generated by sloganizer.net

Friday, July 13, 2007

Neighbour


Beberapa waktu lalu saat sedang marak ribut2 soal numpang latihan perang2an antara dua negara bertetangga, suatu sore saya berbincang dengan seorang uncle tetangga sebelah rumah.

Yah.. namanya juga tinggal di rusun. Wajar kalau sering bertemu muka.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si uncle ini tiba2 bilang:

"Negara saya ini makmur tapi kecil. Karena itulah kami selalu kena bully oleh negara kamu. Karena negara saya ini kecil."

(wah, apaan nih..) pikir saya.

Usut punya usut ternyata beliau mengikuti perkembangan soal perjanjian buat main perang2an antara dua negara tetanggaan ini. Hehehe..

Saya agak malas sebetulnya meladeni. Tapi berhubung si uncle nembak terus pakai mitraliur terpaksalah... putar otak buat jawab biar "kena".


"Wah am so sorry, Uncle. I dont really follow the political situation."

Ada barang 2-3 menit setelah itu kami larut dalam diam.

"Uncle.."

Saya mau cerita nih.. sekalian tanya pendapat, Uncle.
Misalnya uncle punya anak, anak uncle ini bandelnya setengah mati. Sementara uncle sendiri tidaklah seberapa makmur untuk menggaji pembantu mengawasi anak ini.

Suatu hari anak ini mencuri uang uncle, lumayan besar sampai hampir bangkrut uncle dibuatnya. Uncle belum tahu nih.. bagaimana kok bisa hilang itu uang, cuma uncle tahu si anak inilah yg mencuri.

Sebelum uncle sempat berbuat apa2, anak ini lari. Kabur.
Ke rumah saya. Saya tahu dia sedang uncle cari dan dia kabur setelah berbuat nakal di rumahnya.


Now, what do you say when..

a) Instead of telling you that he's in my house, I welcome him with open arms and offer him one of my room to stay.

As long as you be my "permanent resident" and "pay the rent", I said to him.

b) I know he brings a lot sum of money, so I offer him a joint cooperation. You may open your business here, I have a very relaxed policy on setting up business in my house front yard.

As long as you pay the tax, I'll let you do it.

c) When he has difficulties selling the products, I help him by selling those products --produced using your stolen money, Uncle -- to YOU. His father, the real owner of the money.

Well, I have a cart business in front of my house anyway, it makes things simple.

So, Without much sweat I managed to get some profit by selling things made from your stolen money to you.

d) After several months, you find out that your son--the criminal-- is hiding in my place.

Alive, sound and wealthy -- Thanks to my assistance.

But you cant do anything to bring him back by force -- Eventhough you're older but you're not as powerful as I am and I made you "owe" so much to me by always lending hands whenever you got struck by a typhoon or whenever your house got earthquake etc. So you come to me, appealing to have him back.

e) Instead of handing him over to you, I require you a condition to have him back.

First, he must be convicted as criminal (who am I to ask this?? but you cant do anything, can you? You need me.)

Second, in exchange for my 'assistance' you must let me in to your house and provide a designated area for me to do my own things.


Such as.. practising my shotgun, bomb training for my self defence, and doing my smackdown activities there. Every month at 15 days each.

Oh ya, you must also let me bring my other friends to practise our figthing skill. Dont worry, I'll help you fight fires in your garden in addition.

Saya berhenti sebentar. Tarik nafas dulu...


Now, Uncle. Let me ask you..

If All those really happened, will you not be angry to me for this?

Si Uncle diam. Mikir dia kayaknya...


"Uncle, that's how my country--my people feels. That's what we have in mind when your country requires so many things in exchange just to return OUR OWN people who do harm to us, OUR OWN people who steal from us."

"Now, after all this conversation... Do you still consider my country bullying yours?"


Tumasik, 13 July 2007.
*Just a fiction. Nothing's real.

Monday, December 11, 2006

Sebuah Rumah di Perempatan Jalan

Di dekat kontrakan saya ada sebuah rumah, letaknya di pojokan tepat di perempatan jalan. Rumahnya biasa saja sih.. sudah lama sepertinya. Di rumah itu tinggal para pekerja konstruksi yg sepertinya berasal dari sebuah anak benua di Asia.
Biasanya saya tak terlalu hirau dengan rumah ini dan penghuninya, walaupun beberapa kali lewat kalau sedang berjalan menuju rumah.
Tapi sudah sejak beberapa hari ini sejak kantor pindah saya harus mengambil rute lain untuk pulang ke rumah, jadi selalu melewati rumah ini dan selalu saja ada hal menarik untuk saya perhatikan dari penghuninya..
Mereka tinggal beramai-ramai, sepertinya masih muda-muda.. paling tua samalah umurnya dengan saya..
Sebagaimana layaknya pekerja migran di negara kota ini, hidup mereka sangatlah bersahaja. Mengontrak rumah ramai-ramai, memasak bersama (wangi masakan mereka sering tercium kala saya sedang jalan dari halte ke rumah), bersenda gurau di beranda ataupun seringkali terlihat mereka sedang sholat bersama di ruang tengah yg tak seberapa luas.
Tadi malam bahkan saya dapati mereka sedang asyik menyimak salah seorang yg sepertinya sedang menyampaikan nasihat agama (rumah kontrakan di pojok jalan ini tidak punya gorden, jadi kegiatan di ruang tengah rumah terlihat dengan jelas), sungguh... tersentuh rasanya hati melihat kesahajaan mereka di negeri orang.
Terutama kalau mengingat betapa seringnya tatap sinis mereka terima; dari orang-orang yg berhutang jasa pada mereka; hanya karena kelamnya warna kulit yg dianugerahkan Tuhan pada bangsa mereka..
Beberapa malam lalu saya pulang agak larut, setelah menemani seorang teman yang sedang limbung akan kehidupan rumahtangganya. Dan seperti biasa seturun dari halte, saya melewati rumah di perempatan jalan itu. Kali ini penghuni-penghuninya sedang duduk berkumpul di beranda, berbincang2 santai sambil mengipas-ngipas. Wah, baru selesai sholat rupanya..
Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya..
Seorang penghuni terlihat duduk di pojokan, menyendiri di atas tanggul pembatas saluran air. Matanya terlihat masygul dan ragu-ragu sambil melihat tangannya yang memain-mainkan selembar kartu telepon SLI.. Ketika ia mengangkat wajahnya saya bisa lihat tatap matanya.. Mata itu mata yang sedang merindu..
Ia mengangkat wajah menengadah ke langit sambil menghembus nafas panjang.. selembar kartu SLI itu masih dimain2kannya di tangan kanan, sementara tangan kiri menggenggam handphone yang seakan dipencet dengan ragu-ragu..
Saya tahu yang ada di benaknya... rindu dan kangen pada keluarga.. mungkin pada anak dan istrinya yang sedang menunggu nun jauh disana..
Rindu itu memang susah untuk tertahankan.. kadang hanya bisa terobati oleh suara orang tersayang di seberang sana. Tapi itupun suatu kemewahan bagi mereka...
Ya, suatu kemewahan.
Harga kartu telpon yang 'cuma' 10 dolar itu akan terasa mahal bagi mereka-mereka yang hidup bahkan hanya dengan 10 dolar seminggu... yang untuk berangkat harus berhutang, pergi jauh ke negeri orang terkadang tak paham bahasanya, untuk kemudian harus kerja super keras dan hidup super hemat demi bisa menabung mengirim uang bagi keluarganya di kampung dan melunasi uang ongkos pergi dahulu..
Teman saya ini menunduk lagi.. kali ini helaan nafasnya panjang... dihembuskan kuat-kuat... sepertinya ia terpaksa mengalah malam ini... rindu itu harus menunggu untuk ia obati nanti...
Ah, teman... apakah kau rasa rindu yang sama seperti yang sedang kurasa?
Rindu pada keluarga... Rindu pada anak dan istri nun jauh di sana....
Kudoakan teman.. semoga pengorbananmu ini tidak sia-sia.. semoga keluargamu baik-baik saja di sana... semoga kelak anak-anakmu tak harus alami kehidupan seperti Bapaknya...
Semoga teman... semoga... Amin..
Rose Lane 24, 11 Dec 06. 11.33 pm.
(Untuk teman-teman di rumah kontrakan perempatan TanjongKatong-Dunman Road. Semoga Allah ridha akan pengorbanan kalian semua. Amin.)

Monday, November 20, 2006

"Welcome to Our Country, Your Excellency."

Hari ini,
Ribuan orang tidak bisa keluar rumah,
Ribuan anak sekolah dipaksa tak bersekolah,
Ribuan orang kecil tak bisa mencari nafkah

Hari ini,

Belasan ribu tentara dan polisi berjaga
pasang wajah garang dipanggang terik mentari
Ribuan bangsawan berdandan bersolek
memasang topeng memasung kehormatan
mencari muka..

Hari ini kita lihat banyak hal yang tak pernah sebelumnya dituju untuk anak bangsa sendiri.


Hari ini,
Sebuah bangsa kehilangan harga dirinya
menunduk
membungkuk dalam-dalam pada tuannya

Tuan besar katanya.

Majikan sama yang membuat anak-anak kecil di Irak tak bisa bersekolah
Majikan sama yang membuat banyak anak-anak kecil di dunia kehilangan ayah-ibu mereka

Majikan sama yang membuat perempuan-perempuan Libanon kehilangan suami mereka
Majikan sama yang membuat banyak orangtua kehilangan anaknya

Majikan yang justru kita sambut bak seorang dewa turun dari langit..
dielu-elukan...
dihamparkan karpet warna darah

Dengan pedagang-pedagang kecil yang warungnya dipaksa tutup sebagai keset kakinya....
Dengan pelajar-pelajar cilik yang sekolahnya diwajibkan tutup sebagai karangan bunga penyambutnya....

---------------

Aneh sungguh.
Bagaimana seorang penguasa yang dipercaya oleh rakyatnya
Bisa begitu tega

Menindas dan memaksa
Merampas hak orang-orang yang mempercayanya

Demi seorang Tuan
yang bahkan peduli pun tidak pada semua manis mukanya

"Ini demi percayanya mereka pada kita."
"Ini demi merdekanya Palestina, saudara kita."
"Ini demi harga diri bangsa kita sebagai tuan rumah."

Ah, Tuan Penguasa negeriku...
Andai begini cergasnya Tuan kala penduduk negeri ini sedang dirundung bencana
Andai begini pula besarnya perhatian Tuan pada anak-anak negeri kita

Niscaya, semua perkata Tuan itu kan jadi begitu mudah dipercaya.


Temasek, 20 November 2006

(kesal membuncah dada membaca berita berjuta tanpa daya dipaksa berkorban papa demi seorang penguasa buta)

Thursday, November 16, 2006

Toleransi 2


Seringkali kita ributkan soal agama-nisasi yg dilakukan oleh pihak lain.
Wait! Tidakkah menyebarkan syiar Islam itu sendiri adalah bentuk agama-nisasi?

"Ya, tapi mereka kan pakai cara kasih indomie atau bagi2 duit atau bikin posyandu gratis biar orang2 yg kekurangan lantas tertarik... lantas menggadai akidahnya demi perut.."


Please.... Kalau memang mereka yg kekurangan itu adalah saudara2 kita.. sesama manusia seakidah; apa bukan KITA yg seharusnya membagikan indomie pada mereka?? mengeluarkan zakat mal kita untuk hidup mereka?? membuat posyandu demi kesehatan anak2 mereka??
Menarik Rasa Simpati.

Bukankah demikian seharusnya?

Zaman sudah berubah, Bung.

Orang-orang yg kita anggap 'target' agama-nisasi itu pun punya akal. Tentunya mereka bisa melihat jika ada "udang di balik batu".

Pun jikalau merasa mereka "seharusnya" tidak gampang tergoda untuk pindah keyakinan, tugas sesama muslimlah untuk menguatkan akidah mereka selalu. Pendidikan dan pemahaman.

Tapi mereka pun juga punya hati.. Ketika mereka lihat di saat mereka kesusahan justru orang lainlah yang datang menolong, sementara saudara2 mereka sibuk dalam urusannya sendiri, bergelimang kemewahan; apakah salah jika mereka lantas menemukan esensi ber-Tuhan yg mencinta sesama justru di tangan orang lain??

Coba pikirkan.. jikalau saudaralah yg sedang dirundung susah... pekerjaan susah didapat, anak putus sekolah, istri tak ada yg bisa dimasak... saudara meminta pada sesama muslim.. merekapun sedang susah...

saudara memohon atas nama Tuhan yg sama... dengan merendahkan harga diri saudara... tetap saja hanya tatap sinis yg diterima...

Lantas datang suatu kaum.. tanpa basa-basi membantu... mendirikan sekolah bagi anak saudara, mengajarkan etika pada mereka, membantu saudara berusaha, memunculkan kembali senyum di wajah istri saudara.. Apakah saudara tak kan tersentuh?

Sayang rasanya kalau sentuhan rasa simpati itu bukan datang dari sesama muslim.

Masih berhubungan dengan meletakkan diri kita di posisi orang lain, kenapa sih kita seringkali berdakwah dengan cara menjelekkan keyakinan yg berbeda?

Apa sih yg kita dapat selain hanya kepuasan semu diri sendiri?

Khotbah Jum'at contoh yg paling gampang.
Khotbah Jum'at itu setahu saya sejak jaman Nabi bersifat satu arah. Penyampaian pelajaran.
Seharusnya hanya hal-hal yg layak dipetik sebagai pelajaran sajalah yg boleh disampaikan.
Pun hanya orang yg memang pantas mengajar sajalah yg boleh menyampaikan.

Kalaupun memang mau melakukan perbandingan, paling tidak kuasailah dulu bahan yg akan dibandingkan. Bandingkan dengan fair. Kalau memang kelebihan VS kelebihan, kalau membandingkan kekurangan ya VS kekurangan juga. Fair. Adil.

Tidakkah kita merasa kesal jika kita sedang berada di Vatikan misalnya... di sebelah kantor kita ada tempat ibadah orang lain, sedang ada "khatib" yg ceramah disana.. isinya membanding-bandingkan dengan Islam.. menjelek-jelekkan... kesal kan rasanya??

Gondok kan rasanya karena bagi kita mereka itu tidak tahu apa yg diucapkan. Dan pasti pingiiiiiii..nn rasanya hati datang kesana turut menyanggah pendapat itu.

Sama. Letakkan diri kita di posisi orang lain.

Kalau kita berada di semua posisi diatas tadi banyak-banyak bersabar saja rasanya sambil menahan dongkol dan kesal. Pun muncul pula kesan buruk terhadap pihak yg menghina. Kadang pukul rata ke semua kaum tersebut.

Nah, kurang lebih begitu pulalah perasaan mereka-mereka kaum minoritas yang berbeda keyakinan di tengah2 kita ummat Islam ketika mendengar ceramah2 yg sifatnya membanding-bandingkan.
Ceramah-ceramah yang sayangnya seringkali tidak diikuti keluasan pengetahuan penceramahnya... seringkali menjurus ke arah menjelek-jelekkan..

Saya tak yakin praktek seperti ini ada contoh sunnahnya.. tapi saya berani bilang, kalau hal ini memang boleh dilakukan pasti sudah sejak dulu Nabi lakukan.

Tidakkah kita akan merasa bangga ketika orang-orang berbeda keyakinan merasa nyaman, aman dan tenteram hidup di tengah-tengah mayoritas ummat Islam?
Tidakkah justru hal ini juga bersifat dakwah yang jauh lebih efektif?

Seharusnyalah kalau memang kita merasa diri Ummat terbaik, kitalah yg lebih peka.
Seharusnyalah kalau memang kita Ummat yg patut dicontoh, kitalah yg lebih bijak.
Seharusnyalah kalau memang kita Rahmatan-Lil-Alamin, kitalah yg menumbuhkan rasa aman.

Dalam ajaran Hindu-Bali ada yang disebut dengan Tat wam Asi. Kamu adalah Aku.

Ajaran toleransi.

Ketika kamu menyakiti aku, maka sesungguhnya kamu sedang menyakiti dirimu sendiri. Karena hidup adalah roda dan setiap perbuatan baik akan kembali pada pelakunya, sebagaimana tiap perbuatan buruk akan berbalik pada diri pelakunya.

Mudah-mudahan kita bisa belajar untuk menghargai sesama manusia.. bukan saja sesama saudara seagama.

Temasek, 15 Nov 06.

ps: mungkin akan membantu jika ummat Islam banyak berbaur dengan mayoritas lain yang bukan penganut Islam, supaya berpengetahuan akan perbedaan, atau belajar dari rasa bingung harus bagaimana menyikapinya tanpa melanggar agama dan insya Allah akhirnya bisa membuka mata bahwa dunia tak hanya sebatas tempurung kelapa.

Wednesday, November 15, 2006

Seharusnyalah Kita Jauh Lebih Toleran

Berhembus lagi angin dari rumah membawa berita.. bahwasannya terulang kembali perusakan rumah-rumah suci... bahwasannya tak tenteram lagi hati bagi mereka yg berbeda religi..

Dalam hal toleransi ini.. terus terang sebagai muslim saya agak bingung..
Hemat saya, orang-orang Islam itu seharusnya jauh lebih toleran terhadap perbedaan.
Kenapa?

Pertama, karena kita harus sholat 5 waktu.
Suatu hal yg seringkali kita jalankan by taken for granted di negara kita--yang kebetulan banyak orang muslimnya.

Tapi coba bayangkan bagaimana rasanya sampeyan sedang di negeri orang tiap mau sholat kesulitan untuk mencari air guna bersuci, kesulitan mencari tempat yg bersih untuk membentang sajadah, atau bahkan kesulitan untuk minta diri dari kerumunan/meeting/kerja/dagang? susah kan..

Seringkali keadaan memaksa kita untuk meminta pengertian orang yang berbeda keyakinan supaya rehat sejenak demi menunaikan sholat (5 kali loh dalam sehari...!), atau minimal meminta pengertian dari pandangan mata ketika kita terpaksa sholat di pojokan tempat terbuka. Meminta pengertian.

Kemudian yg terbayang di benak... "Wah enaknya kalau ada mesjid disini."
Nah, kalau begitu kenapa kita justru melarang orang lain membangun tempat ibadahnya?
Bukankah mereka juga merasakan keinginan beribadah yang sama...
Memberi pengertian.

Kedua, kita juga diwajibkan untuk memakan makanan yg halal. Kebayang gak sih sampeyan jauh dari tanah air lantas kebingungan mencari tempat makan? ada juga tapi syubhat.. atau terpaksa ikut makan lantas baca Bismillah dan berserah diri pada Tuhan..

Seringkali kita terpaksa meminta rekan seperjalanan yang berbeda keyakinan untuk mengalah mencari tempat makan yg halal atau setidaknya 'netral'. Meminta mengalah.

Kembali terbayang di benak... "Wah enaknya kalau banyak komunitas muslim disini yg buka warung.."
Hmm, kalau begitu kenapa melarang orang lain membuka restoran yg sesuai selera mereka?
Bukankah mereka pun rindu memakan makanan mereka...
Belajar mengalah.

Ketiga, kita seringkali gampang marah dan tersinggung ketika diajak makan oleh orang lain yg berbeda agama dan ternyata terhidang daging babi misalnya.. Tuduhan yg terlontar biasanya bahwa hal itu disengaja... bahwa memang mau menjerumuskan... masa tidak tahu, sih.. Kita meminta empati.

Tapi kalau boleh saya bertanya...
Pernahkah saudara membawa seorang rekan yg beragama Buddha makan di rumah dan saudara hidangkan makanan daging? Seberapa tahukah anda soal agama orang lain?

Bahwasannya penganut Buddha adalah vegetarian? atau bahwa penganut Hindu berpantang makan sapi? Bahwasannya vegetarian sejati Buddha tidak makan sama sekali makanan mengandung bawang merah dan bawang putih?? (hayyo loo...)

Tidak tahu? Wajar. Karena itu bukan agama anda.

Nah, logika yg sama akan terpakai ketika anda yg ada di posisi mereka.
Adabnya memang Tuan Rumah/yang mengajak yang bertanya pada yg diajak apakah ada pantangan makan? Tetapi kalau sahabat kita lupa bertanya, dan terhidang sudah itu makanan apakah lantas kita harus marah dan menuduh macam2? Tidak.

("Lah? mosok lantas dimakan??")

Hehehe.. ya tidak. Dihindari. Caranya yg sopan. Dengan Empati.

Setelah sekian banyak "berhutang" kepada orang-orang lain dari keyakinan berbeda tidakkah sudah sepantasnya kita pun berbuat sama pada mereka ketika kita yang menjadi tuan rumah mayoritas?



----------------------------------