Friday, August 12, 2005

Bikin SIM

Seumur hidup baru dua kali saya mengurus surat ijin mengemudi (SIM).
Sekali tahun 1995 waktu baru lulus SMA, yang kedua kali 2005 kemarin setelah saya kerja.

1995 - baru lulus SMA

Penuh semangat idealisme yg tinggi khas mahasiswa baru, saya memutuskan untuk meluangkan satu hari penuh untuk bikin SIM. Pagi2 jam 7.30 saya sudah nongkrong di depan loket formulir SIM (belum ada orang). Okelah.. tak tinggal nyari sarapan dulu.

Balik-balik jam 8.30 lewat dikit loket sudah dibuka, baru ada beberapa orang yg ambil formulir. Saya ikutan. Isi formulir-motokopi ktp-bla..bla..bla..selesai. kembalikan formulir dan tunggu dipanggil untuk tes.

Lagi asik2 nunggu, seorang polisi berwajah ramah menawarkan "jasa".
Sempat mengiyakan tapi gak sampai lima menit saya batalkan ke polisi itu.
Agak2 berwajah murung, dia masuk ke petugas bagian formulir membisikkan sesuatu.

Dipanggil tes tulis.
Soalnya sedikit dan gampang sekali. Wong semalem sudah ngapalin buku rambu2 dan peraturan kok. Tapi tau gak? dari 20 soal saya cuma benar TIGA!!!!
Whatta f**k?

ngotot2 saya minta diliatin lembar jawaban saya berikut kunci jawaban, itu polisi berkumis tebal melotot. "Kamu gak percaya saya!?!"
weish jancuk. ini bukan masalah percaya gak percaya, Pak.. (dlm hati)
"Udah kalau mau lulus bayar sinih 10ribu"
(wanjrit. duit segitu jaman 1995 masih besar nilainya.)

Pasrah.. saya (tak) relakan duit ceban melayang.

ok trus selanjutnya tes kesehatan. Dan saudara2.. saya dinyatakan SEHAT.
Tapi tetep bayar sepuluh ribu.. "nebus surat keterangannya", gitu kata si petugas.
:D edhian..

Selanjutnya nunggu dipanggil...
.............. 11.00 WIB
.............. 12.00 WIB
.............. 14.00 WIB
.............. saya mulai gelisah.. mosok antri dari pagi tapi gak dipanggil2 sementara ada congor2 baru yg dateng siangan sambil dianter polisi2 berseragam mendadak masuk, dipoto, trus keluar dengan berseri2.

.............. 16.50 WIB "Eky Kurniawan!"

(yang ada di seantero kantor itu tinggal saya dan seorang polisi bagian pemotretan bernama Made something.)
17.00 WIB selesai sudah semua.
Bayangkan saya orang ketiga yang datang dan ambil formulir, tetapi menjadi orang TERAKHIR yang selesai.

Diaaaaaaaaanccuuuuuukkkkkk!!!

penuh kekesalan satu2nya motor polisi yg diparkir di halaman belakang Polres Cirebon saya kempeskan dan buang spuyer karburatornya.

(mohon maaf. memang anarkis, tapi apa polisi aja yg boleh anarkis?)


2005 - Bikin SIM 2 sesudah kerja

Poltabes Lampung. Mengingat pengalaman buruk yg dulu saat bikin SIM pertama (agak2 trauma sehingga saya tidak pernah lagi bikin SIM dan memutuskan untuk kucing2an/akal2an setiap ada operasi) , saya pasrah aja wkt ditawari seorang calo-polisi untuk "dibantu".

Ternyata sama saja. Saat menunggu giliran foto yg terjadi adalah kuat2an Calo. Siapa yg calonya perwira akan dipanggil lebih dulu. wasoe.. calo gue kl gak salah cuma tamtama... :(

Semua orang jadi calo, petugas jaga di pos depan "melindungi-melayani" itu, petugas pemeriksa kesehatan, polwan bagian sim, petugas formul sim, polisi bagian pemotretan sim, kanitlantasnya -- namanya mirip The King of Rock and Roll, polisi sabhara yg baru lulus pendidikan masih culun2, dan bahkan tukang potokopi!

Semua dengan tanpa malu2 mondar-mandir sambil mengawal orang yg dicaloinya melewati antrian orang banyak yg sudah menunggu dari pagi. Si orang yg dicaloi ini lantas didudukkan di barisan paling depan antrian untuk kemudian tanpa malu2 si petugas berkata lantang,
"Yang namanya saya panggil silakan maju untuk difoto. Panggilan sesuai urutan antrian!"

"XYZ..!!" (orang yg tadi didudukkan paling depan maju.)

Asoe. Urutan antrian my ass.... gue udah gk kenal lagi tampang orang2 yg ada. semua wajah baru. udah beda sama orang2 yg bareng2 gua dari pagi2 jam 10 tadi.

Seorang gadis -mahasiswi sepertinya-- yang saya perhatikan mengurus sendiri semuanya tanpa calo dan satu2nya wajah familiar yg bareng2 saya dari pagi akhirnya tak tahan lagi. Dia nanya ke petugas administrasi yg duduk di depan. Kenapa kok gk dipanggil2 dari pagi?
"Ya memang lama.. kan semua ada prosedurnya. antri" bla..bla..bla..

ANTRI??!! teriak si gadis tak tahan lagi. "saya sudah duduk disini dari pagi, mas! ini orang semua datang2 langsung masuk foto itu gimana??!! saya harus antri gimana lagi??!!!"

Kesal. si gadis pergi sambil menahan geram. Si petugas cuma senyam-senyum sambil noleh ke antrian, "Biasa.. perempuan.." (WHATTA FUCK!! isnt your mother also a woman????!!)

Akhirnya setelah lama menunggu, sukses2 saya dipanggil jam 3 sore!!!!!
itupun setelah saya marah2 di depan semua orang yg antri en polwan penjaga yg awalnya sok wibawa akhirnya memutuskan untuk "mencari" berkas saya di tumpukan paling bawah!

Diangkrik. SIM baru bisa diambil setelah satu bulan karena ketiadaan material pembuatan.
Loh??? tau gini kan mending gua urus sendiri dari tadi.... :((


-----------

Kesimpulan:
1. Buatlah SIM melalui calo. Kecuali anda siap mental, waktu, fisik dan materi untuk membikin sendiri.
2. Ketika memilih calo, lihat-lihat dulu pangkatnya dan jabatannya. Akan lebih cepat bila calo anda seorang perwira dan sukur2 perwira bagian SIM.
3. Pakailah pakaian yg jelek, pinjam HP teman/sodara yg butut, dan simpan uang pas (sesuai "jasa" calo) di dompet. Insya Allah anda akan selamat dari pemerasan babak lanjut.
4. Siapkan uang sepuluh ribuan, limaribuan dan duapuluh ribuan yg banyak buat "salam tempel".
5. Banyak2 berdoa pada Tuhan.

Oh ya.. Jangan percaya pada tulisan gede2 di tiap kantor polisi "JANGAN MENGURUS SIM MELALUI CALO". Tulisan itu bohong.

Percayalah, polisi kita sangat ringan tangan dan baik hati membantu. Selama kita juga "ringan tangan" dan "baik hati" membantu mereka.

Melindungi dan Melayani (Dompet sendiri)

Ada yang aneh dengan sistem pelayanan hukum di negara kita.
Orang kehilangan barang-- katakanlah, dompet-- trus melapor ke polisi; berharap sukur2 bisa ditemukan.

Tapi sampai di kantor polisi, setelah dicatat dan dapat surat keterangan kehilangan.
Kita disuruh.... bayar. :D nah loh!
Kebayang gak sih kalo ini orang bener2 kehilangan duit tinggal pakaian lekat di badan, trus bingung gimana mau pulang. Berharap ada titik terang dengan melapor ke polisi, dan malah ketiban sial disuruh... b.a.y.a.r....!

Aneh..

Si polisi tanpa ekspresi apa2... gak ada turut simpati, ngerasa malu (karena gak bisa numbuhin rasa aman bagi si korban), atau apa kek gitu yg humanis. eh malah dengan wajah dingin, tanpa senyum bilang, "Bayar sepuluh ribu untuk suratnya".

Sepuluh ribu kalo orang bener2 kecopetan gak punya duit trus bakal dateng darimana?
turun dari langit?????

Aneh..

Bingung gue... itu polisi2 apa gak ada otaknya atau gimana yah? kok mereka gak kepikiran sih untuk empati?

(kalo ada pembaca yg polisi membaca tulisan ini pasti bilang "ah itu kan cuma oknum... ah, saya belum dapat laporan tuh. dimana itu kejadiannya coba sebutkan nama beserta pangkat supaya saya tindak... bla...bla...bla...." bener2 nunjukin kosongnya isi kepala. huh.)

Kasihan Polisi

Kilap lencana penuh wibawa.
Semu.
Lagak jalan penuh kuasa.
Narsis.

O' kasihan sekali kau polisi-polisiku.
Sangkamu sapa ramah dan anggukan hormat
dari orang-orang kecil benar-benar karena mereka
mencintaimu??
Never!

Kami sapa karena terpaksa.
Kami hormat karena kami turut pada aturan yang kalian buat
dan kalian langgar sendiri!

Kalau boleh kami memilih
seribu cacimaki terlontar ke mukamu
Kalau boleh kami memilih tak perlulah berurusan denganmu
bahkan sekedar melihat warna coklat seragam kalian sekalipun.
Sungguh.

Kalau boleh kami memilih tak perlu kalian pernah ada di muka bumi ini!

Tapi sayang, kami tak punya pilihan.
Kami hanya rakyat kecil tak punya hak apa-apa di negara hutan rimba ini.
Jadi terpaksa-- ya, terpaksa-- kami lontarkan senyum dan ramahtamah palsu itu.

Walau ingin rasanya kalian tahu.
Sampai matipun tak pernah akan kalian dapatkan hormat dan cinta itu!

Terkutuklah dan kasihan kalian polisi-polisiku.


(Satlantas Mapoltabes Lampung, 8 Agustus 2005)

*Didedikasikan bagi para warga yang berniat baik untuk memiliki SIM dan menjadi bahan permainan sapi perah bagi polisi-polisi (maaf saya TIDAK pakai kata 'oknum') brengsek di negeri ini.