generated by sloganizer.net

Sunday, September 23, 2007

Mufasa Raiqa Umar Mursalin

Jumat, 9 Ramadhan 1428 H, 15.20 Sin.
Hari ini anak kedua gua lahir.
Perjalanan pertama mendampingi istri melahirkan (saat yg pertama dulu, kebetulan tidak ada di sisinya waktu ia melahirkan).
Operasi dijadwalkan pukul 14.00, gua sampe terbirit-birit selama sholat Jumat takut ketinggalan jadwal lahiran (biarpun sempat tidur juga sih waktu khotbah -- ngantuk brur! begadang akhir2 ini, solider dengan susah tidurnya istri).
Buru-buru setelah sholat aku berlari-lari ke rumah sakit, terus langsung bawa istri ke ruang operasi caesar secara si suster jg udah menggebah2 nyuruh cepat karena "dokter dah nunggu" katanya.
Cerita punya cerita belakangan ketahuan kalo dokter kandungannya sendiri baru nongol jam 3! Dodol..
Pukul 15.20 pas lagi ngantuk2 deg2an depan lift lobi, terdengar suara suster nyari2 ayah seorang bayi, "Are you husband of Santy?"
"No", kedengaran satu suara bapak2, "Am waiting for my wife"
Weh.. jangan2 ini buat gua nih...
"Yes, Am the husband..", gua nongolin muka-udah-gak-ngantuk-lagi.
Ternyata benar! Itu anakku! :D
Woaa...
Udah gak sabar pengen adzan dan iqamat di telinganya, sementara ini suster satu cuma cuek2 aja.. :(
Kucoba minta ijin 'mendoakan anak', kataku.
"Later", dia jawab. Mau diukur+timbang dulu.
(Weh.. gawat nih.. masa kata pertama yang anak gua dengar bukan kalimah tauhid sih. tapi suara singlish si suster satu ini..) :(
Apa boleh buat waktu anak ditimbang en si suster keluar nyari pulpen, aku curi2 adzan dan iqamat di telinganya. Hehehe kurang meyakinkan sih, soalnya buru2 gitu.
Akhirnya setelah berkali2 nyeri hate en nahan gondok sama si suster yang dengan nyantainya angkat kaki anak gua kayak ngangkat anak kucing, akhirnya anakku selesai juga.
"Do you want to hold him? Here you are. You can do your prayer now, that's the sign.", Katanya sambil nunjuk ke tanda panah di eternit.
Lah? Gehehe.. ternyata si suster ini dari tadi nyangka gua mau bawa anakku sholat toh! :D
Pantesan dia juga kayak yang bingung liat gua blingsatan gak sabaran sambil bilang berkali2 soal adzan (prayer call) tadi.. hehehe..
Setelah puas gendong2, saatnya kirim2 kabar. Tadi di timbangan gua liat beratnya 2.95 kg (kata dokter sih 3.2kg pas ketemu di pintu tadi. Berat bayi cenderung susut sih sesaat setelah keluar).
Nah tingginya berapa? gua tanya sama suster tadi, 34.5cm katanya. Berapa? 34.5cm, ulangnya. Weh. Lengkap sudah.
Mulai ngesms deh.. Telah lahir anak kami laki2, berat 29.5kg, panjang 34.5cm. dst..dst..
Sent!
Gak berapa lama, Emak (nenek si bayi) telpon..
"Itu anak tingginya bener enggak? Kok pendek bener?"
Wah.. iya juga yah.. waktu Keiya aja dulu 51cm..
"Bener sih tadi kata si suster yang ukur.", jawabku. "Wah.. Cebol dong. Salah kali.."
Emak masih ngotot bin penasaran.
Gua jadi penasaran juga nih.. terutama setelah Ibunya sadar en ikut protes juga. Aku cek lagi ke buku data si bayi, ternyata.... 50cm!
Suek tu suster... :D
Hahaha.. terpaksalah dikirim ralat berita ke semua orang.. :D
Lepas kasus tinggi ini, datang pula 2 sms dari temanku yang tanya soal beratnya.. Bener nih 29.5 kg?? Anak gw aja udah umur 1 tahun cuman 10 kilo loh.. hahaha..
Sial.. gw salah ketik lagi.. biarin deh.
Dijawab aja.. "Bener. Itu tadi nimbangnya sekalian sama ari2nya." Hehehe..
Cerita berikutnya yang muncul adalah...
Nguburin ari-ari. he..he..he..
Ngek! Dimana???
Ini Singapur, bung! Hohoho
Terpaksalah layaknya sepasang maling ayam & tersangka kriminal pembunuh kucing, gw + Khaerul (tetangga rumah di Balam) ngiderin kompleks rusun kami nyari tempat yg strategis buat ngubur.
Akhirnya diputuskan untuk menggali lubang malam2 itu juga di belakang gedung parkiran mobil tepat di bawah pohon.
Mana tanahnya keras banget lagi.. Terus cuma modal 1 alat doangan.. :D
Alhamdulillah.. setelah kerja keras bercucuran keringat gak kalah sama romusha pembangunan jalan anyer-tegal, lumayanlah tergali juga tanahnya.. barang 50cm dalamnya. Mudah2an tidak dibongkar anjing (jarang lewat sini sih kayaknya).
Pas lagi seru2nya menggali lewat beberapa anak muda yang langsung kasak-kusuk curiga, maklumlah di negeri liliput yang kekurangan berita sensasional ini... hal beginian bisa bikin orang curiga en lantas lapor.
Gua lirik Khaerul yang agak grogi jg sama kasak-kusuk barusan..
"Bawa IC (katepe) kan, Mas?", tanyaku.
Kali2 aja ntar kita didatengin polisi.. sambungku kalem.. gehehe...
Setelah dikubur dan baca Al Fatihah, diiringi tatapan curiga pemuda setempat kamipun beranjak pergi. Lumayan jg capeknya.
Tapi puas.
Welcome to the world, Mufasa Raiqa Umar Mursalin.
(Temasek, 9th Ramadhan 1428 H, 15.20 Sin.)
That's Friday, 21 September 2007. 15.20 Sin.

ps: Many thanks to Mas Khaerul for the help. May Allah bless you and your family.

Wednesday, September 19, 2007

Happy Birthday, My Angel..



Happy Birthday, Love

May Allah's blessing will always be with you
May Allah's guidance will always be in you way

May Allah protect you in this world, today and beyond.
May all your wishes come true

We love you, Little Angel
Our love, wishes and prayers will always be with you
in every step you make, forever.

Happy Birthday, Keiya Aleysha.


--papip and mamam
(Temasek, 19 September 2005)

Friday, August 31, 2007

Indonesia dan Tetangga-tetangganya


Belakangan hubungan antar dua negara bertetangga ini kembali 'memanas'.
Berulangkali Indonesia (sebagai bangsa, bukan sebagai pemerintah) merasa kecolongan oleh ulah Malaysia.
Dimulai dari hilangnya Sipadan dan Ligitan, diusirnya pendatang tanpa izin Indonesia dari Malaysia, ditembakinya nelayan-nelayan kita di perairan nasional Indonesia di Sumatra (oleh Tentara Diraja Malaysia), sengketa Ambalat, sampai disiksa dan matinya TKI-TKI kita.
Kasus terakhir yg kembali menyentak adalah dipukulinya wasit Karate Indonesia oleh 4 orang polisi Malaysia. Wasit yang merupakan tamu undangan Malaysia untuk Turnamen Karate Internasional ini pulang ke tanah air duduk di kursi roda, terancam kehilangan pendengaran, terganggu penglihatan dan pendarahan di kemaluannya.
Hal ini terasa mengganggu bagi saya.
Dari satu sisi Indonesia memang tidak sepenuhnya bersih dari kesalahan. Utamanya di kasus banyaknya pendatang liar kita yang merusak dan mengacau di negeri orang. Ini dikarenakan lemahnya sistem informasi kependudukan dan imigrasi kita.
Tapi di sisi lain adalah betapa lemahnya posisi tawar kita dalam setiap kasus ini.
Kasus Sipadan Ligitan contohnya. Indonesia kalah dikarenakan Malaysia sudah terlebih dahulu membangun resort di pulau-pulau itu. Ditambah lagi TDM Laut sudah lebih dulu melakukan patroli rutin disana. Mereka lakukan itu semua dengan tenang tanpa takut akan 'gangguan' dari pihak berwenang Indonesia.
Kasus TKI, seolah-olah bangsa kitalah yang butuh setengah mati untuk bekerja di sana (sepertinya pernyataan ini benar dan bukan seolah-olah) sehingga segera semua yang datang liar dipulangkan untuk dilengkapi dokumennya lantas dikirim balik. Lagi-lagi walaupun hal ini sempat melumpuhkan industri konstruksi Malaysia, mereka tetap lakukan hal ini dengan tenang tanpa melirik sebelah matapun pada Indonesia.
TDM Laut Malaysia menembaki dan melukai ABK kapal nelayan di perairan Sumatra Utara dengan tanpa rasa bersalah. Ketika mereka semua naik ke atas kapal, nelayan kita bertanya apa salah mereka? Mereka ada di perairan Indonesia. Tanpa minta maaf atau berkata apa-apa, TDM Laut itu hanya melirik sekilas ke semua ABK yang tergeletak diterjang peluru dan kembali ke kapal mereka. Melanjutkan 'patroli'.
TNI AL dengan kapal 'antik'-nya tak bisa berbuat apa-apa ketika menerima laporan. Bahkan mengidentifikasikan TDM Laut bermata gelap itupun tak bisa dilakukan.
Ini menyakitkan.
Ini membuka mata betapa bangsa kita sudah tertinggal dibanding tetangga satu ini.
Bidang ekonomi tak usahlah dibahas, semua tahu betapa sedang sempitnya terasa bernapas di kubangan lumpur ekonomi Indonesia.
Tapi di bidang militer yang seharusnya jadi efek penangkal pun kita kalah jauh!
Hemat saya, militer kita haruslah kuat dan mempunyai kemampuan ofensif.
Karena hanya dengan begitulah maka efek tangkal akan dirasakan oleh negara-negara sekitar.
Yang jadi masalah sekarang lagi-lagi masalah dana. Modernisasi peralatan perang kita makan banyak uang, yang sialnya tidak banyak tersedia. Ditambah lagi strategi pertahanan kita yang lalu yang lebih berat ke Angkatan Darat.
Sebagai negara kepulauan (terbesar di dunia), seharusnya Angkatan Laut dan Udara kitalah yang lebih kuat dan mumpuni. Kebutuhan ini sudah tidak bisa ditawar-tawar. Minimal untuk menjaga kedaulatan dan tapal batas, Angkatan Laut kita harus dibenahi.
Caranya apakah beli dari luar lagi? Untuk peralatan-peralatan strategis seperti ini kalaupun belum bisa dibuat sempurna, sebaiknya Indonesia sudah mulai membikin sendiri. Dephan haruslah mendorong industri strategis kita untuk berkembang dengan cara menjadi pembeli pertamanya.
Toh penyempurnaan pasti akan dilakukan seiring dengan terujinya produk di lapangan.
PT PAL haruslah diberdayakan. PAL harus bisa membuat minimal sekelas Fregat atau Kapal Perusak untuk kebutuhan Angkatan Laut kita. Kalau kelas patroli pantai rasanya sudah bisa buat.
Kalau PAL kebagian membuat platformnya, maka LAPAN bisa bantu dengan peluru kendali, Pindad menyumbang senjata berat konvensional, sementara PT DI menyumbang helikopter dan sistem navigasi pertahanannya. Saya kok yakin sebenarnya kita bisa.
Setelah Angkatan Laut, rasanya minimal Sistem radar kita dibenahi. Daerah Timur Indonesia sangatlah banyak yang bolong. Di masa pergolakan Tim-Tim lepas dari Indonesia di saat yang sama pula banyak pesawat dan helikopter Australia terbang wara-wiri Tim-Tim - Maluku. Saat itu di Maluku sedang marak pula gerakan separatis RMS yang mendompleng perang agama antar saudara.
Sistem radar kita lemah.
Sambil membenahi sistem radar ini mungkin dapat pula dimulai pembuatan pesawat jet tempur nasional, awalnya mungkin dari lisensi atau bahkan kalau mau ekstrim seperti China. Beli pesawat dari Amerika/Rusia, lalu dipreteli. Dipelajari disainnya dan ditiru mentah-mentah.
Hasilnya sekarang China sudah bisa buat pesawat tempur sendiri.
Kalau memang dirasa berat juga, paling tidak PINDAD yang sudah berhasil membuat peluru kendali jarak menengah dapat dikaryakan untuk membuatnya dalam jumlah massal. Peluru-peluru kendali inilah yang harus disebar di penjuru negeri menggantikan peran pesawat tempur bila ada penyusup (wah.. hehehe.. peluru kendalinya Pindad sudah secanggih ini belum yah?)
Kalau sudah begini, Tentara bisa mandiri dari ketergantungan senjata pada pihak luar paling tidak negara-negara tetangga mikir berkali-kali buat macam-macam.
Sukur-sukur para koruptor keparat perampok uang rakyat itu bisa mulai dihukum mati.
Hal lain yang tak kalah pentingnya (malah bisa jadi jauh lebih penting) adalah membenahi sistem pendidikan kita. Supaya bangsa kita tidak harus pergi menjadi kacung di negeri orang hanya untuk menghidupi sanak keluarganya.
Kalaupun harus pergi ke negeri orang, paling tidak tak mesti jadi pembersih pantat anak majikan lah. Tapi kalau memang masih mau juga.. Pemerintah harus beri perhatian lebih pada kemampuan komunikasi. Aspek bahasa, utamanya Bahasa Asing.
Karena dengan mengerti bahasa setempat, Pekerja-pekerja Migran kita bisa membaca sendiri peraturan di negara orang dan bisa mengerti haknya.
Jangan ada lagi kasus pekerja kita ditipu tak dibayar upahnya atau bahkan dituduh macam-macam hanya karena secara legal dia menandatangani peraturan yang membacanya pun sudah bikin matanya keriting.
Ah.. jadi kemana-mana, cuma gara-gara hati geram membaca tingkah polah negara tetangga.
Tapi mungkin mental orang kita harus seperti itu. Kesandung dulu baru belajar. Dipukuli dulu baru cari guru beladiri. Hilang dulu Sipadan Ligitan, baru mau beli Kapal Laut. Dipandang sebelah mata dulu oleh Singapur, baru cari kreditan beli pesawat tempur dan kapal selam..
Mudah-mudahan sejak kasus ini semua jadi mau belajar.
(Temasek, 31 Aug 07)

Malingsia?

Waktu kemarin kalian aku batik sebagai hakmu,
kami diam.
Biarlah.. toh kalian masih saudara.

Waktu kalian aku sate sebagai hakmu,
kami masih diam.
Biarlah.. kalian dan kami satu nenek moyang.

Lalu berturut-turut rendang, tempe, angklung...
kami masih tersenyum walaupun dongkol di hati.

Tapi ketika lagi-lagi kalian berulah!

Terhadap saudari-saudari kami
yang pergi jauh demi anak mereka,
Terhadap saudara-saudara kami nun di pulau pencil sana,

Terhadap hutan-hutan kami di Kalimantan,
Terhadap nelayan-nelayan kami di laut kami sendiri,
Terhadap harga diri bangsa kami!

Kami tak bisa terima!!

Cukup!!

Kalian siksa saudari-saudari kami!
Kalian ambil tanah dan pulau kami!
Kalian tembaki nelayan kami di laut kami sendiri!
Kalian undang saudara kami hanya untuk dipukuli!
Cukup sudah!!

Hey, Pak Cik!
Apa mau kalian?


INI DADAKU, MANA DADAMU?!


(untuk saudara-saudara serumpun setetangga yang tak paham tampaknya tata krama)

Tuesday, August 28, 2007

People's Republic of China

Tak putus rasanya nikmat mengalir pada diri buruk ini.
sayang.. manusia memang tak pandai bersyukur..

Awal September lalu, sempatlah diri buruk ini diberi kesempatan melanglang ke negeri Tsin.
Belajar sebagaimana diperintah oleh Sang Nabi.
Sayang.. terlupa nampaknya Beliau mengingatkan di sana semua2 benda disebut makanan, semua2 cairan disebut minuman. Ah, mungkin saya saja yg tak menangkap makna suruhannya..

Beijing Airport, 6 Sept 2005

Sebuah bandara yg dikelilingi persawahan dan gedung2 tinggi pemukiman di latar belakang. Dari atas nampak gersang dan (maaf) usang. Tapi setelah mendarat ternyata besar juga.. biarpun apa yah... ada hawa yg beda terasa. Gak tau deh.. mungkin gara2 guanya aja yg jadi buta huruf mendadak begitu mendarat disana.

Bandara - pusat kota lumayan jauh, tapi mata yg penat lumayan terhibur dengan pemandangan pinus kanan-kiri dengan matahari senja yg bulat menggantung dan.... jantung pun ikut 'sehat' menikmati gaya berkendara khas tirai bambu. Serasa ada di rumah... :p

Waktu itu musim apa yah.. pokoke cuaca gak panas, gak dingin. ngepas2 aja...
Sampai hotel setelah istirahat sebentar, jalan2 deh ke sentra bisnisnya Beijing.
Wang Fu Jing district. Mau barang apa aja ada (tapi plesetannya). hahaha... ada toko olahraga yg gede banget en jual perlengkapan yg ijk lihat sepintas bak "NIKE", tapi kok diusut2 ternyata plesetannya.... :D

Lapar. Mata tertarik pada sebuah tulisan beraksara latin "Dongsun Lai Muslim restaurant". Nah.. ini die nih... hehehehe... masuklah ke dalam untuk kemudian disambut ramah dan disodori menu berbahasa.... cina. :D

hekekekek.. singkat cerita makanlah dengan lahap.. tapi yg bikin bingung itu resto jelas2 Muslim restorant minuman yg dijualnya itu lebih banyak bir en wine-nya.. gimana jeh.. hehehe

Setelah selesai makan dan sukses menolak berbotol bir dan anggur yg disodorkan, saya pun kembali ke hotel. Jalan kaki saja, iseng.

Untuk sampai saya harus mutar lewat depan Kota Terlarang atau jalan menelusuri belakangnya.. atau nah ini yg rada mantep.. memotong jalan lewat dalem dengan resiko kepergok penjaga2 berseragam Tengtara Pembebasan Rakyat! (tentaranya masih sangat muda dan culun2. taksiran saya umur mereka spt baru lulus smp).

Wah ini istana ternyata luasnya bener2 segede kota kabupaten sendiri! nggeblegh.. untung gue tadi kagak milih opsi kedua--muterin Kota Terlarang lewat belakang, kalo iya kan kojor juga!

Di dalamnya (Sebetulnya ini belum dalam2 amat sih, masih terhitung di pekarangannya juga. Soale yg dalam kalau malam ditutup gerbangnya dan dijaga tengtara culun berkaos singlet) ternyata luas juga. ada danau (?) buatan kecil dengan bale bengong yg cantik di tiap sudutnya.

Pas lagi jalan sambil ngerutukin nasib yg gak bisa basa cina en gak nemu taksi lewat, gak sengaja lihat sosok yang saya kenal. Itu BMW seri R!!

Setengah lari saya menghampiri motor cantik ini (yang punya lsg berdiri pasang kuda2 gitu pas liat gua mendekat). Hijau lumut dan ber-zijspan/kereta gandeng. Weeehh... kaga nyangka ketemu kita di Cina! hehehe..


Eh, tapi setelah tak amat2i.. kok ada yg mencurigakan ama ini motor..
Huakakakak.. pas udah deket keliatan tulisan di mesinnya "XiangJiang"
Hehehe... ujung2nya ngobrol2 sebentar deh sama yang punya, sambil kasih tunjuk foto si Bule yg ada dalam hp.


entar yah dilanjutin lagih...

(10 des 2005)