"Hidup ini ditandai dengan gerak,
Karena itu jangan bendung gerak pasangan Anda.
Bila anda tak suka, maka arahkanlah
Bila anda tak setuju, perhaluslah perasaan Anda."
(Prof.Dr.Quraish Shihab)
Baca dan renungkanlah..
Wednesday, October 22, 2008
Tentang Perkawinan
Monday, May 19, 2008
Shit, I've become one of them
Last trip to Batam, an island in my homecountry.
We all went together by ferry and had our Batam colleague arrange for a nice hotel in front of Nagoya Hill.
Strangely, I felt increasingly worry to bring my family to Batam. Afraid of Taxi drivers' cheating on us, afraid of being bullied when bargaining things, afraid of being harassed whenever failed to buy after a row of price dispute, afraid of not able to protect my family when things bad happened there. In short I felt like going to travel to a No-mans-land where law ceased to exist.
This is exactly what every of my Singaporean friends expressed each time I suggested them to go visit my homecountry. Shit. How can I got this feeling too?
When the boat arrived at Batam, we're all rushing up to the immigration checkpoint including me.
I can bet there were more Singaporeans than others alighting from the ship and flocking the Batam imigration check. But albeit being famous for orderly queuing for everything, these people rushed in, cut queue, some even walk to the front creating bottleneck just in front of the immigration desk.
What the immigration officer did? Nothing. Pretending not seeing, pretending they're the most important person--too important to handle such small matter as "keeping the queue in order".
Bloody Indonesian Bureaucrats! So typical! huh
No specific separation for Indonesian passports. Unlike in other countries, Homecoming greetings are everywhere in Immigration checks, special desks allocated for Home Passport holders giving them the comfort and warm feeling of going home.
Here in Indonesia?? Yeah, go back to sleep and dream again! Unless you're a high Govt Official, dont crave for such luxury!
After joining in the act of hypocrisy with other passengers (yeah hypocrisy, remembering how we'd just obediently queued to board the ship at Singapore's Harbourfront!), I finally reached outside.
Taxi time.
No orderly turn for passengers pickup, No certainty on the tariff, No Officials in charge ensuring the convenience of passangers, in fact No Specific Marks on some vehicles to know that they are TAXIS!!
WTF. I got into the taxi, telling the driver of our destination in Bahasa, he came up with a price, I bargained 2/3 and got the deal.
I brought my family around after checking in and a short nap in the hotel. We had no choice but using the taxis, most of them are illegal ones.
My wife and I're all in alert and unease during the journey, so many news of passengers being robbed or kidnapped in Taxis that we heard. Shit, this supposed to be my homecountry giving me a safe feeling of being home yet I was terrified to death?
Even when we had an evening walk and passed by a group of people doing nothing but chatting on the corner of the street that insecure feeling risen up. It's easy to get harassed and ended up with fight when passing by a group of youngsters in Indonesian streets.
Something we never encountered in Singapore.
After sometime, we managed to get used to the chaotic rhythm of Batam. Til came time to go back.
Fiscal booth at Batam Center. I forgot to prepare the copy of passport to apply free fiscal for us. The officer said he needed one and then pointed to a copy booth just 1.5 m in front of Fiscal office. "You go there to make the photocopy first", he said.
Ok. I thought this is part of the procedure.
Judging from the small size of that fiscal office, thus disabling them to put THEIR copy machine inside, that copying booth must have been theirs. I suspected... wrongly.
After a very nice conversation by the keeper, I was asked to pay a ridiculous price of 5000 rupiahs for every piece of copy I made. WTF?! How can copying expensive?? Moreover passports have 2 pages, each can be copied into only 1 (one) piece of A4 size paper. Yet after the A4 result cut into 2 i have to pay for 2 pages?? Not to mention the ridiculous price of 5000 rupiahs per piece???
This is a fuckin' common things done by many Indonesians entrepreneurs. Cheating!
No information on the price anywhere in that booth, making their "prospective targets" thought price would be a normal 500 rupiahs per page. Sweet talk done by the keeper in the beginning, so that the 'target' forgot to ask any details and straight away handed over the docs for copying.
Once the docs in the hand of the keeper, expect nothing but being his cash-cow!!
Half-heartedly and cursing hard, I paid the cost as he fixed.
Back to the fuckin' fiscal office with a black mood, I look at the Fiscal guy in the eye and said "Did you know their practice?". Yes, he said.
"Then why in the first place did you recommend them?!"
"Well, I was just informing you there's a copying service there. But yes, it's better not to use them due to their unreasonable pricing. Sorry didnt tell you earlier. Just dont use them next time!", He said.
WTF! Only now that you said that!
feel like wanting to punch his face!
Finally reached Harbourfront. A cool and comfortably-airconned immigration checkpoint, with an orderly mannered-queuing procedures (with some passengers whose faces looked familiar, yup they're the queue jumpers in Batam Center when we arrived at Batam!), efficient and responsive--when the queue was long, a senior officer directly assigned 3 more desks to be opened.
Outside, there was a minicab waiting in the taxi stand. We almost got in when the driver politely told that he'll go by a fix price that's higher than normal taxi. If we're okay with then he'll proceed. Upon hearing my refusal, he politely pointed another taxi queue while telling that we can get into regular cab in there. That's very kind of him.
My mind flew by to our experience with Batam taxi.. where we're cheated for a short distance with a very expensive price..
Darn.. Why somehow I felt relieved and at home when we arrived back in Singapore.
Shit... sounds like I've become one of them!
:(
Sunday, February 10, 2008
Rapor Idola Cilik Seleb RCTI
Another worthless show giving Indonesian youths shortcut way to become rich and famous, without having to work or study hard. Just make yourself a celebs the rest will come to you.
Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya sore tadi.
Yang menarik adalah saat bintang tamu yg mengisi acara ini, Matta Band, tampil.
Penampilan pertama diisi dengan lagu andalan mereka, "Ketahuan"; yang langsung disambut dan turut dinyanyikan dengan antusias oleh anak2 kecil peserta dan penonton acara ini.
Iya memang ini acara buat anak kecil yg kerabatnya selebriti buat tampil memperebutkan tabungan pendidikan -- aneh? bukannya banyak yg lebih butuh tabungan pendidikan daripada anak2nya seleb?-- penontonnya pun adalah anak2 kecil biasa yg ortu2nya nantinya bakal terbuai untuk beli produk sponsor supaya anaknya bisa kayak seleb dan turut pula berkhayal supaya anaknya gak perlu tinggi2 sekolah yg penting jago nyanyi dan bisa akting nangis bin marah2 buat modal jadi selebriti sinetron!
Nah ceritanya si Matta ini kayaknya agak nggak enak hati juga pas bawain "Ketahuan" dan disambut dengan gegap gempita sambil anak2 kecil yg masih ingusan ini turut menyanyikan... karena syair lagu itu sebetulnya lebih pas untuk anak2 yg minimal sudah remaja (teenager).
"Wo'o... kamu ketahuan... pacaran lagi...
Jadilah di penampilan kedua Matta membuat kejutan dengan menyanyikan lagu... "Pada Hari Minggu Kuturut Ayah ke Kota.." dan "Abang Becak"...
en you know what the tragic thing is....?
Anak2 kecil yg tadinya begitu antusias menyanyikan "Ketahuan", mendadak diam.... gak ada yg ngerti lagunya!
Ironis.
Saya agak bisa (menduga) mengerti kenapa Matta pilih bawakan lagu anak2 ini di penampilan keduanya setelah rehat. Pastilah mereka 'sadar' akan penontonnya dan sadar juga pilihan lagu mereka yg pertama tidak tepat untuk usia anak2 ini..
Tapi apa mau dikata.. anak2 ini lebih hapal lagu 'dewasa' mereka itu ketimbang lagu anak2!
Sedih.
Sudahlah di TV isinya tayangan karbit tak mendidik seperti ini (kecuali mendidik buat mentingin penampilan, beken, kaya mendadak tanpa kerja keras), sinetron pun cuma mengajari menghina orang yg lebih rendah, pergi ke toko buku komik berisi bokep dan komik anak2 dicampur bersebelahan, mau jadi apa lagi anak-anak bangsa ini...
Kalau ada yg bilang "Kalau memang gak suka ya gak usah nonton! Ganti channel aja gitu kok repot"
Boleh dijawab? "Ada orang kentut depan hidung kamu. Kamu lagi makan. Kalau memang gak suka ya gak usah dihirup. Tutup idung aja atau pindah duduk. Gitu aja kok repot!"
That's not the fuckin' point.
Tayangan2 yg berpotensi mengkarbit anak2 sebelum waktunya boleh ditayangkan tapi selepas pukul 10 malam, di saat anak2 sudah tidur.
Iklan2 yg berisikan kekerasan atau horor hanya boleh tayang juga di waktu yg sama.
Komik pun perlu rating.
Sebegitu bodohnya kah pejabat pemerintah kita hingga sampai saat ini masih tidak tahu kalau komik jepang itu ada yang namanya Hentai?
Masa sampai sekarang masih menganggap komik itu bacaan untuk anak kecil dan semuanya sama isinya! Huh!
Harus ada klasifikasi, rating. Dan ini harus dijalankan oleh lembaga yg punya kuasa pemaksa dan menghukum.
Jangan tunggu sampai generasi bangsa ini rusak barulah kita merasa kecolongan dan perlu untuk bertindak.
Sunday, February 03, 2008
Jujur tapi sakit atau Manis tapi bohong?
Menurut sampeyan mana yg lebih mending?
- Anak yang baik adalah anak yg tidak pernah berbohong pada orangtuanya, walaupun sejelek apa kelakuan dia di luar rumah. Anak tipe ini tahu apa yg dia lakukan akan menyakiti hati orang tuanya, tapi ia memilih untuk tetap jujur pada ayah/ibu walaupun itu berarti menyakiti hati mereka.
Ia memilih untuk tidak memakai topeng dengan resiko ortunya yg 'makan ati' karena kelakuan dia. They deserve the truth how bitter it is.
ATAU
Ia memilih untuk memakai topeng dengan niatan tidak ingin menyakiti perasaan ayah/ibunya. It's his own life and responsibility anyway.
Terus terang saya masih bingung. Dalam mendidik anak saya nanti arah mana yg harus saya tanamkan.
Tentu saja ada pilihan ketiga, yaitu si anak selalu jujur dan tidak pernah melakukan hal2 yg bikin ayah/ibunya tersakiti perasaannya. But hey this is real world, there's no such thing in the real world.
So leave your moral and ideal answers behind and come up to me with practical solutions, will ya!
Thanks before hands.
Selamat Jalan, Jenderal Besar.. Selamat Menghadap Tuhan.
Bayangkan anda diangkat jadi seorang pemimpin perusahaan, kas perusahaan kosong dan minus, karyawan terpecah belah, banyak kubu senior manajemen yg saling berseteru, share holders berteriak2 pada saudara menuntut hak mereka. Ditambah lagi bayang2 sang CEO lama yg masih sangat berpengaruh.
Apa yg bakal anda lakukan?
Sekarang ganti posisi itu dengan presiden RI di tahun 1966.
Kurang lebih itulah yg dihadapi pak Harto. Puyeng? pasti.
Tahun 1980-an masa keemasan RI, ekonomi tumbuh dengan laju yg fantantis serupa dengan yg sekarang dinikmati cina. Harga stabil, laju inflasi terkendali, kebutuhan dasar terpenuhi, pendidikan masih terjangkau, kesehatan relatif merata, pertumbuhan infrastruktur terus meningkat.
Pendeknya Indonesia telah menjelma menjadi macan Asia dengan prospek yg sangat cerah di masa depan.
Kurang lebih begitulah pendapat rekan2 di kantor di negara-pulau ini. Bagi mereka apa yg Pak Harto lakukan untuk Indonesia begitu fantastis serupa dengan apa yg LKY telah lakukan bagi singapura hingga seperti sekarang.
Rekan2 ini tak habis pikir kenapa di saat2 terakhirnya Pak Harto tidak mendapat perlakuan yg selayaknya. Malah dikejar2 bak seorang kriminal.
Kami2 para TKI hanya bisa tersenyum saja mendengar tuduhan 'tidak tahu terimakasih' dari mereka.
Mungkin memang wajar kalau mereka tidak perlu hirau untuk mencari tahu bagaimana bedanya bumi dengan langit perlakuan terhadap Pak Harto dan perlakuan terhadap Bung Karno di saat2 terakhirnya.
Tapi yg bikin tergelitik adalah banyak orang Indonesia sendiri yg seakan menyayangkan bergantinya pemerintah dan menyalahkan semua keterpurukan Indonesia saat ini sebagai akibat dari digantinya Pak Harto.
Wah..wah.. Pak Harto memang berhasil membuat kita berswasembada pangan, tapi beliau juga menyebabkan ribuan petani cengkeh mati merana. Pak Harto berhasil menekan harga kebutuhan pokok, tapi beliau juga menyebabkan setiap anak bayi yg terlahir dari bumi Indonesia ini menanggung beban hutang luar negeri.
Lantas apa hebatnya? LKY meniru gaya yg sama dalam membangun singapura, tapi beliau tidak meninggalkan beban hutang! Mahattir juga berproyek untuk kebanggaan malaysia dengan petronas dan proton-nya, tapi ia tidak membuat perusahaan2 yg jago kandang dan korup!
Kesalahan terbesar Pak Harto bagi bangsa Indonesia menurut saya adalah dengan mengadopsi budaya feodalisme ke dalam pemerintahan dan menyuntikkannya ke nadi bangsa.
Rakyat bangsa ini jadi penakut untuk bicara, jadi terbiasa menunduk menyembah2 atasannya walaupun salah, rakyat bangsa ini jadi orang yg kerdil ketika berhadapan dengan orang asing. Budaya feodalisme ala Raja Jawa inilah yg menarik Indonesia mundur sekian puluh tahun ke belakang walaupun bangunan fisiknya maju menjulang.
Tak kurang Prof Selo Soemardjan dan Bapak Soedarpo Sastrosatomo pun menyatakan hal yg sama. Bahwa dosa terbesar Suharto bagi bangsa ini adalah mengadopsi budaya feodalisme Jawa ke dalam pemerintahan.
Menumpulkan pemikiran kritis dan berbeda pendapat (yang sudah ada sejak jaman Bung Karno-Hatta) dan melahirkan pribadi2 penurut yg tidak punya daya saing selain menunggu apa mau atasan.
Penyakit warisan ini yg bikin bangsa ini tak lepas2 dari krisis hingga sekarang.
Kalau sudah begini apa perlu bagi kita untuk 'tau berterimakasih' pada pemimpin yang menyebabkan ini semua?
Mohon maaf, masa2 Orde Baru adalah masa yg indah. Pendidikan terjangkau. Harga stabil. Tapi apalah artinya kalau itu semua semu?
Semuanya dibangun dari hutang. Hutang yg tak dipersiapkan untuk dibayar dengan baik.
Hutang yg sebagian besarnya mengalir ke kantong para pemimpin rakyat.
Sementara rakyatnya dibuai dengan pendidikan terjangkau, laju ekonomi yg tinggi, harga yg stabil, pekerjaan melimpah.
Ibarat orang yg berkaca dan melihat dirinya berwajah mulus ditata salon, berpakaian mewah dan enak dilihat, wangi lagi harum.. tapi semuanya itu dibeli dengan kartu kredit.
Seorang necis, rapi, tampan gagah tapi penuh hutang.
Apalah artinya?


