Sunday, February 10, 2008

Rapor Idola Cilik Seleb RCTI

Sore ini sambil menemani Mufasa main, kami nonton acara TV di RCTI. Namanya Rapor Idola Cilik Seleb.

Another worthless show giving Indonesian youths shortcut way to become rich and famous, without having to work or study hard. Just make yourself a celebs the rest will come to you.

Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya sore tadi.

Yang menarik adalah saat bintang tamu yg mengisi acara ini, Matta Band, tampil.

Penampilan pertama diisi dengan lagu andalan mereka, "Ketahuan"; yang langsung disambut dan turut dinyanyikan dengan antusias oleh anak2 kecil peserta dan penonton acara ini.


Iya memang ini acara buat anak kecil yg kerabatnya selebriti buat tampil memperebutkan tabungan pendidikan -- aneh? bukannya banyak yg lebih butuh tabungan pendidikan daripada anak2nya seleb?-- penontonnya pun adalah anak2 kecil biasa yg ortu2nya nantinya bakal terbuai untuk beli produk sponsor supaya anaknya bisa kayak seleb dan turut pula berkhayal supaya anaknya gak perlu tinggi2 sekolah yg penting jago nyanyi dan bisa akting nangis bin marah2 buat modal jadi selebriti sinetron!


Nah ceritanya si Matta ini kayaknya agak nggak enak hati juga pas bawain "Ketahuan" dan disambut dengan gegap gempita sambil anak2 kecil yg masih ingusan ini turut menyanyikan... karena syair lagu itu sebetulnya lebih pas untuk anak2 yg minimal sudah remaja (teenager).

"Wo'o... kamu ketahuan... pacaran lagi...
dengan dirinya... Teman baikku... Wo'o..."


Jadilah di penampilan kedua Matta membuat kejutan dengan menyanyikan lagu... "Pada Hari Minggu Kuturut Ayah ke Kota.." dan "Abang Becak"...

en you know what the tragic thing is....?

Anak2 kecil yg tadinya begitu antusias menyanyikan "Ketahuan", mendadak diam.... gak ada yg ngerti lagunya!

Ironis.

Saya agak bisa (menduga) mengerti kenapa Matta pilih bawakan lagu anak2 ini di penampilan keduanya setelah rehat. Pastilah mereka 'sadar' akan penontonnya dan sadar juga pilihan lagu mereka yg pertama tidak tepat untuk usia anak2 ini..
Tapi apa mau dikata.. anak2 ini lebih hapal lagu 'dewasa' mereka itu ketimbang lagu anak2!

Sedih.

Sudahlah di TV isinya tayangan karbit tak mendidik seperti ini (kecuali mendidik buat mentingin penampilan, beken, kaya mendadak tanpa kerja keras), sinetron pun cuma mengajari menghina orang yg lebih rendah, pergi ke toko buku komik berisi bokep dan komik anak2 dicampur bersebelahan, mau jadi apa lagi anak-anak bangsa ini...


Kalau ada yg bilang "Kalau memang gak suka ya gak usah nonton! Ganti channel aja gitu kok repot"

Boleh dijawab? "Ada orang kentut depan hidung kamu. Kamu lagi makan. Kalau memang gak suka ya gak usah dihirup. Tutup idung aja atau pindah duduk. Gitu aja kok repot!"


That's not the fuckin' point.
The point is, we need rules and regulations for Television, Books and even Advertisings.

Tayangan2 yg berpotensi mengkarbit anak2 sebelum waktunya boleh ditayangkan tapi selepas pukul 10 malam, di saat anak2 sudah tidur.

Iklan2 yg berisikan kekerasan atau horor hanya boleh tayang juga di waktu yg sama.


Komik pun perlu rating.

Sebegitu bodohnya kah pejabat pemerintah kita hingga sampai saat ini masih tidak tahu kalau komik jepang itu ada yang namanya Hentai?
Alias komik Bokep? Gak tau?? Kemana aja sih lu.. di STPDN diajarin apaan aja sihh???

Masa sampai sekarang masih menganggap komik itu bacaan untuk anak kecil dan semuanya sama isinya! Huh!


Harus ada klasifikasi, rating. Dan ini harus dijalankan oleh lembaga yg punya kuasa pemaksa dan menghukum.

Jangan tunggu sampai generasi bangsa ini rusak barulah kita merasa kecolongan dan perlu untuk bertindak.

Sunday, February 03, 2008

Jujur tapi sakit atau Manis tapi bohong?

Menurut sampeyan mana yg lebih mending?

- Anak yang baik adalah anak yg tidak pernah berbohong pada orangtuanya, walaupun sejelek apa kelakuan dia di luar rumah. Anak tipe ini tahu apa yg dia lakukan akan menyakiti hati orang tuanya, tapi ia memilih untuk tetap jujur pada ayah/ibu walaupun itu berarti menyakiti hati mereka.

Ia memilih untuk tidak memakai topeng dengan resiko ortunya yg 'makan ati' karena kelakuan dia. They deserve the truth how bitter it is.

ATAU

- Anak yg baik adalah anak yg memilih untuk berbohong pada orangtuanya. Ia tahu kelakuannya di luar rumah adalah salah dan pasti akan menyakiti hati ayah/ibunya bila mereka tahu.

Ia memilih untuk memakai topeng dengan niatan tidak ingin menyakiti perasaan ayah/ibunya. It's his own life and responsibility anyway.


Terus terang saya masih bingung. Dalam mendidik anak saya nanti arah mana yg harus saya tanamkan.

Tentu saja ada pilihan ketiga, yaitu si anak selalu jujur dan tidak pernah melakukan hal2 yg bikin ayah/ibunya tersakiti perasaannya. But hey this is real world, there's no such thing in the real world.

So leave your moral and ideal answers behind and come up to me with practical solutions, will ya!

Thanks before hands.


Selamat Jalan, Jenderal Besar.. Selamat Menghadap Tuhan.

Bayangkan anda diangkat jadi seorang pemimpin perusahaan, kas perusahaan kosong dan minus, karyawan terpecah belah, banyak kubu senior manajemen yg saling berseteru, share holders berteriak2 pada saudara menuntut hak mereka. Ditambah lagi bayang2 sang CEO lama yg masih sangat berpengaruh.


Apa yg bakal anda lakukan?

Sekarang ganti posisi itu dengan presiden RI di tahun 1966.
Kurang lebih itulah yg dihadapi pak Harto. Puyeng? pasti.

Tahun 1980-an masa keemasan RI, ekonomi tumbuh dengan laju yg fantantis serupa dengan yg sekarang dinikmati cina. Harga stabil, laju inflasi terkendali, kebutuhan dasar terpenuhi, pendidikan masih terjangkau, kesehatan relatif merata, pertumbuhan infrastruktur terus meningkat.

Pendeknya Indonesia telah menjelma menjadi macan Asia dengan prospek yg sangat cerah di masa depan.

Kurang lebih begitulah pendapat rekan2 di kantor di negara-pulau ini. Bagi mereka apa yg Pak Harto lakukan untuk Indonesia begitu fantastis serupa dengan apa yg LKY telah lakukan bagi singapura hingga seperti sekarang.

Rekan2 ini tak habis pikir kenapa di saat2 terakhirnya Pak Harto tidak mendapat perlakuan yg selayaknya. Malah dikejar2 bak seorang kriminal.

Kami2 para TKI hanya bisa tersenyum saja mendengar tuduhan 'tidak tahu terimakasih' dari mereka.

Mungkin memang wajar kalau mereka tidak perlu hirau untuk mencari tahu bagaimana bedanya bumi dengan langit perlakuan terhadap Pak Harto dan perlakuan terhadap Bung Karno di saat2 terakhirnya.

Tapi yg bikin tergelitik adalah banyak orang Indonesia sendiri yg seakan menyayangkan bergantinya pemerintah dan menyalahkan semua keterpurukan Indonesia saat ini sebagai akibat dari digantinya Pak Harto.

Wah..wah.. Pak Harto memang berhasil membuat kita berswasembada pangan, tapi beliau juga menyebabkan ribuan petani cengkeh mati merana. Pak Harto berhasil menekan harga kebutuhan pokok, tapi beliau juga menyebabkan setiap anak bayi yg terlahir dari bumi Indonesia ini menanggung beban hutang luar negeri.

Lantas apa hebatnya? LKY meniru gaya yg sama dalam membangun singapura, tapi beliau tidak meninggalkan beban hutang! Mahattir juga berproyek untuk kebanggaan malaysia dengan petronas dan proton-nya, tapi ia tidak membuat perusahaan2 yg jago kandang dan korup!

Kesalahan terbesar Pak Harto bagi bangsa Indonesia menurut saya adalah dengan mengadopsi budaya feodalisme ke dalam pemerintahan dan menyuntikkannya ke nadi bangsa.

Rakyat bangsa ini jadi penakut untuk bicara, jadi terbiasa menunduk menyembah2 atasannya walaupun salah, rakyat bangsa ini jadi orang yg kerdil ketika berhadapan dengan orang asing. Budaya feodalisme ala Raja Jawa inilah yg menarik Indonesia mundur sekian puluh tahun ke belakang walaupun bangunan fisiknya maju menjulang.

Tak kurang Prof Selo Soemardjan dan Bapak Soedarpo Sastrosatomo pun menyatakan hal yg sama. Bahwa dosa terbesar Suharto bagi bangsa ini adalah mengadopsi budaya feodalisme Jawa ke dalam pemerintahan.

Menumpulkan pemikiran kritis dan berbeda pendapat (yang sudah ada sejak jaman Bung Karno-Hatta) dan melahirkan pribadi2 penurut yg tidak punya daya saing selain menunggu apa mau atasan.

Penyakit warisan ini yg bikin bangsa ini tak lepas2 dari krisis hingga sekarang.

Kalau sudah begini apa perlu bagi kita untuk 'tau berterimakasih' pada pemimpin yang menyebabkan ini semua?


Mohon maaf, masa2 Orde Baru adalah masa yg indah. Pendidikan terjangkau. Harga stabil. Tapi apalah artinya kalau itu semua semu?
Semuanya dibangun dari hutang. Hutang yg tak dipersiapkan untuk dibayar dengan baik.
Hutang yg sebagian besarnya mengalir ke kantong para pemimpin rakyat.

Sementara rakyatnya dibuai dengan pendidikan terjangkau, laju ekonomi yg tinggi, harga yg stabil, pekerjaan melimpah.

Ibarat orang yg berkaca dan melihat dirinya berwajah mulus ditata salon, berpakaian mewah dan enak dilihat, wangi lagi harum.. tapi semuanya itu dibeli dengan kartu kredit.

Seorang necis, rapi, tampan gagah tapi penuh hutang.

Apalah artinya?