generated by sloganizer.net

Tuesday, August 28, 2007

People's Republic of China

Tak putus rasanya nikmat mengalir pada diri buruk ini.
sayang.. manusia memang tak pandai bersyukur..

Awal September lalu, sempatlah diri buruk ini diberi kesempatan melanglang ke negeri Tsin.
Belajar sebagaimana diperintah oleh Sang Nabi.
Sayang.. terlupa nampaknya Beliau mengingatkan di sana semua2 benda disebut makanan, semua2 cairan disebut minuman. Ah, mungkin saya saja yg tak menangkap makna suruhannya..

Beijing Airport, 6 Sept 2005

Sebuah bandara yg dikelilingi persawahan dan gedung2 tinggi pemukiman di latar belakang. Dari atas nampak gersang dan (maaf) usang. Tapi setelah mendarat ternyata besar juga.. biarpun apa yah... ada hawa yg beda terasa. Gak tau deh.. mungkin gara2 guanya aja yg jadi buta huruf mendadak begitu mendarat disana.

Bandara - pusat kota lumayan jauh, tapi mata yg penat lumayan terhibur dengan pemandangan pinus kanan-kiri dengan matahari senja yg bulat menggantung dan.... jantung pun ikut 'sehat' menikmati gaya berkendara khas tirai bambu. Serasa ada di rumah... :p

Waktu itu musim apa yah.. pokoke cuaca gak panas, gak dingin. ngepas2 aja...
Sampai hotel setelah istirahat sebentar, jalan2 deh ke sentra bisnisnya Beijing.
Wang Fu Jing district. Mau barang apa aja ada (tapi plesetannya). hahaha... ada toko olahraga yg gede banget en jual perlengkapan yg ijk lihat sepintas bak "NIKE", tapi kok diusut2 ternyata plesetannya.... :D

Lapar. Mata tertarik pada sebuah tulisan beraksara latin "Dongsun Lai Muslim restaurant". Nah.. ini die nih... hehehehe... masuklah ke dalam untuk kemudian disambut ramah dan disodori menu berbahasa.... cina. :D

hekekekek.. singkat cerita makanlah dengan lahap.. tapi yg bikin bingung itu resto jelas2 Muslim restorant minuman yg dijualnya itu lebih banyak bir en wine-nya.. gimana jeh.. hehehe

Setelah selesai makan dan sukses menolak berbotol bir dan anggur yg disodorkan, saya pun kembali ke hotel. Jalan kaki saja, iseng.

Untuk sampai saya harus mutar lewat depan Kota Terlarang atau jalan menelusuri belakangnya.. atau nah ini yg rada mantep.. memotong jalan lewat dalem dengan resiko kepergok penjaga2 berseragam Tengtara Pembebasan Rakyat! (tentaranya masih sangat muda dan culun2. taksiran saya umur mereka spt baru lulus smp).

Wah ini istana ternyata luasnya bener2 segede kota kabupaten sendiri! nggeblegh.. untung gue tadi kagak milih opsi kedua--muterin Kota Terlarang lewat belakang, kalo iya kan kojor juga!

Di dalamnya (Sebetulnya ini belum dalam2 amat sih, masih terhitung di pekarangannya juga. Soale yg dalam kalau malam ditutup gerbangnya dan dijaga tengtara culun berkaos singlet) ternyata luas juga. ada danau (?) buatan kecil dengan bale bengong yg cantik di tiap sudutnya.

Pas lagi jalan sambil ngerutukin nasib yg gak bisa basa cina en gak nemu taksi lewat, gak sengaja lihat sosok yang saya kenal. Itu BMW seri R!!

Setengah lari saya menghampiri motor cantik ini (yang punya lsg berdiri pasang kuda2 gitu pas liat gua mendekat). Hijau lumut dan ber-zijspan/kereta gandeng. Weeehh... kaga nyangka ketemu kita di Cina! hehehe..


Eh, tapi setelah tak amat2i.. kok ada yg mencurigakan ama ini motor..
Huakakakak.. pas udah deket keliatan tulisan di mesinnya "XiangJiang"
Hehehe... ujung2nya ngobrol2 sebentar deh sama yang punya, sambil kasih tunjuk foto si Bule yg ada dalam hp.


entar yah dilanjutin lagih...

(10 des 2005)

Saturday, August 25, 2007

Waktu

Demi Masa.


Sesungguhnya manusia itu merugi.
Kecuali mereka yang percaya
dan berbuat baik.

Dan saling menasehati
dalam kebaikan
dan kesabaran.

-----------

Friday, August 17, 2007

Selamat Ulang Tahun Indonesia

Merdeka!!

Selamat Ulang Tahun, Bangsaku.
Bangsa yang berjuang dan memenangkan kemerdekaannya.

Kini saat kita semua bergerak maju.
Berpindah dari persamaan sejarah dan derita nestapa ke persamaan tujuan.
Persamaan Gagasan!

Bahwa Bangsa kita bisa maju.
Bahwa Bangsa kita tidak dicipta untuk jadi pecundang.

Bangsa ini bangsa yang besar.
Sejarah membuktikan itu, sayang tidak semua kita tahu.

Mari kita gali kembali kejayaan bangsa kita!
Mari kita lupakan perbedaan dan gandeng tangan kerja keras untuk maju!

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka!!




(Temasek, 17 Agustus 2007)

Thursday, August 16, 2007

Emangnye Gua Pikirin...!

Kalimat ini muncul kembali di benak ketika terbaca di salah satu milis yg saya ikuti. Kalimat brengsek satu ini!
Saya sudah tidak suka dengan kalimat ini di saat pertama kemunculannya (kalau tak salah diucapkan oleh Indro di salah satu film Warkop DKI). Tidak mendidik!
Kalimat ini menumpulkan kepedulian.
Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau tiap kali ada perbedaan pendapat yg tidak bisa kita jawab dengan otak lantas dengan entengnya diucapkan kalimat seperti itu.
"Emangnya gua pikirin..!", "Cuek aja...", "Sebodo amat..!", "So wot geto loch..!"
Kalimat-kalimat seperti ini awalnya mungkin cuma untuk asyik2an aja.. funky2an bumbu pergaulan.. tapi sebagaimana pertumbuhan pergaulan di remaja.. yg awalnya hanya terucap lantas dirasa tak lagi cukup. lalu ternyatakanlah lewat perbuatan..
Yang awalnya cuma bilang... Udah cuek aja... takut amat sih... (tapi tetep gak berani ngelanggar), akhirnya setelah sekian lama... "Lu cuak cuek cuak cuek tapi lu sendiri gak berani. Ayo kalo emang cuek, ayo lakuin!"
Coba bagaimana saudara mau membela diri depan polisi ketika dituduh melakukan pelanggaran yg tidak saudara lakukan kalau si polisi dengan cueknya bilang "emangnya gua pikirin..."
atau coba bagaimana saudara bisa menambah wawasan lewat diskusi bila tiap ada beda pendapat yg bertentangan dengan pendapat saudara dan saudara tak bisa jawab pakai otak; lantas gampang aja.. "so wot geto loch.." "gak penting banget deh!"
*Kalo gak penting ngapain dari awal diskusi????
Saya berani taruhan kalimat brengsek dan segala rekan2 sebangsanya ini menyumbang andil besar pada tulinya wakil rakyat kita, pada tidak pedulinya aparat hukum kita, pada bejatnya sumbangan tayangan hiburan kita...
Bukannya apa-apa kalau tulisan ini sarat nada kekesalan, karena buat saya sikap yg seperti inilah yg menghambat kemajuan kita sebagai bangsa.
Ketika salah seorang aparat pajak ditanya tentang kenapa kok amburadul proses pemunduhan pemasukan dari pajak di negeri kita? kenapa banyak wajib pajak yg sudah bersedia membayar malah dijadikan sapi perah oleh petugasnya dan itu dibiarkan saja? kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu yg intinya mengajukan usul, mengajak dialog mencari solusi demi kemajuan... eh... jawaban yg diterima malah....
"Lu pusing mikirin pajak di negeri ini?? Ngapain lu pusingin?? Gua aja gak pusing. Kagak peduli gua... Emangnya gua pikirin mau pajak beres kek kagak kek! yang penting hepi!!"
*Yg jawab ini adalah orang dari dirjen pajak.
Entah sampai kapan bangsa ini sadar akan ketinggalannya.
Huh!

Friday, July 13, 2007

Neighbour


Beberapa waktu lalu saat sedang marak ribut2 soal numpang latihan perang2an antara dua negara bertetangga, suatu sore saya berbincang dengan seorang uncle tetangga sebelah rumah.

Yah.. namanya juga tinggal di rusun. Wajar kalau sering bertemu muka.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si uncle ini tiba2 bilang:

"Negara saya ini makmur tapi kecil. Karena itulah kami selalu kena bully oleh negara kamu. Karena negara saya ini kecil."

(wah, apaan nih..) pikir saya.

Usut punya usut ternyata beliau mengikuti perkembangan soal perjanjian buat main perang2an antara dua negara tetanggaan ini. Hehehe..

Saya agak malas sebetulnya meladeni. Tapi berhubung si uncle nembak terus pakai mitraliur terpaksalah... putar otak buat jawab biar "kena".


"Wah am so sorry, Uncle. I dont really follow the political situation."

Ada barang 2-3 menit setelah itu kami larut dalam diam.

"Uncle.."

Saya mau cerita nih.. sekalian tanya pendapat, Uncle.
Misalnya uncle punya anak, anak uncle ini bandelnya setengah mati. Sementara uncle sendiri tidaklah seberapa makmur untuk menggaji pembantu mengawasi anak ini.

Suatu hari anak ini mencuri uang uncle, lumayan besar sampai hampir bangkrut uncle dibuatnya. Uncle belum tahu nih.. bagaimana kok bisa hilang itu uang, cuma uncle tahu si anak inilah yg mencuri.

Sebelum uncle sempat berbuat apa2, anak ini lari. Kabur.
Ke rumah saya. Saya tahu dia sedang uncle cari dan dia kabur setelah berbuat nakal di rumahnya.


Now, what do you say when..

a) Instead of telling you that he's in my house, I welcome him with open arms and offer him one of my room to stay.

As long as you be my "permanent resident" and "pay the rent", I said to him.

b) I know he brings a lot sum of money, so I offer him a joint cooperation. You may open your business here, I have a very relaxed policy on setting up business in my house front yard.

As long as you pay the tax, I'll let you do it.

c) When he has difficulties selling the products, I help him by selling those products --produced using your stolen money, Uncle -- to YOU. His father, the real owner of the money.

Well, I have a cart business in front of my house anyway, it makes things simple.

So, Without much sweat I managed to get some profit by selling things made from your stolen money to you.

d) After several months, you find out that your son--the criminal-- is hiding in my place.

Alive, sound and wealthy -- Thanks to my assistance.

But you cant do anything to bring him back by force -- Eventhough you're older but you're not as powerful as I am and I made you "owe" so much to me by always lending hands whenever you got struck by a typhoon or whenever your house got earthquake etc. So you come to me, appealing to have him back.

e) Instead of handing him over to you, I require you a condition to have him back.

First, he must be convicted as criminal (who am I to ask this?? but you cant do anything, can you? You need me.)

Second, in exchange for my 'assistance' you must let me in to your house and provide a designated area for me to do my own things.


Such as.. practising my shotgun, bomb training for my self defence, and doing my smackdown activities there. Every month at 15 days each.

Oh ya, you must also let me bring my other friends to practise our figthing skill. Dont worry, I'll help you fight fires in your garden in addition.

Saya berhenti sebentar. Tarik nafas dulu...


Now, Uncle. Let me ask you..

If All those really happened, will you not be angry to me for this?

Si Uncle diam. Mikir dia kayaknya...


"Uncle, that's how my country--my people feels. That's what we have in mind when your country requires so many things in exchange just to return OUR OWN people who do harm to us, OUR OWN people who steal from us."

"Now, after all this conversation... Do you still consider my country bullying yours?"


Tumasik, 13 July 2007.
*Just a fiction. Nothing's real.