berdiri gamang memandang
melacak masa depan yg berbayang kabut
bertanya-tanya dalam hati selalu
adakah semua gerak ini terlahir yakin diri
melangkah ragu masuki bebayang
setengah hati terbuntal tinggal di belakang
dipenuhi cinta dimaksud jadi bekal
pedoman waktu tak lagi berarti
nurani kata hati diam hilang petunjuk
biasanya penuh rewel ia menyemangati
setengah langkah ragu tertahan
sementara ini adalah hidup dan mati, bung
kau tak lagi sendiri
langkahmu bukan lagi hanya kehendak hatimu
ada dua lagi yg terikut disana..
atau kau mau lari justru di saat seperti ini?
Kau yang peragu.
(Meja Kerja-Slipi, 27 Oktober 2004. 11:57 siang hari)
Wednesday, October 27, 2004
kala datang badai yg dicipta sendiri
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment