generated by sloganizer.net

Saturday, August 25, 2007

Waktu

Demi Masa.


Sesungguhnya manusia itu merugi.
Kecuali mereka yang percaya
dan berbuat baik.

Dan saling menasehati
dalam kebaikan
dan kesabaran.

-----------

Friday, August 17, 2007

Selamat Ulang Tahun Indonesia

Merdeka!!

Selamat Ulang Tahun, Bangsaku.
Bangsa yang berjuang dan memenangkan kemerdekaannya.

Kini saat kita semua bergerak maju.
Berpindah dari persamaan sejarah dan derita nestapa ke persamaan tujuan.
Persamaan Gagasan!

Bahwa Bangsa kita bisa maju.
Bahwa Bangsa kita tidak dicipta untuk jadi pecundang.

Bangsa ini bangsa yang besar.
Sejarah membuktikan itu, sayang tidak semua kita tahu.

Mari kita gali kembali kejayaan bangsa kita!
Mari kita lupakan perbedaan dan gandeng tangan kerja keras untuk maju!

Dirgahayu Republik Indonesia

Merdeka!!




(Temasek, 17 Agustus 2007)

Thursday, August 16, 2007

Emangnye Gua Pikirin...!

Kalimat ini muncul kembali di benak ketika terbaca di salah satu milis yg saya ikuti. Kalimat brengsek satu ini!
Saya sudah tidak suka dengan kalimat ini di saat pertama kemunculannya (kalau tak salah diucapkan oleh Indro di salah satu film Warkop DKI). Tidak mendidik!
Kalimat ini menumpulkan kepedulian.
Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau tiap kali ada perbedaan pendapat yg tidak bisa kita jawab dengan otak lantas dengan entengnya diucapkan kalimat seperti itu.
"Emangnya gua pikirin..!", "Cuek aja...", "Sebodo amat..!", "So wot geto loch..!"
Kalimat-kalimat seperti ini awalnya mungkin cuma untuk asyik2an aja.. funky2an bumbu pergaulan.. tapi sebagaimana pertumbuhan pergaulan di remaja.. yg awalnya hanya terucap lantas dirasa tak lagi cukup. lalu ternyatakanlah lewat perbuatan..
Yang awalnya cuma bilang... Udah cuek aja... takut amat sih... (tapi tetep gak berani ngelanggar), akhirnya setelah sekian lama... "Lu cuak cuek cuak cuek tapi lu sendiri gak berani. Ayo kalo emang cuek, ayo lakuin!"
Coba bagaimana saudara mau membela diri depan polisi ketika dituduh melakukan pelanggaran yg tidak saudara lakukan kalau si polisi dengan cueknya bilang "emangnya gua pikirin..."
atau coba bagaimana saudara bisa menambah wawasan lewat diskusi bila tiap ada beda pendapat yg bertentangan dengan pendapat saudara dan saudara tak bisa jawab pakai otak; lantas gampang aja.. "so wot geto loch.." "gak penting banget deh!"
*Kalo gak penting ngapain dari awal diskusi????
Saya berani taruhan kalimat brengsek dan segala rekan2 sebangsanya ini menyumbang andil besar pada tulinya wakil rakyat kita, pada tidak pedulinya aparat hukum kita, pada bejatnya sumbangan tayangan hiburan kita...
Bukannya apa-apa kalau tulisan ini sarat nada kekesalan, karena buat saya sikap yg seperti inilah yg menghambat kemajuan kita sebagai bangsa.
Ketika salah seorang aparat pajak ditanya tentang kenapa kok amburadul proses pemunduhan pemasukan dari pajak di negeri kita? kenapa banyak wajib pajak yg sudah bersedia membayar malah dijadikan sapi perah oleh petugasnya dan itu dibiarkan saja? kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu yg intinya mengajukan usul, mengajak dialog mencari solusi demi kemajuan... eh... jawaban yg diterima malah....
"Lu pusing mikirin pajak di negeri ini?? Ngapain lu pusingin?? Gua aja gak pusing. Kagak peduli gua... Emangnya gua pikirin mau pajak beres kek kagak kek! yang penting hepi!!"
*Yg jawab ini adalah orang dari dirjen pajak.
Entah sampai kapan bangsa ini sadar akan ketinggalannya.
Huh!

Friday, July 13, 2007

Neighbour


Beberapa waktu lalu saat sedang marak ribut2 soal numpang latihan perang2an antara dua negara bertetangga, suatu sore saya berbincang dengan seorang uncle tetangga sebelah rumah.

Yah.. namanya juga tinggal di rusun. Wajar kalau sering bertemu muka.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si uncle ini tiba2 bilang:

"Negara saya ini makmur tapi kecil. Karena itulah kami selalu kena bully oleh negara kamu. Karena negara saya ini kecil."

(wah, apaan nih..) pikir saya.

Usut punya usut ternyata beliau mengikuti perkembangan soal perjanjian buat main perang2an antara dua negara tetanggaan ini. Hehehe..

Saya agak malas sebetulnya meladeni. Tapi berhubung si uncle nembak terus pakai mitraliur terpaksalah... putar otak buat jawab biar "kena".


"Wah am so sorry, Uncle. I dont really follow the political situation."

Ada barang 2-3 menit setelah itu kami larut dalam diam.

"Uncle.."

Saya mau cerita nih.. sekalian tanya pendapat, Uncle.
Misalnya uncle punya anak, anak uncle ini bandelnya setengah mati. Sementara uncle sendiri tidaklah seberapa makmur untuk menggaji pembantu mengawasi anak ini.

Suatu hari anak ini mencuri uang uncle, lumayan besar sampai hampir bangkrut uncle dibuatnya. Uncle belum tahu nih.. bagaimana kok bisa hilang itu uang, cuma uncle tahu si anak inilah yg mencuri.

Sebelum uncle sempat berbuat apa2, anak ini lari. Kabur.
Ke rumah saya. Saya tahu dia sedang uncle cari dan dia kabur setelah berbuat nakal di rumahnya.


Now, what do you say when..

a) Instead of telling you that he's in my house, I welcome him with open arms and offer him one of my room to stay.

As long as you be my "permanent resident" and "pay the rent", I said to him.

b) I know he brings a lot sum of money, so I offer him a joint cooperation. You may open your business here, I have a very relaxed policy on setting up business in my house front yard.

As long as you pay the tax, I'll let you do it.

c) When he has difficulties selling the products, I help him by selling those products --produced using your stolen money, Uncle -- to YOU. His father, the real owner of the money.

Well, I have a cart business in front of my house anyway, it makes things simple.

So, Without much sweat I managed to get some profit by selling things made from your stolen money to you.

d) After several months, you find out that your son--the criminal-- is hiding in my place.

Alive, sound and wealthy -- Thanks to my assistance.

But you cant do anything to bring him back by force -- Eventhough you're older but you're not as powerful as I am and I made you "owe" so much to me by always lending hands whenever you got struck by a typhoon or whenever your house got earthquake etc. So you come to me, appealing to have him back.

e) Instead of handing him over to you, I require you a condition to have him back.

First, he must be convicted as criminal (who am I to ask this?? but you cant do anything, can you? You need me.)

Second, in exchange for my 'assistance' you must let me in to your house and provide a designated area for me to do my own things.


Such as.. practising my shotgun, bomb training for my self defence, and doing my smackdown activities there. Every month at 15 days each.

Oh ya, you must also let me bring my other friends to practise our figthing skill. Dont worry, I'll help you fight fires in your garden in addition.

Saya berhenti sebentar. Tarik nafas dulu...


Now, Uncle. Let me ask you..

If All those really happened, will you not be angry to me for this?

Si Uncle diam. Mikir dia kayaknya...


"Uncle, that's how my country--my people feels. That's what we have in mind when your country requires so many things in exchange just to return OUR OWN people who do harm to us, OUR OWN people who steal from us."

"Now, after all this conversation... Do you still consider my country bullying yours?"


Tumasik, 13 July 2007.
*Just a fiction. Nothing's real.

Monday, December 11, 2006

Sebuah Rumah di Perempatan Jalan

Di dekat kontrakan saya ada sebuah rumah, letaknya di pojokan tepat di perempatan jalan. Rumahnya biasa saja sih.. sudah lama sepertinya. Di rumah itu tinggal para pekerja konstruksi yg sepertinya berasal dari sebuah anak benua di Asia.
Biasanya saya tak terlalu hirau dengan rumah ini dan penghuninya, walaupun beberapa kali lewat kalau sedang berjalan menuju rumah.
Tapi sudah sejak beberapa hari ini sejak kantor pindah saya harus mengambil rute lain untuk pulang ke rumah, jadi selalu melewati rumah ini dan selalu saja ada hal menarik untuk saya perhatikan dari penghuninya..
Mereka tinggal beramai-ramai, sepertinya masih muda-muda.. paling tua samalah umurnya dengan saya..
Sebagaimana layaknya pekerja migran di negara kota ini, hidup mereka sangatlah bersahaja. Mengontrak rumah ramai-ramai, memasak bersama (wangi masakan mereka sering tercium kala saya sedang jalan dari halte ke rumah), bersenda gurau di beranda ataupun seringkali terlihat mereka sedang sholat bersama di ruang tengah yg tak seberapa luas.
Tadi malam bahkan saya dapati mereka sedang asyik menyimak salah seorang yg sepertinya sedang menyampaikan nasihat agama (rumah kontrakan di pojok jalan ini tidak punya gorden, jadi kegiatan di ruang tengah rumah terlihat dengan jelas), sungguh... tersentuh rasanya hati melihat kesahajaan mereka di negeri orang.
Terutama kalau mengingat betapa seringnya tatap sinis mereka terima; dari orang-orang yg berhutang jasa pada mereka; hanya karena kelamnya warna kulit yg dianugerahkan Tuhan pada bangsa mereka..
Beberapa malam lalu saya pulang agak larut, setelah menemani seorang teman yang sedang limbung akan kehidupan rumahtangganya. Dan seperti biasa seturun dari halte, saya melewati rumah di perempatan jalan itu. Kali ini penghuni-penghuninya sedang duduk berkumpul di beranda, berbincang2 santai sambil mengipas-ngipas. Wah, baru selesai sholat rupanya..
Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya..
Seorang penghuni terlihat duduk di pojokan, menyendiri di atas tanggul pembatas saluran air. Matanya terlihat masygul dan ragu-ragu sambil melihat tangannya yang memain-mainkan selembar kartu telepon SLI.. Ketika ia mengangkat wajahnya saya bisa lihat tatap matanya.. Mata itu mata yang sedang merindu..
Ia mengangkat wajah menengadah ke langit sambil menghembus nafas panjang.. selembar kartu SLI itu masih dimain2kannya di tangan kanan, sementara tangan kiri menggenggam handphone yang seakan dipencet dengan ragu-ragu..
Saya tahu yang ada di benaknya... rindu dan kangen pada keluarga.. mungkin pada anak dan istrinya yang sedang menunggu nun jauh disana..
Rindu itu memang susah untuk tertahankan.. kadang hanya bisa terobati oleh suara orang tersayang di seberang sana. Tapi itupun suatu kemewahan bagi mereka...
Ya, suatu kemewahan.
Harga kartu telpon yang 'cuma' 10 dolar itu akan terasa mahal bagi mereka-mereka yang hidup bahkan hanya dengan 10 dolar seminggu... yang untuk berangkat harus berhutang, pergi jauh ke negeri orang terkadang tak paham bahasanya, untuk kemudian harus kerja super keras dan hidup super hemat demi bisa menabung mengirim uang bagi keluarganya di kampung dan melunasi uang ongkos pergi dahulu..
Teman saya ini menunduk lagi.. kali ini helaan nafasnya panjang... dihembuskan kuat-kuat... sepertinya ia terpaksa mengalah malam ini... rindu itu harus menunggu untuk ia obati nanti...
Ah, teman... apakah kau rasa rindu yang sama seperti yang sedang kurasa?
Rindu pada keluarga... Rindu pada anak dan istri nun jauh di sana....
Kudoakan teman.. semoga pengorbananmu ini tidak sia-sia.. semoga keluargamu baik-baik saja di sana... semoga kelak anak-anakmu tak harus alami kehidupan seperti Bapaknya...
Semoga teman... semoga... Amin..
Rose Lane 24, 11 Dec 06. 11.33 pm.
(Untuk teman-teman di rumah kontrakan perempatan TanjongKatong-Dunman Road. Semoga Allah ridha akan pengorbanan kalian semua. Amin.)