Sunday, January 30, 2005

Dimana Lagi

Dimana lagi kan kau temui
wanita berbudi seluhur dia
Ditanggungnya semua malu itu
semata demi dirimu

Dimana lagi kan kau dapati
wanita berhati selembut dia
Ditahannya semua sakit
demi memaafkan dirimu

Dimana lagi kan kau cari
wanita seperti dia?
Yang sanggup menyimpan derita
dan menggantinya dengan senyuman
di bibir serta uluran tangan
hangat yang selalu menyambut
Di kala datang segala badai angkara
dalam diri kerdilmu

Dimana lagi ia kan kau cari?

Tak juakah kau sadar
Ialah wanita yang diimpikan
Lord Byron kala menulis puisi-puisinya?
Tak juakah kau lihat
Ialah wanita yang menjelma Josephine
bagi Sang Kahlil dari Bestari?

Ialah wanita yang melahirkan anak-anakmu.


(Pejompongan, 23 November 2004. 23.57 WIB)

Saturday, January 29, 2005

Senja

Hari ini pulang cepat. “Pulang masih ketemu matahari”, istilah anak-anak selama ini.
Jadi bisa menikmati suasana sore yang menyenangkan. Aku selalu suka suasana sore hari –senja kalau istilahnya Seno Gumira Ajidharma. Sudah lama soalnya nggak punya kesempatan bertemu senja.

Makan soto daging betawi yang enak di jalan mulia, melihat anak-anak bermain sepeda berbonceng bertiga dengan senangnya. Orang-orang tua yang sedang asyik berbincang ngalor-ngidul soal apa saja. Anak-anak muda selesai mandi yang duduk-duduk sambil menunggu datangnya magrib.

Aku selalu suka suasana senja. Entah kenapa senja selalu terasa lebih menyenangkan dibandingkan pagi yang penuh ketergesaan. (apalagi pagi di Jakarta). Senja seakan selalu menyambut hangat setiap orang yang pulang setelah letih seharian bekerja (sebenarnya waktu masih kerja shift dulu saya juga tetap lebih suka berangkat kerja di senja hari daripada bermalas-malas memaksa diri bangun dan pergi di pagi hari). Ah, senja memang selalu penuh kehangatan. Senja juga indah. Mungkin memang harus indah supaya semua orang seperti saya bisa tersadar untuk sering-sering pulang cepat menikmatinya.


18 Januari 2005, di perjalanan pulang dari Jalan Mulia – Jalan Administrasi Negara I; Pejompongan.

Saturday, January 01, 2005

Renungan Tahun Baru

Malam yang indah di penghujung Desember.
Kembang api beterbangan.
Terompet-terompet ditiup bersahutan
Sorak-sorai ramai penuh keriangan

Aku tersenyum memandang bulan.
Lengkung sabit indah yg seakan sedang tersenyum

Tersentakku tiba-tiba..!
Tuhan, bukankah ini bulan sabit yang sama
yang juga menyinari saudara-saudaraku di Aceh?

Selamat Tahun Baru 2005.
:’(


(Jatibening depan rumah Irwan, 1 January 2005 00:01 WIB)