cepat sekali, dengan modus yg sama persis dengan di tempat lain di dunia ini.
Modus tertua. Distraction alias Pengalihan perhatian.

Ceritanya sore itu istriku telpon, minta tolong belikan dot buat botol susu bayi di Bugis. Kebetulan tak lama sekitar pukul 8 malam juga kakak dan ibu akan datang menengok kami. So, aku harus jemput mereka di pelabuhan Ferry Harbourfront.

OK lah.. kupikir. Beli dot dulu lalu kembali ke kantor selesaikan kerjaan sampai tiba waktunya ke pelabuhan.

Dengan riang gembira aku beli dot, lantas langsung menuju ke stasiun MRT buat kembali.
Kereta tiba.

Suasana agak ramai memang, hpku seperti biasa ada di kantong kulitnya di sisi kiri pinggang terlindung oleh tangan kiriku.

Waktu masuk ke kereta terasa dorongan keras sekali dari belakang, mendorong tidak bersahabat yg biasa dilakukan orang2 Singapur sini kalau mau masuk lift atau kereta. Tapi ini sedikit beda, dorongannya sangat keras seperti mau ngajak ribut saja.

Kesal. Aku lawan dorongan ini. Dorongan makin keras sampai badanku doyong ke depan, aku berbalik badan. Di sebelah kanan belakangku seorang bule gemuk sedang berjuang dengan tas kulitnya yg tak kalah besar. Tas disandang ke samping kiri. Sebelah kiriku seorang anak muda Cina jangkung berdiri. Hmm... aneh.

Eits nanti dulu! Seorang laki2 dari etnis Cina bertubuh gemuk, potongan rambut pendek2 paku dan baju kaos polo putih tiba2 menarik diri keluar dari kereta, posisi tangan kanannya setengah tertinggal di dalam saat dia menarik diri.

Ini nih kayaknya kampret yg dorong gua tadi.. (karena si Bule dan si Jangkung ini jg memandang penuh kesal ke arah dia).

Gua cuma bisa nyumpah2 liat tuh orang keluar dan berjalan ke arah kanan.
Tapi feeling bilang ada yg gak beres. Benar aja.. pas kuraba kantong kulit tempat HP, kosong!

F*CK!! kumaki keras sambil menghambur keluar kereta, kejar!!
tepat saat itu juga pintu kereta menutup di belakangku.
Toleh kanan-kiri sudah tak ada mahluk gemuk satu itu.. Kereta jalan... Masih sempat kulirik sekilas gerbong di pintu sebelah, brengsek!! Pasti si kampret itu kabur dengan masuk lagi ke dalam kereta lewat pintu lain.

Shit!!
Kalut, kesal, marah dan panik (karena satu2nya cara untuk menghubungi hp kakak adalah lewat hpku. Istriku gak punya nomernya) aku lari ke atas, cari sekuriti.

Ah itu dia! Dua sekuriti, seorang lelaki Cina tua dan seorang perempuan India muda sedang ngobrol seru.

Excuse me. Could you help? I've just lost my mobile phone. Someone stole it just now.

a moment of silence. until.... "So?"

What?! "So?"?????

What do you mean with "So?"??
Am I not supposed to report to you or something??

"No. Go there to MRT staff. May be he can help you."

WTF... #$%%#H@!!!

MRT Staff (berpakaian merah muda), seorang lelaki India muda.
ramah dan penuh empati. Dia menolong menelponi hpku yg memang masih diangkat walaupun tak dijawab. background suara terdengar seperti sama dengan di stasiun ini.

Beberapa kali, akhirnya kami putuskan untuk mencoba mencari ke bawah. Siapa tahu orang itu masih disini.

Sembari menunggu staff ini bersiap2, kulayangkan pandangan ke sekeliling. Asli sorot mata dan suasana hati saat itu persis kalau kita lagi siap2 mau tawuran. Adrenalin diproduksi dan dipompakan ke seluruh tubuh. Semua indera siaga.

Seorang lelaki Cina gemuk, berkaus polo putih membawa tas pinggang yg diselempangkan di samping terlihat mengamati dari jauh.

Kesal. tatap mata kubalas mata. Dia masih melihat. Seulas senyum tersungging. Kok seperti senyum meremehkan nih..

Kampret. Gua samperin nih orang!
10 langkah lagi, dia buang muka. gak lagi ngeladenin tatapan gua.

5 langkah. akal sehat gua mulai jalan.
Mahluk satu ini datang dari arah luar stasiun tadi. Dia mulai ngeliatin gara2 gua pelototin tiap orang yg keluar masuk dari gerbang tiket.
Hmm.. kecil kemungkinan mahluk satu ini yg nyopet.

3 langkah. Mas2 Staf MRT itu manggil. 'wait for me.'
Rupanya dia manggil si Sekuriti ngepret itu tadi buat ikutan turun ke bawah.
huh.. sekuriti model gini mah.. ada maling jg paling cuman pura2 ga tau doangan..

Lelaki gemuk itu sudah jauh. sebuah kereta mendekat dan dia masuk ke dalam.

Di bawah, setelah diubek2 sekitar 15 menitan.. nyata sudah gak ada orang seperti ciri maling tadi. hp ku jg sudah dimatikan rupanya oleh si maling.

Brengsek benar2 sial. Gimanalah cara gua ngontak kakak dan emak yg baru pertama kali datang ke Singapur dengan feri nanti?
Belum lagi catatan2 penting dalam hp, puisi2ku, tulisan2ku, foto2 Keiya dan Mufasa saat lahir kemarin.. shit..

Belum lagi hilang kesalku, pas tiba di kantor... Beberapa teman Singaporean yg kebetulan masih ada dan lihat wajahku menghitam bertanya ada apa.

Tau aku kecopetan, komentar pertama mereka..
"Sure or not.. This is Singapore, you know.. This is not Jakarta."
"We dont have such thing happened here."

NENEK LO!!
lu kata gua ngibul apa???

Yes, this is singapore and yes that happened in Singapore's MRT station.

"Aaa... must be foreigner that one! you must be careful with those foreign worker, you know."

Ngepet. Another typical Singaporean's stereotype -- blame it to those foreign worker. They look rouge with blackened skin for working under the sun.

Nope. Dont think he's a foreigner. (foreigner yg mereka maksud disini tuh orang Tamil, India, Melayu, Indo yang dateng sini buat kerja2 kasar).

That was a chinese guy. I dont know if what you mean as foreigner is Mainland Chinese then you maybe right. He's a foreigner then..

Waahh.. can not be lah..
You must have shown off your belongings, some more (=moreover; in standard english) your face look like rich people like that.. That's why you kena pickpocket!

Another typical Singaporean's stereotype.. blaming the victim.

Capee deh gua... males ngeladeninnya gua tinggalin aja buat nelpon sana sini nyari nomer kakak gua itu. Prioritas deh.

Hape toh bisa diganti lagi nanti.
Shit.. bener2 sial ini hari.

Walhal, setelah jungkir balik cari no telpon kakak dan gak bisa dihubungi (!)
gua pun buru2 turun ke halte depan kantor buat nyari taksi. gapapa deh sekali ini ngasih badan yg udah lelah dan terlambat ini naek taksi.. sekali2

and.. you know what?? Singapore is the only-self-proclaimed-first-world-country in this world yg orang kudu nunggu 45 menit sampe sejam buat naek taksi dari Taxi Stand (halte taksi) di Distrik Bisnis Utama di jam 8 malam (jam sibuk kah ini??)!!!

Taksi lewat banyak, tapi rata2 majang tulisan "Jurong", "Tampines", "Airport only".
Tandanya mereka milih2 penumpang. Sementara taksi lain lebih milih klinang klinong dengan tulisan "On Call" di atapnya. Tandanya mereka ambil penumpang yg memesan/telepon booking taksi. Si Supir dapat uang booking sgd 3.5 tambahan dengan cara ini.

Selebihnya? taksi2 kosong dengan sign "BUSY" terpampang di atapnya.

Ini belumlah lagi selesai ternyata... di halte ini ada sekumpulan orang India yg mungkin memang dari budaya asalnya tidak terbiasa ngantri. Berdiri nanggung setengah di antrian setengah di luar antrian, tiap ada taksi mendekat mereka lari menyongsong sambil menyebutkan tujuannya.. Meninggalkan penumpang2 lain yg terbengong2 dipotong antriannya..

Well, another typical Singaporean.. gada yg berani negur, cuman berani marah2 ngedumel sendiri atau ke orang sebelahnya.

Gua sendiri kebetulan masih belum ngeh karena baru ngantri. Tapi pas yg kedua kali terjadi, kesal karena hilang hape-diperlakuin secueknya sama sekuriti-orang cina gemuk yg sok2an melototin gua tadi--- semua kesal ini numplek jadi satu.

Tuh india gua tereakin!
"Are you queueing or not?? If you are not, get out from the line then call for a cab! If you are, then wait for your turn!"

belum puas... soalnya si bapaknya dengan cuek jawab, "yes2 of course we're queueing."

"We all in a hurry here. So please respect others!"

Mata gua udah merah, kalo aja dia mancing ribut pasti udah gua ladenin en udah kejadian.

Tunggu punya tunggu tak datang2 taksi yg kosong. 45 menit. Aku sudah terlambat 30 menit dari kedatangan kapal. Shit..

Akhirnya kuputuskan pakai MRT ke Harbourfront, sampai sana aku sudah telat sejam.
Kakak dan Ibu harusnya masih menunggu di pintu keluar imigrasi. Tapi kok gak ada..

Pas iseng telepon ke rumah.. ternyata mereka sudah sejak tadi di rumah... :(
ampun dah gua...

Bener2 sial gua hari ini... :(



(Wed, 14 Nov 07.)

ps: no hp tetep gak berubah, cuma gua belum sempat urus sampai saat posting ini.
tapi begitu diurus no yg sama akan dipakai lagi. so please keep it.

Saturday, October 13, 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

Selamat Hari Raya Fitri
Semoga Ramadhan kemarin tak sia-sia
Semoga pula masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan berikutnya
Amin

Mohon maaf lahir dan batin

Tuesday, September 25, 2007

Foto-foto Adek Mufasa 2

My Sister Keiya Aleysha came visiting.. She looks very happy.. :)

Then Comes Daddy.. We took picture together.. The three of us.

Daddy, Kakak Keiya, and Me..

In Daddy's arm... Warm..


Feel like to open my eyes..

Paappppiiiiipppp......! (Oww.. so this is how world looks like.. Hmm..)

I think.. I better go back to sleep.

With Mommy.. :)
And this is my proud Daddy.
Selebihnya bisa dilihat di www.keiyafiles.multiply.com yah..

Foto-foto Adek Mufasa







Adek Mufasa, saat baru berumur 15 menit.
Laki-laki. Ditimbang: 2.95kg











Habis itu diukur..Panjang 50cm, Lingkar Kepala 34.5cm









Selesai dibersihkan, dipasangi pampers lalu dibedong.

Habis ini pakai baju dan siap ketemu Mommy..










Mommmyyy.....









In Mommy's Arm...Zzz..... Zzz.... Zzz....

















Sleeping Handsome..

To Be Continued....

Sunday, September 23, 2007

Mufasa Raiqa Umar Mursalin

Jumat, 9 Ramadhan 1428 H, 15.20 Sin.
Hari ini anak kedua gua lahir.
Perjalanan pertama mendampingi istri melahirkan (saat yg pertama dulu, kebetulan tidak ada di sisinya waktu ia melahirkan).
Operasi dijadwalkan pukul 14.00, gua sampe terbirit-birit selama sholat Jumat takut ketinggalan jadwal lahiran (biarpun sempat tidur juga sih waktu khotbah -- ngantuk brur! begadang akhir2 ini, solider dengan susah tidurnya istri).
Buru-buru setelah sholat aku berlari-lari ke rumah sakit, terus langsung bawa istri ke ruang operasi caesar secara si suster jg udah menggebah2 nyuruh cepat karena "dokter dah nunggu" katanya.
Cerita punya cerita belakangan ketahuan kalo dokter kandungannya sendiri baru nongol jam 3! Dodol..
Pukul 15.20 pas lagi ngantuk2 deg2an depan lift lobi, terdengar suara suster nyari2 ayah seorang bayi, "Are you husband of Santy?"
"No", kedengaran satu suara bapak2, "Am waiting for my wife"
Weh.. jangan2 ini buat gua nih...
"Yes, Am the husband..", gua nongolin muka-udah-gak-ngantuk-lagi.
Ternyata benar! Itu anakku! :D
Woaa...
Udah gak sabar pengen adzan dan iqamat di telinganya, sementara ini suster satu cuma cuek2 aja.. :(
Kucoba minta ijin 'mendoakan anak', kataku.
"Later", dia jawab. Mau diukur+timbang dulu.
(Weh.. gawat nih.. masa kata pertama yang anak gua dengar bukan kalimah tauhid sih. tapi suara singlish si suster satu ini..) :(
Apa boleh buat waktu anak ditimbang en si suster keluar nyari pulpen, aku curi2 adzan dan iqamat di telinganya. Hehehe kurang meyakinkan sih, soalnya buru2 gitu.
Akhirnya setelah berkali2 nyeri hate en nahan gondok sama si suster yang dengan nyantainya angkat kaki anak gua kayak ngangkat anak kucing, akhirnya anakku selesai juga.
"Do you want to hold him? Here you are. You can do your prayer now, that's the sign.", Katanya sambil nunjuk ke tanda panah di eternit.
Lah? Gehehe.. ternyata si suster ini dari tadi nyangka gua mau bawa anakku sholat toh! :D
Pantesan dia juga kayak yang bingung liat gua blingsatan gak sabaran sambil bilang berkali2 soal adzan (prayer call) tadi.. hehehe..
Setelah puas gendong2, saatnya kirim2 kabar. Tadi di timbangan gua liat beratnya 2.95 kg (kata dokter sih 3.2kg pas ketemu di pintu tadi. Berat bayi cenderung susut sih sesaat setelah keluar).
Nah tingginya berapa? gua tanya sama suster tadi, 34.5cm katanya. Berapa? 34.5cm, ulangnya. Weh. Lengkap sudah.
Mulai ngesms deh.. Telah lahir anak kami laki2, berat 29.5kg, panjang 34.5cm. dst..dst..
Sent!
Gak berapa lama, Emak (nenek si bayi) telpon..
"Itu anak tingginya bener enggak? Kok pendek bener?"
Wah.. iya juga yah.. waktu Keiya aja dulu 51cm..
"Bener sih tadi kata si suster yang ukur.", jawabku. "Wah.. Cebol dong. Salah kali.."
Emak masih ngotot bin penasaran.
Gua jadi penasaran juga nih.. terutama setelah Ibunya sadar en ikut protes juga. Aku cek lagi ke buku data si bayi, ternyata.... 50cm!
Suek tu suster... :D
Hahaha.. terpaksalah dikirim ralat berita ke semua orang.. :D
Lepas kasus tinggi ini, datang pula 2 sms dari temanku yang tanya soal beratnya.. Bener nih 29.5 kg?? Anak gw aja udah umur 1 tahun cuman 10 kilo loh.. hahaha..
Sial.. gw salah ketik lagi.. biarin deh.
Dijawab aja.. "Bener. Itu tadi nimbangnya sekalian sama ari2nya." Hehehe..
Cerita berikutnya yang muncul adalah...
Nguburin ari-ari. he..he..he..
Ngek! Dimana???
Ini Singapur, bung! Hohoho
Terpaksalah layaknya sepasang maling ayam & tersangka kriminal pembunuh kucing, gw + Khaerul (tetangga rumah di Balam) ngiderin kompleks rusun kami nyari tempat yg strategis buat ngubur.
Akhirnya diputuskan untuk menggali lubang malam2 itu juga di belakang gedung parkiran mobil tepat di bawah pohon.
Mana tanahnya keras banget lagi.. Terus cuma modal 1 alat doangan.. :D
Alhamdulillah.. setelah kerja keras bercucuran keringat gak kalah sama romusha pembangunan jalan anyer-tegal, lumayanlah tergali juga tanahnya.. barang 50cm dalamnya. Mudah2an tidak dibongkar anjing (jarang lewat sini sih kayaknya).
Pas lagi seru2nya menggali lewat beberapa anak muda yang langsung kasak-kusuk curiga, maklumlah di negeri liliput yang kekurangan berita sensasional ini... hal beginian bisa bikin orang curiga en lantas lapor.
Gua lirik Khaerul yang agak grogi jg sama kasak-kusuk barusan..
"Bawa IC (katepe) kan, Mas?", tanyaku.
Kali2 aja ntar kita didatengin polisi.. sambungku kalem.. gehehe...
Setelah dikubur dan baca Al Fatihah, diiringi tatapan curiga pemuda setempat kamipun beranjak pergi. Lumayan jg capeknya.
Tapi puas.
Welcome to the world, Mufasa Raiqa Umar Mursalin.
(Temasek, 9th Ramadhan 1428 H, 15.20 Sin.)
That's Friday, 21 September 2007. 15.20 Sin.

ps: Many thanks to Mas Khaerul for the help. May Allah bless you and your family.

Wednesday, September 19, 2007

Happy Birthday, My Angel..



Happy Birthday, Love

May Allah's blessing will always be with you
May Allah's guidance will always be in you way

May Allah protect you in this world, today and beyond.
May all your wishes come true

We love you, Little Angel
Our love, wishes and prayers will always be with you
in every step you make, forever.

Happy Birthday, Keiya Aleysha.


--papip and mamam
(Temasek, 19 September 2005)

Friday, August 31, 2007

Indonesia dan Tetangga-tetangganya


Belakangan hubungan antar dua negara bertetangga ini kembali 'memanas'.
Berulangkali Indonesia (sebagai bangsa, bukan sebagai pemerintah) merasa kecolongan oleh ulah Malaysia.
Dimulai dari hilangnya Sipadan dan Ligitan, diusirnya pendatang tanpa izin Indonesia dari Malaysia, ditembakinya nelayan-nelayan kita di perairan nasional Indonesia di Sumatra (oleh Tentara Diraja Malaysia), sengketa Ambalat, sampai disiksa dan matinya TKI-TKI kita.
Kasus terakhir yg kembali menyentak adalah dipukulinya wasit Karate Indonesia oleh 4 orang polisi Malaysia. Wasit yang merupakan tamu undangan Malaysia untuk Turnamen Karate Internasional ini pulang ke tanah air duduk di kursi roda, terancam kehilangan pendengaran, terganggu penglihatan dan pendarahan di kemaluannya.
Hal ini terasa mengganggu bagi saya.
Dari satu sisi Indonesia memang tidak sepenuhnya bersih dari kesalahan. Utamanya di kasus banyaknya pendatang liar kita yang merusak dan mengacau di negeri orang. Ini dikarenakan lemahnya sistem informasi kependudukan dan imigrasi kita.
Tapi di sisi lain adalah betapa lemahnya posisi tawar kita dalam setiap kasus ini.
Kasus Sipadan Ligitan contohnya. Indonesia kalah dikarenakan Malaysia sudah terlebih dahulu membangun resort di pulau-pulau itu. Ditambah lagi TDM Laut sudah lebih dulu melakukan patroli rutin disana. Mereka lakukan itu semua dengan tenang tanpa takut akan 'gangguan' dari pihak berwenang Indonesia.
Kasus TKI, seolah-olah bangsa kitalah yang butuh setengah mati untuk bekerja di sana (sepertinya pernyataan ini benar dan bukan seolah-olah) sehingga segera semua yang datang liar dipulangkan untuk dilengkapi dokumennya lantas dikirim balik. Lagi-lagi walaupun hal ini sempat melumpuhkan industri konstruksi Malaysia, mereka tetap lakukan hal ini dengan tenang tanpa melirik sebelah matapun pada Indonesia.
TDM Laut Malaysia menembaki dan melukai ABK kapal nelayan di perairan Sumatra Utara dengan tanpa rasa bersalah. Ketika mereka semua naik ke atas kapal, nelayan kita bertanya apa salah mereka? Mereka ada di perairan Indonesia. Tanpa minta maaf atau berkata apa-apa, TDM Laut itu hanya melirik sekilas ke semua ABK yang tergeletak diterjang peluru dan kembali ke kapal mereka. Melanjutkan 'patroli'.
TNI AL dengan kapal 'antik'-nya tak bisa berbuat apa-apa ketika menerima laporan. Bahkan mengidentifikasikan TDM Laut bermata gelap itupun tak bisa dilakukan.
Ini menyakitkan.
Ini membuka mata betapa bangsa kita sudah tertinggal dibanding tetangga satu ini.
Bidang ekonomi tak usahlah dibahas, semua tahu betapa sedang sempitnya terasa bernapas di kubangan lumpur ekonomi Indonesia.
Tapi di bidang militer yang seharusnya jadi efek penangkal pun kita kalah jauh!
Hemat saya, militer kita haruslah kuat dan mempunyai kemampuan ofensif.
Karena hanya dengan begitulah maka efek tangkal akan dirasakan oleh negara-negara sekitar.
Yang jadi masalah sekarang lagi-lagi masalah dana. Modernisasi peralatan perang kita makan banyak uang, yang sialnya tidak banyak tersedia. Ditambah lagi strategi pertahanan kita yang lalu yang lebih berat ke Angkatan Darat.
Sebagai negara kepulauan (terbesar di dunia), seharusnya Angkatan Laut dan Udara kitalah yang lebih kuat dan mumpuni. Kebutuhan ini sudah tidak bisa ditawar-tawar. Minimal untuk menjaga kedaulatan dan tapal batas, Angkatan Laut kita harus dibenahi.
Caranya apakah beli dari luar lagi? Untuk peralatan-peralatan strategis seperti ini kalaupun belum bisa dibuat sempurna, sebaiknya Indonesia sudah mulai membikin sendiri. Dephan haruslah mendorong industri strategis kita untuk berkembang dengan cara menjadi pembeli pertamanya.
Toh penyempurnaan pasti akan dilakukan seiring dengan terujinya produk di lapangan.
PT PAL haruslah diberdayakan. PAL harus bisa membuat minimal sekelas Fregat atau Kapal Perusak untuk kebutuhan Angkatan Laut kita. Kalau kelas patroli pantai rasanya sudah bisa buat.
Kalau PAL kebagian membuat platformnya, maka LAPAN bisa bantu dengan peluru kendali, Pindad menyumbang senjata berat konvensional, sementara PT DI menyumbang helikopter dan sistem navigasi pertahanannya. Saya kok yakin sebenarnya kita bisa.
Setelah Angkatan Laut, rasanya minimal Sistem radar kita dibenahi. Daerah Timur Indonesia sangatlah banyak yang bolong. Di masa pergolakan Tim-Tim lepas dari Indonesia di saat yang sama pula banyak pesawat dan helikopter Australia terbang wara-wiri Tim-Tim - Maluku. Saat itu di Maluku sedang marak pula gerakan separatis RMS yang mendompleng perang agama antar saudara.
Sistem radar kita lemah.
Sambil membenahi sistem radar ini mungkin dapat pula dimulai pembuatan pesawat jet tempur nasional, awalnya mungkin dari lisensi atau bahkan kalau mau ekstrim seperti China. Beli pesawat dari Amerika/Rusia, lalu dipreteli. Dipelajari disainnya dan ditiru mentah-mentah.
Hasilnya sekarang China sudah bisa buat pesawat tempur sendiri.
Kalau memang dirasa berat juga, paling tidak PINDAD yang sudah berhasil membuat peluru kendali jarak menengah dapat dikaryakan untuk membuatnya dalam jumlah massal. Peluru-peluru kendali inilah yang harus disebar di penjuru negeri menggantikan peran pesawat tempur bila ada penyusup (wah.. hehehe.. peluru kendalinya Pindad sudah secanggih ini belum yah?)
Kalau sudah begini, Tentara bisa mandiri dari ketergantungan senjata pada pihak luar paling tidak negara-negara tetangga mikir berkali-kali buat macam-macam.
Sukur-sukur para koruptor keparat perampok uang rakyat itu bisa mulai dihukum mati.
Hal lain yang tak kalah pentingnya (malah bisa jadi jauh lebih penting) adalah membenahi sistem pendidikan kita. Supaya bangsa kita tidak harus pergi menjadi kacung di negeri orang hanya untuk menghidupi sanak keluarganya.
Kalaupun harus pergi ke negeri orang, paling tidak tak mesti jadi pembersih pantat anak majikan lah. Tapi kalau memang masih mau juga.. Pemerintah harus beri perhatian lebih pada kemampuan komunikasi. Aspek bahasa, utamanya Bahasa Asing.
Karena dengan mengerti bahasa setempat, Pekerja-pekerja Migran kita bisa membaca sendiri peraturan di negara orang dan bisa mengerti haknya.
Jangan ada lagi kasus pekerja kita ditipu tak dibayar upahnya atau bahkan dituduh macam-macam hanya karena secara legal dia menandatangani peraturan yang membacanya pun sudah bikin matanya keriting.
Ah.. jadi kemana-mana, cuma gara-gara hati geram membaca tingkah polah negara tetangga.
Tapi mungkin mental orang kita harus seperti itu. Kesandung dulu baru belajar. Dipukuli dulu baru cari guru beladiri. Hilang dulu Sipadan Ligitan, baru mau beli Kapal Laut. Dipandang sebelah mata dulu oleh Singapur, baru cari kreditan beli pesawat tempur dan kapal selam..
Mudah-mudahan sejak kasus ini semua jadi mau belajar.
(Temasek, 31 Aug 07)

Malingsia?

Waktu kemarin kalian aku batik sebagai hakmu,
kami diam.
Biarlah.. toh kalian masih saudara.

Waktu kalian aku sate sebagai hakmu,
kami masih diam.
Biarlah.. kalian dan kami satu nenek moyang.

Lalu berturut-turut rendang, tempe, angklung...
kami masih tersenyum walaupun dongkol di hati.

Tapi ketika lagi-lagi kalian berulah!

Terhadap saudari-saudari kami
yang pergi jauh demi anak mereka,
Terhadap saudara-saudara kami nun di pulau pencil sana,

Terhadap hutan-hutan kami di Kalimantan,
Terhadap nelayan-nelayan kami di laut kami sendiri,
Terhadap harga diri bangsa kami!

Kami tak bisa terima!!

Cukup!!

Kalian siksa saudari-saudari kami!
Kalian ambil tanah dan pulau kami!
Kalian tembaki nelayan kami di laut kami sendiri!
Kalian undang saudara kami hanya untuk dipukuli!
Cukup sudah!!

Hey, Pak Cik!
Apa mau kalian?


INI DADAKU, MANA DADAMU?!


(untuk saudara-saudara serumpun setetangga yang tak paham tampaknya tata krama)

Tuesday, August 28, 2007

People's Republic of China

Tak putus rasanya nikmat mengalir pada diri buruk ini.
sayang.. manusia memang tak pandai bersyukur..

Awal September lalu, sempatlah diri buruk ini diberi kesempatan melanglang ke negeri Tsin.
Belajar sebagaimana diperintah oleh Sang Nabi.
Sayang.. terlupa nampaknya Beliau mengingatkan di sana semua2 benda disebut makanan, semua2 cairan disebut minuman. Ah, mungkin saya saja yg tak menangkap makna suruhannya..

Beijing Airport, 6 Sept 2005

Sebuah bandara yg dikelilingi persawahan dan gedung2 tinggi pemukiman di latar belakang. Dari atas nampak gersang dan (maaf) usang. Tapi setelah mendarat ternyata besar juga.. biarpun apa yah... ada hawa yg beda terasa. Gak tau deh.. mungkin gara2 guanya aja yg jadi buta huruf mendadak begitu mendarat disana.

Bandara - pusat kota lumayan jauh, tapi mata yg penat lumayan terhibur dengan pemandangan pinus kanan-kiri dengan matahari senja yg bulat menggantung dan.... jantung pun ikut 'sehat' menikmati gaya berkendara khas tirai bambu. Serasa ada di rumah... :p

Waktu itu musim apa yah.. pokoke cuaca gak panas, gak dingin. ngepas2 aja...
Sampai hotel setelah istirahat sebentar, jalan2 deh ke sentra bisnisnya Beijing.
Wang Fu Jing district. Mau barang apa aja ada (tapi plesetannya). hahaha... ada toko olahraga yg gede banget en jual perlengkapan yg ijk lihat sepintas bak "NIKE", tapi kok diusut2 ternyata plesetannya.... :D

Lapar. Mata tertarik pada sebuah tulisan beraksara latin "Dongsun Lai Muslim restaurant". Nah.. ini die nih... hehehehe... masuklah ke dalam untuk kemudian disambut ramah dan disodori menu berbahasa.... cina. :D

hekekekek.. singkat cerita makanlah dengan lahap.. tapi yg bikin bingung itu resto jelas2 Muslim restorant minuman yg dijualnya itu lebih banyak bir en wine-nya.. gimana jeh.. hehehe

Setelah selesai makan dan sukses menolak berbotol bir dan anggur yg disodorkan, saya pun kembali ke hotel. Jalan kaki saja, iseng.

Untuk sampai saya harus mutar lewat depan Kota Terlarang atau jalan menelusuri belakangnya.. atau nah ini yg rada mantep.. memotong jalan lewat dalem dengan resiko kepergok penjaga2 berseragam Tengtara Pembebasan Rakyat! (tentaranya masih sangat muda dan culun2. taksiran saya umur mereka spt baru lulus smp).

Wah ini istana ternyata luasnya bener2 segede kota kabupaten sendiri! nggeblegh.. untung gue tadi kagak milih opsi kedua--muterin Kota Terlarang lewat belakang, kalo iya kan kojor juga!

Di dalamnya (Sebetulnya ini belum dalam2 amat sih, masih terhitung di pekarangannya juga. Soale yg dalam kalau malam ditutup gerbangnya dan dijaga tengtara culun berkaos singlet) ternyata luas juga. ada danau (?) buatan kecil dengan bale bengong yg cantik di tiap sudutnya.

Pas lagi jalan sambil ngerutukin nasib yg gak bisa basa cina en gak nemu taksi lewat, gak sengaja lihat sosok yang saya kenal. Itu BMW seri R!!

Setengah lari saya menghampiri motor cantik ini (yang punya lsg berdiri pasang kuda2 gitu pas liat gua mendekat). Hijau lumut dan ber-zijspan/kereta gandeng. Weeehh... kaga nyangka ketemu kita di Cina! hehehe..


Eh, tapi setelah tak amat2i.. kok ada yg mencurigakan ama ini motor..
Huakakakak.. pas udah deket keliatan tulisan di mesinnya "XiangJiang"
Hehehe... ujung2nya ngobrol2 sebentar deh sama yang punya, sambil kasih tunjuk foto si Bule yg ada dalam hp.


entar yah dilanjutin lagih...

(10 des 2005)

Saturday, August 25, 2007

Waktu

Demi Masa.


Sesungguhnya manusia itu merugi.
Kecuali mereka yang percaya
dan berbuat baik.

Dan saling menasehati
dalam kebaikan
dan kesabaran.

-----------

Friday, August 17, 2007

Selamat Ulang Tahun Indonesia

Merdeka!!

Selamat Ulang Tahun, Bangsaku.
Bangsa yang berjuang dan memenangkan kemerdekaannya.

Kini saat kita semua bergerak maju.
Berpindah dari persamaan sejarah dan derita nestapa ke persamaan tujuan.
Persamaan Gagasan!

Bahwa Bangsa kita bisa maju.
Bahwa Bangsa kita tidak dicipta untuk jadi pecundang.

Bangsa ini bangsa yang besar.
Sejarah membuktikan itu, sayang tidak semua kita tahu.

Mari kita gali kembali kejayaan bangsa kita!
Mari kita lupakan perbedaan dan gandeng tangan kerja keras untuk maju!

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka!!




(Temasek, 17 Agustus 2007)

Thursday, August 16, 2007

Emangnye Gua Pikirin...!

Kalimat ini muncul kembali di benak ketika terbaca di salah satu milis yg saya ikuti. Kalimat brengsek satu ini!
Saya sudah tidak suka dengan kalimat ini di saat pertama kemunculannya (kalau tak salah diucapkan oleh Indro di salah satu film Warkop DKI). Tidak mendidik!
Kalimat ini menumpulkan kepedulian.
Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau tiap kali ada perbedaan pendapat yg tidak bisa kita jawab dengan otak lantas dengan entengnya diucapkan kalimat seperti itu.
"Emangnya gua pikirin..!", "Cuek aja...", "Sebodo amat..!", "So wot geto loch..!"
Kalimat-kalimat seperti ini awalnya mungkin cuma untuk asyik2an aja.. funky2an bumbu pergaulan.. tapi sebagaimana pertumbuhan pergaulan di remaja.. yg awalnya hanya terucap lantas dirasa tak lagi cukup. lalu ternyatakanlah lewat perbuatan..
Yang awalnya cuma bilang... Udah cuek aja... takut amat sih... (tapi tetep gak berani ngelanggar), akhirnya setelah sekian lama... "Lu cuak cuek cuak cuek tapi lu sendiri gak berani. Ayo kalo emang cuek, ayo lakuin!"
Coba bagaimana saudara mau membela diri depan polisi ketika dituduh melakukan pelanggaran yg tidak saudara lakukan kalau si polisi dengan cueknya bilang "emangnya gua pikirin..."
atau coba bagaimana saudara bisa menambah wawasan lewat diskusi bila tiap ada beda pendapat yg bertentangan dengan pendapat saudara dan saudara tak bisa jawab pakai otak; lantas gampang aja.. "so wot geto loch.." "gak penting banget deh!"
*Kalo gak penting ngapain dari awal diskusi????
Saya berani taruhan kalimat brengsek dan segala rekan2 sebangsanya ini menyumbang andil besar pada tulinya wakil rakyat kita, pada tidak pedulinya aparat hukum kita, pada bejatnya sumbangan tayangan hiburan kita...
Bukannya apa-apa kalau tulisan ini sarat nada kekesalan, karena buat saya sikap yg seperti inilah yg menghambat kemajuan kita sebagai bangsa.
Ketika salah seorang aparat pajak ditanya tentang kenapa kok amburadul proses pemunduhan pemasukan dari pajak di negeri kita? kenapa banyak wajib pajak yg sudah bersedia membayar malah dijadikan sapi perah oleh petugasnya dan itu dibiarkan saja? kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu yg intinya mengajukan usul, mengajak dialog mencari solusi demi kemajuan... eh... jawaban yg diterima malah....
"Lu pusing mikirin pajak di negeri ini?? Ngapain lu pusingin?? Gua aja gak pusing. Kagak peduli gua... Emangnya gua pikirin mau pajak beres kek kagak kek! yang penting hepi!!"
*Yg jawab ini adalah orang dari dirjen pajak.
Entah sampai kapan bangsa ini sadar akan ketinggalannya.
Huh!

Friday, July 13, 2007

Neighbour


Beberapa waktu lalu saat sedang marak ribut2 soal numpang latihan perang2an antara dua negara bertetangga, suatu sore saya berbincang dengan seorang uncle tetangga sebelah rumah.

Yah.. namanya juga tinggal di rusun. Wajar kalau sering bertemu muka.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si uncle ini tiba2 bilang:

"Negara saya ini makmur tapi kecil. Karena itulah kami selalu kena bully oleh negara kamu. Karena negara saya ini kecil."

(wah, apaan nih..) pikir saya.

Usut punya usut ternyata beliau mengikuti perkembangan soal perjanjian buat main perang2an antara dua negara tetanggaan ini. Hehehe..

Saya agak malas sebetulnya meladeni. Tapi berhubung si uncle nembak terus pakai mitraliur terpaksalah... putar otak buat jawab biar "kena".


"Wah am so sorry, Uncle. I dont really follow the political situation."

Ada barang 2-3 menit setelah itu kami larut dalam diam.

"Uncle.."

Saya mau cerita nih.. sekalian tanya pendapat, Uncle.
Misalnya uncle punya anak, anak uncle ini bandelnya setengah mati. Sementara uncle sendiri tidaklah seberapa makmur untuk menggaji pembantu mengawasi anak ini.

Suatu hari anak ini mencuri uang uncle, lumayan besar sampai hampir bangkrut uncle dibuatnya. Uncle belum tahu nih.. bagaimana kok bisa hilang itu uang, cuma uncle tahu si anak inilah yg mencuri.

Sebelum uncle sempat berbuat apa2, anak ini lari. Kabur.
Ke rumah saya. Saya tahu dia sedang uncle cari dan dia kabur setelah berbuat nakal di rumahnya.


Now, what do you say when..

a) Instead of telling you that he's in my house, I welcome him with open arms and offer him one of my room to stay.

As long as you be my "permanent resident" and "pay the rent", I said to him.

b) I know he brings a lot sum of money, so I offer him a joint cooperation. You may open your business here, I have a very relaxed policy on setting up business in my house front yard.

As long as you pay the tax, I'll let you do it.

c) When he has difficulties selling the products, I help him by selling those products --produced using your stolen money, Uncle -- to YOU. His father, the real owner of the money.

Well, I have a cart business in front of my house anyway, it makes things simple.

So, Without much sweat I managed to get some profit by selling things made from your stolen money to you.

d) After several months, you find out that your son--the criminal-- is hiding in my place.

Alive, sound and wealthy -- Thanks to my assistance.

But you cant do anything to bring him back by force -- Eventhough you're older but you're not as powerful as I am and I made you "owe" so much to me by always lending hands whenever you got struck by a typhoon or whenever your house got earthquake etc. So you come to me, appealing to have him back.

e) Instead of handing him over to you, I require you a condition to have him back.

First, he must be convicted as criminal (who am I to ask this?? but you cant do anything, can you? You need me.)

Second, in exchange for my 'assistance' you must let me in to your house and provide a designated area for me to do my own things.


Such as.. practising my shotgun, bomb training for my self defence, and doing my smackdown activities there. Every month at 15 days each.

Oh ya, you must also let me bring my other friends to practise our figthing skill. Dont worry, I'll help you fight fires in your garden in addition.

Saya berhenti sebentar. Tarik nafas dulu...


Now, Uncle. Let me ask you..

If All those really happened, will you not be angry to me for this?

Si Uncle diam. Mikir dia kayaknya...


"Uncle, that's how my country--my people feels. That's what we have in mind when your country requires so many things in exchange just to return OUR OWN people who do harm to us, OUR OWN people who steal from us."

"Now, after all this conversation... Do you still consider my country bullying yours?"


Tumasik, 13 July 2007.
*Just a fiction. Nothing's real.